Sekolah negeri di zaman dahulu memungut Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP) kepada para siswa. Sementara itu, saat ini pungutan sudah tidak diberlakukan oleh pemerintah semenjak adanya pendanaan Bantuan Operasional Sekolah (BOS).
Kebijakan ini diterapkan agar dapat meningkatkan akses pendidikan, meringankan beban ekonomi, dan membantu keluarga kurang mampu.
Meskipun begitu, kebijakan tersebut tidak sepenuhnya membantu siswa di SMA favorit yang sebelumnya masuk menggunakan jalur zonasi dengan keterbatasan ekonomi, salah satunya yaitu Deden. Ia lahir dari keluarga kurang mampu dan tidak sama dengan sebagian besar teman-temannya.
Jarak rumah dan sekolah favorit yang begitu dekat membuat Deden mau tak mau mendaftar ke sana. Jika ia memilih sekolah yang lebih jauh, peluangnya justru makin kecil karena harus bersaing dengan siswa lain yang jaraknya lebih dekat.
Singkat cerita, saat itu saya sempat satu kelas dengan Deden. Ia duduk di belakang kursi saya di barisan kedua. Deden dikenal sebagai pecatur legendaris yang selalu memenangkan permainan di kelas. Tak ada yang bisa mengalahkannya, gerakan pion yang lincah itu bisa memusnahkan semua pion lawan sekejap mata.
Usai permainan, saya berdebat ringan dengan Deden hanya untuk mengisi waktu luang. Topiknya sederhana, soal pilihan calon presiden. Deden tanpa ragu mengatakan lebih memilih nomor urut dua.
"Kenapa nggak pilih nomor urut satu yang punya program pendidikan gratis, Den?" tanya saya.
“Biar dapat makan bergizi gratis, Ky. Perut kenyang lebih penting daripada pendidikan gratis,” ujarnya santai.
Saya sempat terdiam mendengar jawabannya. Bagi saya, pendidikan adalah jalan untuk meraih masa depan cemerlang. Sementara itu, Deden merasa kebutuhan setiap hari terasa lebih mendesak daripada esok hari atau bahkan masa mendatang. Makan menjadi prioritas bagi dirinya karena untuk makan sehari-hari saja sulit, mungkin dengan adanya program tersebut dapat sedikit meringankan bebannya.
Hari telah berganti. Seragam putih abu itu berganti menjadi batik. Semua siswa sudah memiliki seragam masing-masing saat itu. Akan tetapi, Deden tetap mengenakan seragam putih abu saat masuk kelas. Saya sempat bingung dan bertanya-tanya. Rasa keingintahuan ini membuat saya akhirnya bertanya kepada Deden.
"Den, kenapa masih pakai seragam putih abu? Bukannya sekarang jadwalnya batik?" tanya saya.
"Iya Ky. Kalau punya uang, pasti aku beli seragam," jawabnya sambil tersenyum.
Seketika saya tertegun mendengar balasannya. Senyum itu tampak biasa, tetapi menyimpan luka yang begitu mendalam. Ternyata di tengah kebijakan yang katanya meringankan beban, masih ada hal-hal kecil yang luput dari perhatian.
Selain itu, jika ada acara sekolah yang membutuhkan biaya, kelas saya sering kali tidak meminta Deden untuk patungan karena kami tahu keadaan ekonominya. Biarpun begitu, ia tetap membayar kas kelas seperti yang lain—seolah ingin tetap berdiri sejajar, meski kondisinya tidak baik-baik saja.
Bagi Deden, sekolah gratis mungkin hanyalah ilusi belaka. Mulai dari patungan yang hampir selalu ada setiap bulan untuk berbagai kegiatan sekolah, tugas nge-print di fotokopi, dan masih banyak lagi.
Oleh sebab itu, saya mulai memahami bahwa "gratis" tidak selalu berarti tanpa biaya. Ada berbagai pengeluaran kecil yang tak disadari, tetapi justru terasa besar bagi mereka yang hidup dalam keterbatasan.
Deden bukan satu-satunya, di luar sana mungkin ada banyak "Deden" lain yang tetap berjuang diam-diam—berusaha mengikuti ritme yang sama, meski langkah mereka tertahan oleh keadaan.
Selama hal-hal kecil itu masih dianggap sepele, maka "gratis" akan tetap menjadi omong kosong bagi mereka yang paling membutuhkan.
Baca Juga
-
Dibalik Murahnya Harga Cilok dan Batagor, Ada 'Bom Waktu' Ekonomi yang Mengintai
-
Mungkinkah Prabowo Dua Periode Lewat Politik Gentong Babi?
-
Bimbel Bukan Jaminan Sukses, Lalu Untuk Apa Semua Lelahmu Selama Ini?
-
Mau ke Garut? Ini 4 Tips Naik Kereta Lokal yang Jarang Diketahui Penumpang
-
Mengayuh Inspirasi ke Sekolah: Konsistensi Guru Matematika dalam Gaya Hidup Bike to Work
Artikel Terkait
-
Gratis Itu Relatif, Setidaknya Itu yang Saya Pelajari dari Sekolah Negeri
-
Mahalnya Harga Pendidikan: Ketika Pengorbanan Menjadi Satu-satunya Jalan
-
Viral Video Guru dan Siswi Berkelahi Saling Jambak Kerudung di Kelas, Sungguhan atau Belajar Akting?
-
Kata Pejabat Sekolah Negeri Itu Gratis? Tapi Fakta di Lapangan Berkata Lain
-
Ketika Sekolah Gratis Hanya Wacana: Catatan Keprihatinan yang Belum Usai
Kolom
-
Olahraga Pagi dan Kesehatan Mental: Kebutuhan atau Sekadar Tren?
-
Paket Datang, Bahaya Tak Terbilang: Sisi Gelap Sampah Belanja Online
-
Jangan Hanya Konsumen: Less Waste Juga Harus Dimulai dari Produsen
-
Rupiah Jeblok, Netizen Desak Tunda Makan Gratis dan Proyek Mercusuar
-
Polemik Modifikasi Kurikulum, Kenapa Lulusan Masih Sulit Siap Kerja?
Terkini
-
Mirip iPhone 17 Pro? Itel A200 Hadir dengan Harga Cuma Sejutaan
-
Kisah Dua Sisi di Lembah Hijau: Rahasia di Balik Rumah Busuk
-
Tayang Juni 2026! The Bear Season 5 Soroti Upaya Carmy Selamatkan Restoran
-
Mantanku Si Paling Playboy Satu Sekolah
-
Porsche Sulap Woody dan Buzz Lightyear Jadi Mobil Sport Jelang Toy Story 5