M. Reza Sulaiman | S. Fajrin
gambar ilustrasi, laki-laki bunuh diri di jembatan Cangar-Malang. (Generative AI)
S. Fajrin

Pada bulan April 2026, media sosial digemparkan dengan berita seorang laki-laki muda yang ditemukan meninggal dunia. Diduga ia mengakhiri hidupnya sendiri. Tidak ada yang benar-benar tahu isi kepalanya pada menit-menit terakhir. Yang kita pahami adalah tempat tersebut bukan pertama kali menjadi lokasi peristiwa serupa.

Ketika melihat data, ada satu hal yang cukup menarik, yaitu perbedaan angka bunuh diri antara laki-laki dan perempuan yang sebagian dipengaruhi oleh metode pencatatan; sebagian berbasis laporan resmi dan sebagian lainnya estimasi. Sepanjang 2025, tercatat hampir 1.500 kasus bunuh diri di Indonesia, atau lebih dari 100 kasus per bulan. Tapi itu baru yang dilaporkan. Banyak kasus tidak pernah tercatat, entah karena rasa malu atau takut dianggap aib.

Lalu kenapa ini begitu sering terjadi pada laki-laki? Ini bukan sekadar pertanyaan statistik, tapi pertanyaan yang hidup di rumah, tempat kerja, kafe, dan di perjalanan larut malam. Fakta menunjukkan bahwa laki-laki menjadi mayoritas korban tersebut. Di Kota Malang misalnya, hampir 95 persen kasus yang ditangani melibatkan laki-laki. Secara nasional, rasionya mencapai lebih dari dua banding satu. Dari sekitar 6.500 kasus bunuh diri di Indonesia, hampir 5.100 terjadi pada laki-laki atau sekitar 78 persen. Berarti dari setiap empat orang, tiga di antaranya adalah laki-laki.

Beban Maskulinitas dan Budaya Diam

Persoalannya tidak berdiri pada satu sebab. Tekanan ekonomi, keterbatasan akses layanan kesehatan mental, hingga kesepian sosial ikut mempersempit ruang bertahan. Terdapat juga akar yang tak kalah kuat, yaitu cara membesarkan laki-laki. Sejak kecil, mereka dididik untuk tidak cengeng, harus kuat, dan tidak banyak bercerita, sehingga mereka tumbuh dengan keyakinan bahwa meminta pertolongan adalah tanda kelemahan.

Tercatat lebih dari 1,4 juta laki-laki mengaku memiliki gangguan kesehatan mental. Seperempat dari mereka mengalami depresi, burnout, atau krisis makna, namun hanya sekitar 18 persen yang mengakses layanan. Artinya, lebih dari satu juta laki-laki sakit dalam diam. Diam itu bukan pilihan, melainkan tuntutan. Budaya maskulinitas seakan menjadi beban mental yang nyata. Laki-laki enggan melapor dan berbagi karena takut dianggap lemah, padahal semua itu sangat manusiawi. Bahayanya justru ketika semuanya dipendam sendirian, karena laki-laki cenderung menyimpan, bukan mengungkapkan. Mereka menimbun dalam diam hingga suatu hari meledak tanpa suara.

Tinjauan Psikologi Adler: Harga Diri dan Ekspektasi

Untuk memahami ini lebih dalam, kita bisa melihatnya dari sisi psikologis. Dalam pandangan Alfred Adler, manusia didorong oleh keinginan untuk merasa berarti. Masalah muncul ketika rasa berarti itu sepenuhnya bergantung pada penilaian orang lain. Pada banyak laki-laki, dorongan ini dibentuk oleh pesan budaya sejak kecil: bahwa mereka berarti jika kuat, diakui jika tidak mengeluh, dan dianggap berhasil jika mampu menopang diri serta orang lain.

Dalam kondisi itu, usaha untuk menjadi kuat bisa berubah menjadi penolakan terhadap kelemahan. Rasa takut ditutupi dengan tuntutan untuk selalu terlihat tangguh, dan penerimaan sosial menjadi satu-satunya ukuran harga diri. Saat harga diri bergantung pada penilaian orang lain, hidup menjadi rapuh. Sekali gagal memenuhi ekspektasi, seluruh pijakannya akan runtuh. Kegagalan tidak lagi sekadar peristiwa, tetapi berubah menjadi identitas diri. Misalkan laki-laki yang kehilangan pekerjaan; ia tidak hanya kehilangan penghasilan, tapi juga identitas sebagai penopang. Yang ambruk bukan sekadar rencana, melainkan alasan untuk tetap bangun pagi.

Pentingnya Social Interest (Rasa Keterhubungan)

Lebih jauh, yang sering hilang adalah rasa keterhubungan dengan orang lain atau kemampuan untuk merasa bahwa kita tidak sendirian dan boleh meminta bantuan (social interest). Laki-laki yang dilarang bercerita sebenarnya kehilangan ruang itu. Mereka hidup dengan keyakinan harus kuat sendirian, padahal secara manusiawi, setiap orang membutuhkan orang lain. Kesehatan mental bukan hanya soal kuat, tetapi juga soal merasa tidak sendirian.

Kesehatan mental diukur dari sejauh mana seseorang mampu meleburkan tujuannya dengan kesejahteraan bersama, dan membiarkan dirinya menjadi bagian dari komunitas, bukan pahlawan soliter. Maka, bunuh diri pada laki-laki bukan sekadar putus asa. Ini adalah bentuk final goal yang salah, sebuah tujuan akhir yang tragis. Ketika seseorang merasa tidak mampu lagi mencapai rasa berarti melalui cara yang diakui (prestasi, kekuatan, menopang keluarga), dan social interest-nya mati karena tak pernah dilatih untuk menerima, maka satu-satunya jalan keluar dalam private logic-nya adalah menghapus diri. Bukan karena ia ingin mati, tapi karena ia tak punya bahasa untuk hidup dengan cara lain.

Keberanian untuk Menjadi Manusia

Kita belajar bahwa keberanian bukanlah menjadi kebal. Keberanian adalah berhenti menjalani hidup sebagai pertunjukan untuk orang lain. Bukan berarti menolak orang lain, tapi mengenali batas diri dan melepas hal-hal yang tidak bisa dikendalikan. Keberanian sejati bukan terus-menerus menolak kelemahan, melainkan mengakui bahwa rasa rendah diri ada pada semua orang. Ia juga berarti berhenti berlomba dalam kesendirian dan mulai percaya bahwa meminta pertolongan bukanlah kegagalan, melainkan ekspresi dari social interest yang sehat.

Ini tentu bukan sesuatu yang mudah. Tapi setidaknya ini membuka pintu kecil bahwa nilai diri tidak harus menunggu izin dari orang lain untuk menjadi sah. Hidup tidak harus sempurna dulu untuk layak dijalani. Bukan semata karena hidup terlalu berat, tetapi karena makna hidup terlanjur diletakkan pada hal-hal yang rapuh. Hidup dijalankan terlalu lama untuk memenuhi penilaian sampai akhirnya kehilangan alasan untuk dijalani.

Mungkin yang dibutuhkan bukan jawaban besar, tetapi satu hal kecil: berbicara pada seseorang yang dipercaya, atau mengakui bahwa kita tidak baik-baik saja. Itu bukan kelemahan. Itu cara bertahan. Yang dibutuhkan adalah keberanian untuk mulai mendengar pada diri sendiri atau pada orang di sekitar kita. Tidak semua luka harus disembunyikan. Tidak semua beban harus ditanggung sendirian. Menjadi kuat bukan berarti diam, tapi berani jujur pada diri sendiri. Dan sering kali, di situlah hidup mulai diselamatkan.

Wassalam.