Sekar Anindyah Lamase | e. kusuma .n
Ilustrasi pendidikan yang setara (Pexels/Pavel Danilyuk)
e. kusuma .n

Saya tumbuh dengan keyakinan sederhana: sekolah adalah jalan keluar. Bukan sekadar tempat belajar membaca atau menghitung, tetapi ruang untuk memahami dunia—dan, yang lebih penting, memahami diri sendiri. 

Namun, seiring bertambahnya usia, saya menyadari kalau akses terhadap pendidikan tidak selalu setara, terutama bagi perempuan. Ada banyak cerita di sekitar saya yang menunjukkan jika pendidikan bagi perempuan masih sering dianggap “opsional”, bukan kebutuhan utama.

Padahal, jika kita mau jujur, pendidikan adalah salah satu alat paling kuat untuk memutus rantai ketimpangan—baik ekonomi, sosial, maupun budaya.

Pendidikan Bukan Sekadar Hak, Tapi Kebutuhan

Saya pernah mendengar seseorang berkata, “Perempuan tidak perlu sekolah tinggi-tinggi, nanti juga ke dapur.” Kalimat itu terdengar klasik, bahkan mungkin usang, tapi nyatanya masih hidup dalam berbagai bentuk. 

Entah dalam candaan, nasihat keluarga, atau keputusan yang diambil tanpa melibatkan perempuan itu sendiri. Bagi saya, pendidikan bukan hanya soal gelar. Pendidikan adalah bekal untuk mengambil keputusan. 

Tanpa pendidikan yang memadai, perempuan seringkali tidak memiliki posisi tawar—baik dalam keluarga, pekerjaan, maupun masyarakat. Mereka cenderung bergantung, dan ketergantungan itulah yang sering kali menjadi akar ketimpangan.

Ketika perempuan berpendidikan, mereka tidak hanya belajar tentang ilmu pengetahuan, tetapi juga tentang hak, peluang, dan potensi diri. Di situlah titik awal perubahan terjadi.

Pendidikan sebagai Alat Pemberdayaan

Saya melihat sendiri bagaimana pendidikan bisa mengubah hidup seseorang. Perempuan yang dulunya ragu berbicara, perlahan menjadi berani menyampaikan pendapat. Mereka yang dulu hanya mengikuti arus, mulai berani menentukan arah hidupnya sendiri.

Pendidikan memberi ruang untuk berpikir kritis. Ini penting, karena banyak perempuan tumbuh dalam lingkungan yang penuh batasan—baik yang terlihat maupun tidak. Dengan pendidikan, batasan-batasan itu mulai dipertanyakan: Apakah ini benar? Apakah ini adil?

Lebih dari itu, pendidikan juga membuka akses terhadap peluang ekonomi. Perempuan yang memiliki keterampilan dan pengetahuan lebih luas memiliki peluang lebih besar untuk bekerja, berwirausaha, atau bahkan memimpin. 

Ketika perempuan mandiri secara finansial, mereka memiliki kendali lebih besar atas hidupnya. Dan dari situlah, ketimpangan pada hak kesetaraan perempuan, termasuk pendidikan dan di duniq kerja, perlahan bisa dipatahkan.

Dampak Berantai dari Pendidikan Perempuan

Yang sering dilupakan adalah bahwa pendidikan perempuan tidak hanya berdampak pada individu, tetapi juga generasi berikutnya. Saya percaya kalau perempuan berpendidikan cenderung akan mendorong anak-anaknya untuk mendapatkan pendidikan yang sama, bahkan lebih baik.

Lingkaran ini menciptakan efek berantai yang positif. Satu perempuan yang berpendidikan bisa mengubah arah hidup satu keluarga. Dalam skala yang lebih besar, ini bisa mengubah wajah masyarakat.

Selain itu, perempuan yang berpendidikan juga cenderung lebih sadar akan kesehatan, hak reproduksi, dan kesejahteraan keluarga. Mereka lebih mampu membuat keputusan yang berdampak jangka panjang, bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk orang-orang di sekitarnya.

Realita Sosial yang Masih Menghambat

Meski terdengar ideal, saya tidak menutup mata jika realitanya tidak semudah itu. Masih banyak perempuan yang harus berhenti sekolah karena alasan ekonomi, pernikahan dini, atau tuntutan keluarga.

Ada juga yang sebenarnya punya kesempatan, tetapi dibatasi oleh norma sosial yang menganggap perempuan tidak perlu “terlalu pintar”. Ini ironi yang menyakitkan—ketika potensi dipangkas bukan karena kemampuan, tetapi karena persepsi. 

Di beberapa kasus, perempuan bahkan harus berjuang dua kali lebih keras hanya untuk mendapatkan akses yang sama. Mereka harus membuktikan diri lebih banyak, bekerja lebih keras, dan tetap menghadapi stigma. Saya sering bertanya dalam hati: kenapa jalan menuju pendidikan bagi perempuan harus seberat ini. 

Saatnya Mengubah Cara Pandang

Menurut saya, perubahan tidak bisa hanya dibebankan pada perempuan. Lingkungan—keluarga, masyarakat, bahkan kebijakan—harus ikut berperan.

Kita perlu mulai mengubah cara pandang bahwa pendidikan perempuan adalah investasi, bukan beban. Bahwa perempuan yang berpendidikan bukan ancaman, melainkan kekuatan.

Orang tua perlu percaya bahwa anak perempuan mereka berhak memiliki mimpi yang sama besarnya dengan anak laki-laki. Masyarakat perlu berhenti mengkotak-kotakkan peran perempuan. Dan negara perlu memastikan akses pendidikan benar-benar merata, tanpa diskriminasi.

Menutup Rantai, Membuka Jalan

Saya percaya jika setiap perempuan yang mendapatkan akses pendidikan sedang membuka jalan—bukan hanya untuk dirinya, tetapi juga untuk banyak orang setelahnya. Pendidikan adalah kunci untuk membuka peluang, memutus ketergantungan, dan melawan ketimpangan yang sudah terlalu lama dianggap biasa.

Sebagai perempuan, saya ingin melihat lebih banyak perempuan lain berdiri sejajar, bukan tertinggal. Dan saya yakin, salah satu langkah paling nyata untuk menuju ke sana adalah memastikan setiap perempuan memiliki kesempatan untuk belajar, berkembang, dan menentukan masa depannya sendiri.