Hayuning Ratri Hapsari | Fauzah Hs
Terdakwa kasus dugaan korupsi pengadaan Chromebook dalam program digitalisasi pendidikan di Kemendikbudristek Nadiem Anwar Makarim saat menjalani sidang pembacaan pledoi (nota pembelaan) di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Selasa (2/6/2026). [Suara.com/Alfian Winanto]
Fauzah Hs

Sidang pembacaan nota pembelaan atau pleidoi Nadiem Makarim di Pengadilan Tipikor Jakarta kemarin mendadak diwarnai insiden tak terduga yang langsung memicu kehebohan. Di tengah atmosfer persidangan yang tegang, pasokan listrik ke ruang sidang tiba-tiba terputus.

Menariknya, pemadaman ini tidak terjadi di awal atau di akhir sidang, melainkan tepat di "gong" argumen pembelaan yang sedang dibacakan oleh sang mantan menteri. Kontan saja, insiden ini langsung memicu berbagai spekulasi liar di jagat maya.

Sobat Yoursay, kalau kita bedah kronologinya, insiden mati lampu ini memang memiliki timing yang sangat dramatis. Saat itu, Nadiem sedang berdiri di podium, membacakan dokumen pleidonya dengan saksama di hadapan majelis hakim. Ia tengah mengarahkan perhatian semua orang di ruang sidang pada apa yang ia sebut sebagai salah satu bukti terkuat untuk mementahkan tuduhan yang diarahkan kepadanya.

Bukti kuat yang dimaksud Nadiem adalah sebuah rekaman atau catatan percakapan pribadi antara dirinya dengan seseorang bernama Ibam Arief, yang terjadi pada Agustus 2020. Menurut narasi pembelaannya, percakapan dua bulan setelah tim teknis memutuskan penggunaan sistem operasi tertentu itu sangat penting untuk memperjelas duduk perkara kasus yang menjeratnya.

Nadiem bahkan sempat melontarkan kalimat penegasan, "Mohon diingat, Yang Mulia..." Namun, belum sempat kalimat tersebut diselesaikan dan rincian percakapan itu diuraikan, proyektor dan seluruh sistem pencahayaan di ruang sidang langsung padam. Ruangan sempat hening sejenak sebelum riuh oleh bisikan kebingungan dari para pengunjung sidang. Hakim ketua pun terpaksa mengetuk palu untuk menskors persidangan sementara waktu demi menunggu pasokan listrik kembali normal.

Sobat Yoursay pasti sudah paham betul bagaimana tabiat netizen Indonesia kalau melihat momentum sedramatis ini. Begitu video detik-detik matinya listrik di ruang sidang Tipikor itu beredar di media sosial, kolom komentar langsung diserbu oleh ribuan opini. Maklum saja, masyarakat kita memang memiliki kepekaan yang tinggi, terutama jika menyangkut kasus hukum publik yang melibatkan tokoh besar.

Banyak netizen yang langsung mengaitkan insiden ini dengan teori konspirasi tingkat tinggi. Muncul selentingan komentar seperti, "Waduh, ini ada unsur sabotase kah?" atau "Kok pas banget ya, pas mau buka bukti penting langsung dimatiin saklarnya?" Bagi sebagian orang yang skeptis, insiden ini dianggap terlalu "pas" untuk sekadar disebut sebagai kebetulan teknis. Ada kecurigaan bahwa ada pihak tertentu yang enggan isi percakapan pribadi pada Agustus 2020 tersebut dikuliti secara transparan di ruang sidang.

Sobat Yoursay, kita tentu harus pandai-pandai menyaring informasi. Hingga saat ini, belum ada bukti valid atau informasi resmi dari pihak otoritas pengadilan maupun PLN yang menunjukkan adanya unsur kesengajaan atau sabotase di balik padamnya listrik tersebut. Gangguan teknis pada sistem kelistrikan gedung bertingkat atau pemadaman sesaat dari gardu pusat adalah hal yang lumrah terjadi di kota-kota besar.

Meskipun begitu, kita juga tidak bisa menyalahkan masyarakat yang telanjur curiga. Mengapa? Karena dalam sejarah hukum dan politik kita, persepsi publik sering kali dibentuk oleh momentum. Ketika sebuah gangguan teknis terjadi di momen yang sangat penting, secara psikologis publik akan langsung mencari polanya. Ini adalah bentuk kontrol sosial sekaligus indikasi bahwa masyarakat sangat mengawal jalannya kasus ini.

Sisi positifnya, insiden mati lampu ini justru membuat perhatian publik terhadap isi pleidoi Nadiem Makarim menjadi berlipat ganda. Orang-orang yang tadinya mungkin kurang tertarik dengan detail persidangan, kini justru menjadi penasaran, sebenarnya apa sih isi percakapan Agustus 2020 antara Nadiem dan Ibam Arief yang sempat tertunda karena mati lampu itu?

Kalau menurut pandangan Sobat Yoursay sendiri bagaimana melihat fenomena ini? Apakah kamu tim yang menganggap ini murni gangguan teknis apes, atau kamu punya analisis tersendiri soal timing mati lampu yang super pas ini?