Setiap tanggal 2 Mei, linimasa saya dipenuhi ucapan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas). Foto-foto anak sekolah, kutipan inspiratif, hingga harapan tentang masa depan pendidikan Indonesia berseliweran tanpa henti.
Sebagai perempuan, saya tentu ikut merayakan. Pendidikan memberi saya banyak hal—cara berpikir, keberanian bersuara, hingga kesempatan untuk bermimpi lebih besar.
Namun, di balik euforia itu, saya tidak bisa menutup mata dari realita sosial yang masih membatasi perempuan dalam mengakses dan memanfaatkan pendidikan secara utuh.
Pendidikan: Pintu Kesempatan
Saya tumbuh dengan keyakinan bahwa sekolah adalah jalan untuk mengubah nasib. Dari bangku kelas sederhana hingga akhirnya bisa mengakses berbagai informasi dan peluang, pendidikan telah membuka pintu yang sebelumnya terasa mustahil.
Sebagai perempuan, kesempatan belajar adalah bentuk kemerdekaan. Saya bisa menentukan pilihan hidup, memahami hak-hak saya, dan tidak mudah dipatahkan oleh stigma.
Pendidikan memberi saya suara—sesuatu yang dulu sering kali tidak dimiliki oleh perempuan di generasi sebelumnya. Namun, saya juga sadar kalau tidak semua perempuan memiliki privilege yang sama.
Di luar sana, masih banyak anak perempuan yang harus berhenti sekolah karena faktor ekonomi, pernikahan dini, atau tuntutan domestik. Di titik ini, saya mulai bertanya: apakah pendidikan benar-benar sudah menjadi hak yang setara?
Antara Mimpi dan Tuntutan Sosial
Semakin dewasa, saya mulai merasakan benturan antara apa yang saya pelajari di bangku pendidikan dengan realita yang saya hadapi di masyarakat.
Di satu sisi, saya diajarkan untuk bermimpi tinggi, berkarier, dan mandiri. Di sisi lain, ada ekspektasi sosial yang masih menempatkan perempuan dalam peran tradisional. Pertanyaan seperti “kapan menikah?” atau “kerja boleh, tapi jangan lupa kodrat” sering kali muncul, bahkan ketika saya sedang berusaha mengembangkan diri.
Saya tidak menolak peran domestik. Namun, yang menjadi masalah adalah ketika pilihan perempuan dibatasi oleh standar sosial yang sempit. Pendidikan seharusnya memberi kebebasan untuk memilih, bukan justru membuat perempuan terjebak dalam dilema antara karier dan ekspektasi sosial.
Pendidikan Tinggi, Tapi Kesempatan Tak Selalu Sejalan
Saya mengenal banyak perempuan hebat dengan pendidikan tinggi, tetapi tidak semuanya mendapatkan kesempatan yang setara di dunia kerja. Ada yang harus mengalah karena dianggap “terlalu sibuk untuk keluarga”, ada pula yang kesulitan naik jabatan karena stereotipe tertentu.
Di titik ini, saya menyadari bahwa pendidikan saja tidak cukup. Ada sistem sosial yang masih perlu diperbaiki. Perempuan bukan hanya butuh akses pendidikan, tetapi juga lingkungan yang mendukung mereka untuk berkembang tanpa diskriminasi.
Ironisnya, perempuan sering kali dituntut untuk “serba bisa”—berpendidikan tinggi, sukses secara karier, sekaligus sempurna dalam peran domestik. Beban ini tidak selalu terlihat, tetapi nyata dirasakan.
Hardiknas: Refleksi, Bukan Sekadar Seremoni
Bagi saya, Hari Pendidikan Nasional seharusnya bukan hanya tentang perayaan, tetapi juga refleksi. Sudah sejauh mana pendidikan benar-benar membebaskan perempuan? Apakah kita sudah menciptakan ruang yang aman dan setara bagi mereka untuk belajar dan berkembang?
Saya percaya perubahan tidak harus selalu dimulai dari hal besar. Menghargai pilihan perempuan, tidak meremehkan ambisi mereka, dan berhenti melanggengkan stereotipe adalah langkah kecil yang berdampak besar.
Sebagai individu yang merasakan manfaat pendidikan, saya merasa punya tanggung jawab untuk ikut menyuarakan ini. Setidaknya, saya bisa mulai dari lingkungan terdekat—mendukung teman perempuan, tidak menghakimi pilihan hidup mereka, dan terus belajar memahami realita yang berbeda dari pengalaman saya sendiri.
Menjadi Perempuan yang Terus Belajar
Pada akhirnya, saya menyadari jika menjadi perempuan di era sekarang adalah tentang terus belajar—bukan hanya di ruang kelas, tetapi juga dalam menghadapi realita sosial. Saya belajar bahwa pendidikan bukan sekadar gelar, melainkan alat untuk bertahan dan berkembang.
Saya juga belajar tentang perjuangan perempuan yang tidak berhenti ketika kita lulus sekolah, tetapi terus berlanjut dalam kehidupan sehari-hari. Hardiknas pun mengingatkan saya jika perjalanan ini masih panjang.
Masih ada banyak perempuan yang perlu diperjuangkan haknya untuk belajar dan berkembang. Dan sebagai bagian dari itu, saya memilih untuk tidak diam. Saya ingin terus belajar, bersuara, dan membuka jalan—meski kecil—bagi perempuan lain agar mereka juga bisa merasakan kesempatan yang sama.
Karena pada akhirnya, pendidikan yang sejati bukan hanya tentang apa yang kita pelajari, tetapi tentang bagaimana kita menggunakannya untuk menciptakan perubahan.
Baca Juga
-
Ngabarin Itu High-Level Manners: Mengapa Ini Lebih Penting dari yang Kamu Kira?
-
Hari Buruh dan Realita Pekerja Perempuan: Upah Stagnan, Kebutuhan Melonjak
-
May Day 2026: Beban Hidup Naik, Pekerja Perempuan Makin Tertekan
-
Pekerja Perempuan di Tengah Kenaikan Harga: Bertahan atau Tumbang?
-
Blunder Usul Gerbong Perempuan Pindah Tengah: Solusi atau Respons Prematur?
Artikel Terkait
Kolom
-
Katanya Kota Industri, Gaji Buruh Cilacap di Bawah UMK
-
Hardiknas Dirayakan, Tapi Mengapa Pendidikan Masih Menyisakan Kekhawatiran?
-
Sekolah Mahal vs Sekolah Biasa: Kita Sebenarnya Tahu Bedanya
-
Kerja Saja Tidak Cukup: Membedah Jebakan Hustle Culture di Hari Buruh
-
May Day dan Nasib Lulusan Baru: Gaji Dipotong Paksa, Kerja Borongan
Terkini
-
Review Soewardi Soerjaningrat: Melacak Jejak Bapak Pendidikan di Belanda
-
Seni Mengenal Diri Lewat Teman: Membaca Kita Adalah Siapa yang Kita Temui
-
Buku Waras di Zaman Edan: Seni Bertahan Tanpa Ikut Gila
-
Seunghoon CIX Umumkan Pensiun dari Dunia Musik, Tutup Perjalanan 7 Tahun
-
Kupeluk Kamu Selamanya: Sebuah Refleksi Kasih Tanpa Batas, Ruang, dan Waktu