Hayuning Ratri Hapsari | e. kusuma .n
Ilustrasi merasa overthinking (Pexels/Khoa Võ)
e. kusuma .n

Setiap awal Mei, timeline saya selalu dipenuhi dua hal yang kontras: ucapan “Happy May Day” dan keluhan soal harga yang makin naik. Di satu sisi, ada semangat perjuangan buruh. Di sisi lain, ada realitas ekonomi yang mencekik dan rasa cemas yang diam-diam ikut naik.

Sebagai pekerja perempuan, May Day tahun ini terasa berbeda. Bukan karena lebih meriah, tapi karena kepala saya lebih penuh. Kerja tetap jalan, tanggung jawab tidak berkurang, tapi harga-harga seperti punya jalur cepat untuk naik. Dan jujur saja, ini bikin saya overthinking.

Kerja Jalan Terus, Tapi Rasanya Tidak Pernah “Cukup”

Semua orang pasti masih bekerja seperti biasa—datang tepat waktu, menyelesaikan tugas, bahkan kadang lembur. Secara teknis, tidak ada yang berubah. Tapi secara perasaan, semuanya terasa berbeda.

Setiap kali menerima gaji, yang muncul bukan lagi rasa lega, tapi hitung-hitungan. Langsung terbayang kebutuhan bulanan, cicilan, dan pengeluaran tak terduga. Rasanya seperti uang itu hanya “numpang lewat”, bukan benar-benar saya nikmati.

Saya pun jadi sering bertanya dalam hati: saya ini kurang kerja keras, atau memang keadaan yang makin berat? Karena kalau dilihat dari usaha, rasanya sudah maksimal. Tapi hasilnya kok tetap terasa pas-pasan.

Harga Naik Diam-diam, Dampaknya Berisik di Kepala

Kenaikan harga itu unik. Kadang tidak langsung terasa besar, tapi akumulasinya bikin kaget. Hari ini harga beras naik sedikit, besok ongkos transportasi ikut naik, minggu depan kebutuhan lain menyusul. Yang awalnya kecil, lama-lama jadi besar.

Dan efeknya bukan cuma di dompet, tapi juga di pikiran. Saya jadi lebih sering mikir sebelum beli sesuatu, bahkan untuk hal-hal yang dulu tidak pernah saya pertimbangkan terlalu lama.

“Perlu nggak, ya?”. “Bisa ditunda nggak?”. “Atau cari yang lebih murah aja?”. Overthinking seperti ini mungkin terlihat sepele, tapi kalau terjadi setiap hari, rasanya capek. Kepala seperti tidak pernah benar-benar istirahat.

Pekerja Perempuan: Antara Realita dan Ekspektasi

Sebagai perempuan, saya merasa tekanan itu berlapis. Bukan cuma soal kerja dan keuangan, tapi juga ekspektasi yang terus menempel. Saya tetap diharapkan produktif di kantor, tapi juga “hadir” di kehidupan pribadi. Tetap kuat, tetap rapi, tetap bisa mengatur semuanya dengan baik.

Padahal, kenyataannya tidak selalu semulus itu. Ada hari-hari di mana saya lelah, tapi tidak bisa berhenti. Ada momen di mana saya ingin santai, tapi merasa bersalah. 

Bahkan untuk sekadar self-reward pun, sekarang harus dipikir dua kali karena kondisi keuangan.Kadang saya merasa, menjadi perempuan itu seperti harus selalu siap—secara fisik, mental, dan emosional—tanpa jeda.

May Day yang Ramai, Tapi Pikiran Tetap Sepi

Saya melihat banyak konten May Day—aksi buruh, tuntutan kenaikan upah, hingga kampanye kesejahteraan pekerja. Semuanya penting, dan saya menghargai itu. Tapi di saat yang sama, saya merasa ada jarak.

Di balik semua keramaian itu, ada hal-hal kecil yang jarang dibahas: kecemasan harian, tekanan mental, dan overthinking yang dialami banyak pekerja, terutama perempuan.

Kami mungkin tidak selalu turun ke jalan. Tapi bukan berarti kami tidak merasakan tekanan. Justru, kami menghadapinya setiap hari, dalam bentuk yang lebih sunyi.

Overthinking: “Efek Samping” Bertahan

Saya mulai sadar, overthinking ini bukan tanpa alasan. Ini adalah efek samping dari mencoba bertahan di kondisi yang tidak sepenuhnya stabil.

Ketika semuanya serba tidak pasti—harga naik, kebutuhan bertambah, tapi penghasilan tetap—pikiran otomatis bekerja lebih keras. Mencari cara, menghitung kemungkinan, bahkan mengantisipasi hal-hal yang belum tentu terjadi.

Di satu sisi, ini membantu saya lebih waspada. Tapi di sisi lain, ini juga melelahkan. Karena hidup jadi terasa seperti rangkaian perhitungan tanpa jeda.

Boleh Lelah, Tapi Jangan Merasa Sendirian

May Day tahun ini membuat saya sadar satu hal: banyak dari kita yang sedang berjuang, tapi dengan cara yang berbeda. Tidak semua terlihat di jalan, tidak semua terdengar dalam orasi.

Ada yang berjuang lewat kerja keras setiap hari. Ada yang bertahan dengan mengatur ulang hidupnya. Dan ada juga yang diam-diam melawan overthinking di kepalanya sendiri.

Saya mungkin belum punya solusi besar. Tapi setidaknya, saya belajar untuk lebih jujur pada diri sendiri bahwa merasa lelah itu wajar, merasa cemas itu manusiawi. Dan yang paling penting, kita tidak sendirian.

Karena di luar sana, ada banyak pekerja perempuan lain yang juga sedang menjalani hal yang sama: kerja tetap jalan, harga terus naik, dan pikiran yang berusaha tetap kuat di tengah semuanya.