Cerita dalam buku novel Kotak-Kotak Ingatan karya Siti Meta Fatimah ini cukup mengusik pikiran saya. Ceritanya tidak berteriak keras, tetapi justru mengendap pelan di benak saya, lalu perlahan mengguncang keyakinan tentang apa itu cinta dan kewarasan.
Novel ini menghadirkan kisah Nesya, seorang gadis yang hidupnya berubah drastis setelah pertemuannya dengan Stevanus di Merauke, seorang pria yang jauh lebih tua darinya.
Perubahan itu tidak datang seperti badai yang terlihat jelas, melainkan seperti kabut tipis yang perlahan menutup pandangan. Tidak terasa, tetapi membutakan.
Keganjilan mulai dirasakan oleh orang-orang terdekat Nesya. Kris, kakaknya, melihat perubahan itu dengan rasa cemas yang bercampur kebingungan, sementara Agung, sahabat yang diam-diam menyimpan kepedulian lebih dalam, merasakan sesuatu yang lebih mengkhawatirkan. Namun, seperti banyak kisah yang melibatkan perasaan, kekhawatiran sering disalahartikan.
Bagi Kris, reaksi Agung mungkin hanyalah bentuk kecemburuan yang terselubung. Sebab bukankah jatuh cinta memang kerap membuat seseorang percaya bahwa perasaannya berbalas? Bukankah itu naluri yang hampir universal?
Di sinilah novel ini mulai mengaburkan batas. Apa yang tampak sebagai cinta perlahan berubah menjadi sesuatu yang lebih rapuh, menjadi keyakinan yang berdiri di atas realitas yang tidak sepenuhnya nyata.
Nesya meyakini bahwa Stevanus mencintainya, tanpa celah keraguan. Keyakinan itu begitu kuat hingga menyingkirkan logika, menolak penyangkalan, dan menutup pintu bagi kemungkinan lain.
Dalam konteks inilah, novel ini dengan berani menyentuh tema erotomania, kondisi psikologis di mana seseorang percaya bahwa dirinya dicintai oleh orang lain, sering kali tanpa dasar yang nyata.
Siti Meta Fatimah tidak sekadar menjadikan kondisi ini sebagai bumbu cerita. Ia mengolahnya menjadi inti konflik yang hidup dan menggigit.
Saya diajak masuk ke dalam pikiran Nesya, merasakan bagaimana keyakinan bisa terasa lebih nyata daripada fakta, dan bagaimana cinta dapat berubah menjadi ilusi yang meyakinkan. Ketegangan emosional tidak dibangun melalui peristiwa besar, melainkan melalui benturan halus antara persepsi dan kenyataan.
Upaya Kris untuk menyadarkan Nesya menjadi poros penting dalam cerita. Keputusannya untuk mempertemukan Nesya dengan Stevanus bukan hanya tindakan nekat, tetapi juga simbol dari pencarian kebenaran, perjalanan yang tidak hanya melibatkan jarak fisik, tetapi juga perjalanan ke dalam masa lalu.
Dalam perjalanan itu, kenangan-kenangan lama mulai bermunculan, seperti kotak-kotak yang terbuka tanpa diundang. Ingatan masa kecil yang selama ini terkunci rapat justru muncul dengan kekuatan yang tak terduga, seolah ingin mengatakan bahwa apa yang terjadi pada Nesya bukanlah sesuatu yang berdiri sendiri.
Di sinilah kekuatan lain novel ini terasa. Ingatan tidak sekadar menjadi latar, tetapi menjadi elemen yang hidup, mempengaruhi, membentuk, bahkan mungkin menciptakan realitas yang diyakini para tokohnya.
Ada kesan bahwa luka lama, pengalaman masa kecil, dan emosi yang tak terselesaikan memiliki peran dalam membentuk cara seseorang mencintai dan memahami dunia.
Gaya penulisan Siti Meta Fatimah cenderung deskriptif dan intim. Ia tidak tergesa-gesa, memberi ruang bagi pembaca untuk menyelami emosi tokoh secara perlahan. Pendekatan ini membuat cerita terasa intens, bahkan sesekali menyesakkan.
Saya tidak hanya menjadi pengamat, tetapi seolah ikut terjebak dalam keraguan, apakah yang dirasakan Nesya benar adanya, atau hanya bayangan yang terlalu nyata?
Kelebihan utama novel ini terletak pada keberaniannya mengangkat isu kesehatan mental dalam balutan romansa yang tidak klise. Alih-alih menyajikan cinta sebagai sesuatu yang indah dan menyelamatkan, novel ini justru menunjukkan sisi gelapnya, bagaimana cinta bisa menyesatkan, bahkan menghancurkan, ketika tidak berpijak pada kenyataan.
Pada intinya, novel Kotak-Kotak Ingatan bukan sekadar kisah tentang cinta yang rumit. Ia adalah cermin tentang bagaimana manusia menyusun realitasnya sendiri, tentang rapuhnya batas antara waras dan tidak, serta tentang ingatan yang diam-diam membentuk siapa kita hari ini.
Identitas Buku
- Judul: Kotak-Kotak Ingatan
- Penulis: Siti Meta Fatimah
- Penerbit: Ping
- Cetakan: I, 2017
- Tebal: 304 Halaman
- ISBN: 978-602-407-140-0
- Genre: Fiksi/Novel
Baca Juga
-
Humor Jurnalistik: Belajar Menulis Tajam Tanpa Harus Mengernyitkan Dahi
-
Samsung Galaxy A07s Resmi Meluncur, Bawa Helio G99+, Baterai 5.000 mAh dan Update OS 6 Tahun
-
Ingin Beli Galaxy S26 FE Lebih Hemat? Ini Cara Dapat Potongan Rp500 Ribu
-
Redmi Note 17 Series Siap Hadir di Indonesia, Apa yang Membuatnya Istimewa?
-
Ponsel Lipat Harga Mulai Rp30 Juta! Apa Saja Kehebatan iPhone Duo?
Artikel Terkait
Ulasan
-
Bedah MV Penggantine Happy Asmara: Angkat Pesona Kediri Lewat Bus Bagong hingga Jalan Dhoho
-
Bad Memory Eraser: Eksperimen Menghapus Ingatan Demi Mengubah Kehidupan
-
Kisah Orang Tua yang Berjuang untuk Pendidikan Anak di Novel Ibuk
-
Review Film Get Out: Saat Rasisme Dikemas Menjadi Teror yang Mencekam
-
Kupas Lagu Teh Hijau Tulus, Sulitnya Mencari Rasa yang Hilang
Terkini
-
Membongkar Ketimpangan Patriarki Tanpa Harus Membenci Laki-Laki, Bisakah?
-
Anti Sumpek dan Lengket, Ini 4 Andalan Moisturizer Lotion untuk Kunci Hidrasi Wajah
-
Jangan Asal Ikut-ikutan Resign! Beda Kasta Antara Privilege Finansial dan Perjudian Ekonomi
-
5 Peptide Sheet Mask untuk Samarkan Garis Halus dan Bikin Kulit Kenyal
-
Di Balik Lucunya Anak Ayam Warna-warni: Nyawa Rentan yang Dijadikan Mainan Murah