Dulu, perawatan kulit identik dengan perempuan. Lelaki cukup “apa adanya” yang dianggap bagian dari daya tarik maskulin. Namun, lanskap itu perlahan berubah. Rak-rak minimarket kini memajang facial wash khusus pria, serum anti-aging, hingga sunscreen dengan label “for men”. Di media sosial, laki-laki membagikan rutinitas skincare mereka tanpa canggung, bahkan dengan rasa bangga.
Fenomena ini tidak hadir dalam ruang hampa. Ia berkelindan dengan pergeseran cara pandang terhadap maskulinitas itu sendiri. Laki-laki modern tidak lagi harus tunduk pada standar lama yang mengharuskan mereka tampil “keras”, abai pada tubuh, dan menolak segala hal yang dianggap feminin. Perawatan diri mulai dibaca sebagai bentuk self-respect, bukan kelemahan.
Namun, di titik ini, muncul pertanyaan penting: apakah ini benar-benar pembebasan dari konstruksi lama, atau sekadar penggantian standar baru yang lebih halus? Jika dulu laki-laki dituntut untuk tidak peduli pada penampilan, kini mereka perlahan didorong untuk peduli—bahkan mungkin terlalu peduli. Cermin yang dulu diabaikan, kini menjadi arena evaluasi diri.
Perubahan ini memang membuka ruang ekspresi baru, tetapi juga berpotensi menciptakan tekanan baru. Maskulinitas tidak lagi tunggal, tetapi ia juga belum sepenuhnya bebas. Ia hanya bergeser bentuk.
Industri yang Sigap Membaca Peluang
Di balik narasi pembebasan itu, industri kecantikan bergerak cepat. Segmen skincare pria menjadi pasar yang sangat menjanjikan. Brand global hingga lokal berlomba-lomba merilis lini produk khusus pria, lengkap dengan strategi pemasaran yang menyesuaikan psikologi targetnya.
Label “khusus pria” menjadi kunci. Warna kemasan dibuat lebih gelap, aroma dibuat lebih “maskulin”, dan bahasa promosi disesuaikan: bukan lagi “mempercantik”, melainkan “merawat” atau “melindungi”. Ini bukan sekadar kosmetik—ini adalah rebranding kebutuhan.
Menariknya, banyak produk yang secara fungsi tidak jauh berbeda dengan produk uniseks atau perempuan. Namun, diferensiasi dibangun melalui narasi. Seolah-olah kulit pria memiliki kebutuhan yang sepenuhnya berbeda, padahal sering kali perbedaannya tidak signifikan. Di sinilah kapitalisasi bekerja: menciptakan kebutuhan spesifik untuk membuka ceruk pasar baru.
Media sosial mempercepat proses ini. Influencer pria, selebritas, hingga figur publik mempopulerkan rutinitas skincare sebagai bagian dari gaya hidup. Algoritma memperkuat eksposur, sementara konsumen—yang sebelumnya tidak merasa butuh—mulai mempertimbangkan, bahkan merasa tertinggal jika tidak ikut serta. Dalam konteks ini, tren skincare pria tidak bisa dilepaskan dari logika kapitalisme: menemukan, membentuk, lalu memperluas kebutuhan. Apa yang awalnya opsional, perlahan menjadi norma baru.
Antara Agensi Diri dan Tekanan Pasar
Di satu sisi, tren ini memberi ruang bagi laki-laki untuk lebih sadar tubuh, kesehatan kulit, dan kesejahteraan diri. Ini adalah perkembangan yang patut diapresiasi. Perawatan diri tidak lagi dimonopoli oleh satu gender. Laki-laki bisa tampil rapi, bersih, dan terawat tanpa harus merasa kehilangan identitasnya.
Namun, di sisi lain, kita juga perlu waspada terhadap bentuk tekanan baru yang muncul. Standar kulit “sehat”, “bersih”, dan “glowing” mulai merambah laki-laki. Jerawat, kulit kusam, atau tanda penuaan bisa menjadi sumber insekuritas yang sebelumnya tidak terlalu dipersoalkan.
Di titik ini, garis antara kebutuhan dan konstruksi menjadi kabur. Apakah laki-laki membeli skincare karena benar-benar butuh, atau karena merasa harus memenuhi standar baru yang dibentuk industri dan media? Apakah ini bentuk kebebasan memilih, atau hasil dari persuasi yang sistematis?
Pertanyaan-pertanyaan ini tidak memiliki jawaban tunggal. Realitasnya, keduanya bisa berjalan bersamaan. Laki-laki bisa sekaligus mengalami pembebasan dari norma lama dan masuk ke dalam jebakan norma baru. Agensi individu bertemu dengan kekuatan pasar yang jauh lebih besar. Yang menjadi penting adalah kesadaran kritis. Bahwa merawat diri adalah pilihan, bukan kewajiban yang dipaksakan oleh standar eksternal. Bahwa tidak semua tren harus diikuti, dan tidak semua produk harus dimiliki.
Tren skincare pria, pada akhirnya, adalah cermin dari zaman: di mana identitas menjadi lebih cair, tetapi juga lebih mudah dikomodifikasi. Ia bisa menjadi alat pembebasan, tetapi juga instrumen kapitalisasi. Tinggal bagaimana kita memaknainya—sebagai subjek yang sadar, atau sekadar konsumen yang mengikuti arus.
Baca Juga
-
Donasi Buku dan Ilusi Pemerataan Pengetahuan
-
Pertarungan Masyarakat Urban Memperoleh Akses Air Bersih di Sudut Kota
-
Tugas Sekolah di Era AI: Sinyal Belajar Semu dan Sekadar Menyelesaikan?
-
MBG hingga Sekolah Rakyat, Sejauh Mana Negara Berpihak pada Pendidikan?
-
Komersialisasi Pendidikan dan Ketika Solidaritas Publik Menambal Kebijakan
Artikel Terkait
-
Prediksi El Nino 2026 Bikin Suhu Panas Ekstrem, Lindungi Kulitmu dengan 5 Skincare Andalan Ini!
-
4 Tinted Sunscreen SPF 40 untuk Pudarkan Noda Hitam dan Proteksi Sinar UV
-
Budget Tipis? Ini 5 Hydrating Toner Rp30 Ribuan yang Bikin Kulit Auto Lembap
-
Lawan Minyak Berlebih, Ini 4 Face Wash Charcoal Terbaik untuk Pria
-
5 Urutan Skincare Pagi dengan Day Cream dan Moisturizer yang Benar
Kolom
-
Dibalik Seporsi Makanan Online: Jejak Sampah dan Ancaman Iklim yang Kita Abaikan
-
Simak! Ini Modus Baru Penipuan Digital yang Sedang Marak di Indonesia dan Dunia
-
Kiamat Kecil Bernama Baterai Sisa Satu Persen dan Ponsel Ketinggalan
-
Kenapa Gen Z Makin Jarang Memasak? Ini Dampak Tersembunyi di Baliknya
-
Pakai AI untuk Lambang Negara, BRIN Terjebak Kesalahan Fatal yang Tak Termaafkan?
Terkini
-
Dr. Kims Odd Creature: Manhwa Isekai yang Bikin Ngakak Sampai Sakit Perut!
-
Rimba Satir dan Tawa Pahit dalam Buku Dongeng Mbah Jiwo Karya Sujiwo Tejo
-
Film Crayon Shin-chan ke-33 Rilis Trailer Baru, Ungkap Lagu Tema oleh TOMOO
-
Menyusuri Jejak Peradaban Islam di Baghdad Lewat Catatan Hamka
-
Siap-siap Tertawa! Ge Pamungkas Bakal Rilis Stand-up Spesial GOAT di Netflix