Pendidikan di Indonesia sering digadang-gadang sebagai hak setiap anak. Sekolah disebut sebagai jalan untuk memperbaiki masa depan, memutus rantai kemiskinan, dan memberi kesempatan hidup yang lebih baik di masa depan. Karena itu, berbagai kebijakan pun terus digaungkan agar akses pendidikan semakin terbuka. Namun, di banyak keluarga dengan keterbatasan ekonomi, hak tersebut tidak selalu bisa dinikmati bersama.
Ada kalanya, pendidikan justru berubah menjadi sesuatu yang harus dibayar dengan pengorbanan yang menyakitkan: salah satu anak harus mengubur mimpinya untuk lanjut ke jenjang pendidikan lebih tinggi agar anak yang lain bisa melanjutkan sekolah.
Gambaran tersebut nyata terjadi dalam sebuah keluarga. Sebut saja namanya Karim. Dia adalah anak pertama dari keluarga sederhana dengan jumlah adik yang tidak sedikit. Ayahnya seorang pekerja harian dengan penghasilan yang bahkan terkadang belum cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sementara sang ibu terkadang juga bekerja serabutan membantu beberapa tetangga demi menunjang kebutuhan rumah tangga.
Dalam keadaan seperti itu, sekolah bukan lagi sekadar urusan seragam, buku, alat tulis atau uang saku. Bukan pula sekadar tempat menuntut ilmu. Ia menjelma menjadi kemewahan yang tidak mampu dijangkau semua anak dalam rumah yang sama.
Puluhan tahun lalu, Karim harus merelakan mimpinya untuk lanjut sekolah ke jenjang yang lebih tinggi setelah lulus dari sekolah dasar. Bukan karena ia malas belajar, bukan pula karena ia tidak memiliki cita-cita. Keputusan itu hadir karena keluarganya tidak sanggup membiayai lebih banyak anak untuk tetap bersekolah.
Di usia ketika anak-anak lain masih sibuk membawa tas dan buku pelajaran, Karim justru membawa beban yang cukup berat di pundak kecilnya. Ia membantu ayahnya mencari nafkah, memikul tanggung jawab yang bahkan terlalu besar untuk anak seusianya. Sedikit demi sedikit, masa kecilnya ditukar dengan kebutuhan keluarga yang tidak bisa menunggu.
Apa yang Karim dapatkan dari pekerjaannya tidaklah besar. Namun, dari penghasilan yang serba terbatas itu, ada satu harapan yang terus dijaga: adik-adiknya harus tetap sekolah.
Waktu berjalan. Harapan tersebut perlahan menemukan bentuknya. Semua adik Karim tumbuh dengan kesempatan yang lebih baik. Ada yang berhasil menamatkan sekolah menengah kemudian bekerja, dan kini beberapa di antaranya bahkan telah menyelesaikan pendidikan hingga perguruan tinggi dengan gelar sarjana.
Dari luar, kisah ini mungkin tampak seperti cerita keberhasilan sebuah keluarga yang mampu bangkit dari kesulitan. Namun, jika dilihat lebih dalam, keberhasilan itu sesungguhnya berdiri di atas pengorbanan seorang anak yang lebih dulu dipaksa mengubur mimpinya.
Menjadi anak sulung membuat Karim tidak memiliki pilihan selain mengalah, harus memahami keadaan, harus menerima bahwa keinginannya tidak bisa diperjuangkan, dan harus bekerja keras di usia yang belum semestinya mengenal kerasnya hidup. Pendidikan adik-adiknya memang terselamatkan, tetapi ada satu pendidikan yang harus terputus lebih awal: pendidikan Karim sendiri.
Kisah seperti ini bukan sesuatu yang asing. Bahkan mungkin … ada banyak Karim lainnya di luar sana. Ketika keluarga berada dalam keterbatasan ekonomi, anak sulung sering kali menjadi orang pertama yang diminta berkorban. Mereka berhenti sekolah, bekerja lebih cepat, dan menunda masa muda demi memastikan adik-adiknya tetap memiliki kesempatan belajar.
Pengorbanan itu sering dianggap sebagai bentuk bakti atau tanggung jawab keluarga, padahal jika ditelisik lebih jauh, ada ketidakadilan yang diam-diam sedang terjadi. Anak-anak tersebut tidak berhenti sekolah karena tidak ingin belajar. Mereka berhenti karena di rumah, pendidikan telah berubah menjadi sesuatu yang tidak bisa didapatkan oleh semua anak.
Inilah biaya tersembunyi yang jarang dibicarakan ketika kita membahas pemerataan pendidikan. Selama ini, pembahasan tentang biaya sekolah sering hanya berhenti pada uang SPP, seragam, buku, atau transportasi. Padahal, ada harga lain yang jauh lebih mahal dan tidak tertulis dalam kebijakan mana pun: masa depan seorang anak yang dikorbankan demi bertahannya keluarga.
Ketika satu anak terpaksa berhenti sekolah agar anak yang lain bisa terus melangkah, itu artinya pendidikan belum benar-benar hadir sebagai hak yang setara. Ia masih menjadi privilege yang harus dibagi berdasarkan siapa yang paling sanggup mengalah.
Karena itu, pemerataan pendidikan tidak cukup hanya dengan narasi kebijakan sekolah gratis atau bantuan administratif semata. Negara perlu memastikan bahwa keluarga dengan keterbatasan ekonomi tidak dipaksa memilih anak mana yang boleh terus belajar dan anak mana yang harus berhenti. Bantuan pendidikan yang menyentuh kebutuhan keluarga secara menyeluruh menjadi sangat penting agar tidak ada lagi masa depan yang harus dikorbankan.
Baca Juga
-
Di Balik Sekolah yang Katanya Gratis, Ada Harga yang Tak Pernah Terlihat
-
The Manipulated: Saat Korban Terpaksa Menjadi Pelaku untuk Bertahan Hidup
-
Memahami Kembali Perjuangan Kartini: Saat Emansipasi Mulai Disalahpahami
-
Drama Beyond the Bar: Ketika Keadilan Harus Melewati Luka yang Tak Terlihat
-
Kartini dan Perempuan Hari Ini: Menulis sebagai Ruang Aman untuk Bersuara
Artikel Terkait
-
Kata Pejabat Sekolah Negeri Itu Gratis? Tapi Fakta di Lapangan Berkata Lain
-
Ketika Sekolah Gratis Hanya Wacana: Catatan Keprihatinan yang Belum Usai
-
Di Balik Sekolah yang Katanya Gratis, Ada Harga yang Tak Pernah Terlihat
-
Tugas Online, Biaya Offline: Realita Sekolah Gratis di Era Digital
-
Mitos Sekolah Negeri Gratis: Menakar Hidden Cost di Balik Label Favorit
Kolom
-
Gratis Itu Relatif, Setidaknya Itu yang Saya Pelajari dari Sekolah Negeri
-
Kerja Iya, Urus Rumah Jalan Terus: Mengapa Beban Perempuan Masih Timpang?
-
Kata Pejabat Sekolah Negeri Itu Gratis? Tapi Fakta di Lapangan Berkata Lain
-
Di Balik Sekolah yang Katanya Gratis, Ada Harga yang Tak Pernah Terlihat
-
Wariskan Kicauan Burung: Mengapa Berburu dengan Senapan Angin Merusak Desa?
Terkini
-
Perdana Tayang, Film Michael Raup 39,5 Juta Dolar di Box Office Domestik
-
Awe-Awe Kedua dari Balik Pohon Tua di Tikungan Gumitir
-
Mewarisi Kartini yang Mana? Membaca Ulang Jalan Menuju Terang
-
Jadi Ahli Bedah Toraks: Pesona Lee Jong-suk di Doctor Stranger
-
Manga Princess Knight Dapat Adaptasi Anime Baru Setelah 27 Tahun di Netflix