Hayuning Ratri Hapsari | Fauzah Hs
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa (kemenkeu.go.id)
Fauzah Hs

Dinamika pasar spot pada penutupan perdagangan Selasa, 26 Mei 2026, menorehkan catatan kelam baru saat nilai tukar Rupiah terdepresiasi 53 poin hingga bertengger di level Rp 17.796 per Dollar AS. Angka yang nyaris menyentuh Rp 17.800 ini jelas memicu kecemasan yang masif di tengah masyarakat.

Menariknya, dalam sebuah momen di kawasan Masjid Salahuddin Kantor Pusat DJP sehari setelahnya, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa melontarkan sebuah kelakar jujur di hadapan awak media dengan mengakui bahwa situasi tersebut ikut membuatnya stres. Beliau menilai pelemahan yang terjadi saat ini sangat tidak masuk akal karena jika menilik indikator fundamental ekonomi Indonesia, kondisinya diklaim masih dalam keadaan yang sangat kuat dan baik-baik saja.

Sobat Yoursay, pengakuan jujur dari seorang bendahara negara yang ikut merasakan "stres" akibat pergerakan mata uang ini tentu terasa sangat manusiawi. Namun, jika seorang menteri yang memiliki akses penuh terhadap instrumen kebijakan saja sudah mulai merasa pening, bayangkan apa yang berkecamuk di kepala masyarakat kelas pekerja, ibu rumah tangga, dan para pelaku usaha kecil di level bawah.

Kondisi inilah yang menjadi bukti nyata adanya kesenjangan empati yang kerap memisahkan antara para pembuat kebijakan dan masyarakat luas. Ketika pemerintah sibuk menenangkan pasar dengan narasi bahwa fundamental ekonomi kita masih kokoh, rakyat di lapangan justru sedang berdarah-darah menghadapi realitas kenaikan harga barang akibat melemahnya daya beli mata uang kebanggaan kita.

Otoritas keuangan sering kali menunjukkan sikap menyangkal dan defensif, lalu sengaja berlindung di balik deretan istilah makroekonomi yang rumit guna mengaburkan realitas yang sebenarnya terjadi di masyarakat. Mengatakan bahwa pelemahan ini tidak masuk akal karena ekonomi kita baik-baik saja seolah mengindikasikan bahwa kritik dan kekhawatiran yang dilayangkan oleh publik dianggap sebagai angin lalu atau kepanikan yang tidak berdasar.

Sobat Yoursay, kita perlu meluruskan bahwa ketika masyarakat atau para analis memberikan peringatan, tujuannya bukanlah untuk menjatuhkan kredibilitas pemerintah. Warning atau peringatan dini yang disuarakan oleh publik adalah sebuah ikhtiar bersama agar kita sebagai satu bangsa tidak bersama-sama terperosok ke dalam jurang krisis yang lebih dalam.

Menteri Keuangan memang memastikan bahwa pemerintah belum perlu melakukan hitung ulang atau stress test terhadap APBN karena simulasi pelemahan kurs dan kenaikan harga minyak dunia diklaim sudah diantisipasi sebelumnya. Kita tentu mengapresiasi kesiapan dokumen anggaran tersebut, termasuk intervensi pemerintah di pasar Surat Berharga Negara yang berhasil menjaga pasar obligasi tetap terkendali di mata investor asing. Namun, APBN yang aman di atas kertas tidak serta-merta menjamin piring makan masyarakat terisi dengan harga yang sama. Fakta bahwa biaya produksi manufaktur domestik mulai merangkak naik akibat mahalnya komponen impor adalah bom waktu yang pelan tapi pasti akan meledak dalam bentuk kenaikan harga barang konsumsi harian.

Kritik publik terhadap pengelolaan anggaran dan jalannya pemerintahan yang aman dan hati-hati seharusnya dipandang sebagai aset kontrol sosial yang berharga, bukan sebagai serangan politik yang mengganggu. Kepercayaan publik tidak bisa dibangun hanya dengan meminta masyarakat untuk terus memaklumi kondisi, sementara realitas di dompet mereka menunjukkan arah yang sebaliknya.

Sobat Yoursay, kita semua tentu menaruh harapan besar pada janji susulan yang disampaikan oleh Pak Purbaya, bahwa ke depan akan ada tindakan lanjutan dari pemerintah yang diklaim mampu mendongkrak nilai tukar Rupiah secara signifikan.

Guncangan kurs yang menembus angka Rp17.800 ini menjadi batu ujian terbesar untuk mengukur sejauh mana transparansi komunikasi dan kepekaan sosial dalam tata kelola anggaran negara kita. Jika menteri keuangan saja sudah mengaku stres, maka sudah saatnya pemerintah mendengarkan kritik masyarakat dengan dada yang lapang dan pemikiran yang terbuka. Mengembalikan kepercayaan publik tidak bisa dilakukan dengan retorika kebal krisis, melainkan dengan pembuktian bahwa setiap rupiah dalam APBN benar-benar digunakan secara bijaksana untuk melindungi rakyat dari dampak terburuk inflasi global.

Sobat Yoursay, mari kita kawal bersama janji pemerintah ini, sembari tetap menjaga daya tahan finansial pribadi secara mandiri di tengah situasi yang menuntut kita untuk saling menjaga ini.