M. Reza Sulaiman | Aninditha Nur Shafira
Ilustrasi: Aktivitas Gen Z saat berinteraksi di lingkaran pertemanan. (Pexels.com/Monstera Production)
Aninditha Nur Shafira

Bahasa merupakan elemen penting dalam interaksi sosial yang membentuk identitas, budaya, hingga relasi sosial. Artinya, bahasa merepresentasikan secara persis setiap perilaku dan kepribadian seseorang, sekaligus menjadi tolok ukur kualitas dirinya. Di era digital seperti sekarang ini, Gen Z tumbuh bersama masifnya media sosial yang lantas menjadikan interaksi makin terbuka, cepat, dan intens.

Oleh karena itu, komunikasi yang baik dan santun sudah semestinya dikedepankan agar pesan tersampaikan dengan benar dan tidak menimbulkan kesalahpahaman. Namun, hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi Gen Z yang dikenal sebagai generasi yang begitu ekspresif dan terbuka dalam banyak aspek.

Karakter ini terlihat dari gaya komunikasi mereka yang katanya unik, seperti suka mencampurkan guyonan (jokes), bahasa gaul (slang), hingga singkatan seperti btw, imo, wkwk, lol, tbh, dan sebagainya dalam obrolan chat. Hal ini memperlihatkan kreativitas berbahasa sekaligus menciptakan kesan santai dan akrab dalam interaksinya. 

Terlepas dari keunikan itu, ada tren yang patut jadi perhatian, yaitu soal interaksi media sosial yang kian menggila ini kerap memicu maraknya penggunaan bahasa kasar di kalangan remaja. Meski begitu, hal ini bukanlah fenomena baru di lingkungan mereka.  

Maka, dalam konteks budaya populer masa kini, penggunaan bahasa kasar sering kali dianggap sebagai bentuk beragam ekspresi diri yang autentik, entah itu ekspresi kekesalan, kegembiraan, maupun simbol keakraban. Bahkan banyak remaja merasa gaul saat menyelipkan umpatan kata-kata kasar dalam obrolan mereka. Hal ini lantas menciptakan semacam siklus di mana penggunaan bahasa kasar seolah menjadi norma baru yang lumrah dan wajar dalam komunikasi sehari-hari di kalangan remaja.

Bahasa kasar umumnya merujuk pada penggunaan kata atau ungkapan yang vulgar dan tidak sopan dalam komunikasi. Bentuknya bisa berupa ejekan, umpatan, maupun cemoohan dengan kata-kata yang tidak pantas, seperti kata t*lol, *njir lu b*go banget deh, *su lo, penyebutan nama hewan, hingga istilah yang merujuk pada organ vital manusia yang tak jarang dilontarkan tanpa lagi mempertimbangkan batas kepantasan dalam interaksi sehari-hari, utamanya dalam obrolan di media sosial.

Banyak faktor yang lantas membuat penggunaan bahasa kasar makin membiasa di kalangan Gen Z. Ini dia beberapa di antaranya, yaitu mulai dari paparan konten media sosial yang menormalkan perilaku tersebut, pengaruh lingkungan pertemanan, bentuk ekspresi emosional, sampai kurangnya pemahaman tentang etika berkomunikasi.

1. Pengaruh Masif Konten Digital terhadap Perilaku Berbahasa Gen Z

Ilustrasi: Penggunaan media sosial di kalangan remaja. (Pexels.com/Pixabay)

Fenomena menarik dari konten media sosial adalah semakin sering kata-kata kasar keluar, semakin pula memicu interaksi masif. Umpatan vulgar seperti **jing, b***sat, t* tak jarang memancing respons gelak tawa pada kolom komentar, misalnya “wkwk kocak banget **jing”. Pada titik ini, media sosial telah membentuk ruang di mana umpatan kata-kata kasar tadi menjadi bagian dari hiburan yang wajar untuk dikonsumsi.

Contoh konkretnya bisa dilihat dari banyaknya siaran langsung di berbagai platform media sosial para influencer. Mereka suka sekali mempertontonkan aktivitas secara virtual, misalnya mulai dari bangun tidur, nongkrong santai dengan obrolan yang penuh kata-kata kasar, hingga pesta minuman keras. Secara moral, tayangan semacam ini tentu saja mengundang banyak persoalan karena dapat diakses oleh berbagai kalangan usia.

Fenomena ini tidak hanya berdampak pada cara seseorang berkomunikasi, tetapi juga membentuk dinamika baru dalam hubungan sosial dan budaya. Dalam dunia konten digital, kreator sering kali merasa perlu untuk menggunakan elemen provokatif agar konten mereka punya daya tarik yang menonjol di antara ribuan konten lainnya. Alasannya karena penggunaan bahasa kasar bisa menciptakan kesan humor, simbol keakraban, atau ketegangan yang mengundang perhatian audiens, sehingga dengan begitu bisa meningkatkan jumlah tayangan dan interaksi.

Ironisnya, konten yang mengandung unsur kontroversial semacam ini cenderung mendapatkan lebih banyak respons masif dari audiens, misalnya berupa komentar, reply, maupun share. Di sisi lain, semakin banyak interaksi seperti ini, semakin normal pula penggunaan kata kasar dipandang dalam praktik sehari-hari. Padahal, ungkapan berkonotasi negatif tersebut tidak hanya melanggar etika sosial yang berlaku, tapi dampaknya juga bisa mengarah pada penurunan empati dan memicu perilaku agresif terhadap orang lain.

Kolom komentar yang ramai inilah yang kemudian memperluas jangkauan audiens, sekaligus mendorong popularitas sang influencer. Di titik inilah letak paradoksnya: apa yang secara norma bahasa dianggap tidak pantas justru menjadi komoditas hiburan yang mendulang popularitas di ruang publik digital. 

Contoh lainnya, penggunaan sarkasme atau ejekan dalam obrolan di X (Twitter) semakin menormalkan bahasa kasar dan ofensif, terutama di kalangan Gen Z. Fenomena ini paling kentara pada tren, cuitan, dan thread yang sedang viral. Misalnya, meme atau konten viral tadi kerap diisi bahasa diskriminatif, seperti kata-kata rasis, homofobia, atau seksis, yang justru dianggap lucu dan kemudian dibagikan secara massal.

Tren ini tentu menampakkan penurunan standar etika komunikasi, melemahkan kontrol sosial atas perilaku tidak etis, dan juga membentuk stereotip negatif bahwa Gen Z kurang santun dalam berbahasa.

Maka dampak praktisnya adalah terjadinya normalisasi bahasa kasar dalam ruang publik digital yang dalam jangka panjang berisiko mengaburkan batas antara yang pantas dan tidak pantas.

2. Pergeseran Makna Bahasa Kasar dalam Lingkaran Pertemanan

Ilustrasi: Potret Lingkaran Pertemanan. (Unsplash.com/Winter Sun)

Pengaruh lingkungan pergaulan terlihat dari bagaimana bahasa kasar kerap dinormalisasi dalam interaksi sehari-hari. Menariknya, dalam lingkaran pertemanan, kata-kata seperti **jir, b*go, g**lok, hingga umpatan yang lebih vulgar agaknya tidak lagi dimaknai sebagai bentuk penghinaan atau upaya menyakiti lawan bicara. Malahan, ini jadi ekspresi humor dan keakraban, utamanya ketika dalam situasi santai seperti sedang bermain game bersama atau ketika saling menggoda. Bahkan, dalam beberapa kasus, candaan bisa sampai pada mengejek nama orang tua, yang memang hanya dipahami sebagai lelucon semata tanpa ada maksud menyerang.

Hal ini memperlihatkan kalau makna bahasa kasar masa kini bergantung pada konteksnya. Di antara teman dekat, bahasa kasar bisa terasa netral bahkan menghibur, sementara di lingkungan keluarga atau sekolah kerap masih dipandang tidak sopan.

Selain itu, ada juga indikasi bahwa kondisi emosional dari rumah turut memengaruhi intensitas penggunaan bahasa kasar. Beberapa remaja utamanya Gen Z cenderung akan meluapkan emosinya melalui ungkapan bahasa kasar saat berada di lingkungan pertemanan setelah mengalami konflik dengan orang tua atau saudaranya.

Meski begitu, sebagian Gen Z masih menempatkan penggunaan kata kasar dalam batas bercanda, bukan sebagai bentuk agresi.

Dalam konteks ini, bahasa kasar justru berperan sebagai bentuk tanda kedekatan personal. Semakin akrab relasi dengan seseorang, semakin bebas pula mereka menggunakan ungkapan kasar tanpa bermaksud mengusik kenyamanan atau menyinggung perasaan lawan bicaranya.

3. Bahasa Kasar sebagai Bentuk Ekspresi Emosional

Ilustrasi: Suasana sharing dengan teman. (Pexels.com/Andy Barbour)

Selanjutnya, penggunaan kata-kata kasar sering kali berkaitan dengan kemampuan bahasa seseorang dalam menyalurkan emosi secara kuat dan autentik. Bahasa vulgar ini sering menciptakan humor yang ngena, menarik perhatian audiens, sekaligus memicu interaksi yang lebih hidup.

Misalnya, dalam cuplikan video di platform media sosial yang menyindir perilaku sosial atau politik dengan umpatan bisa saja bermaksud mempertegas pesan yang ingin disampaikan, sehingga kreator lebih mudah menjangkau audiens lebih luas yang kemudian bisa memanaskan diskusi di kolom komentar.

Tak hanya itu, pasalnya kata-kata kasar juga bisa membangun ikatan emosional antara kreator dan audiens, sekaligus sebagai bentuk katarsis yang memberikan rasa lega atau kepuasan bagi mereka yang sedang mengalami situasi frustrasi atau tertekan setelah meluapkannya, bahkan bisa membuat mereka merasa lebih baik setelahnya.

Namun, bagaimanapun juga hal ini tidak boleh dianggap remeh. Umpatan semacam ini bisa saja menimbulkan luka emosional yang dalam bagi orang yang menjadi sasaran.

Katakata kasar sering meninggalkan bekas trauma yang sulit dihapus, belum lagi memicu rasa hina, rendah diri, atau bahkan depresi. Bagi remaja yang sedang mencari jati diri, pengalaman dikatai dengan bahasa kasar bisa menurunkan tingkat rasa percaya diri sekaligus bisa mengganggu perkembangan psikologis mereka.

4. Kurangnya Pemahaman Etika dalam Interaksi Sosial

Ilustrasi: Ekspresi keraguan seorang anak. (Pexels.com/www.kaboompics.com)

Selanjutnya, kurangnya pemahaman tentang etika berkomunikasi juga jadi faktor yang cukup mempengaruhi. Banyak remaja belum benar-benar menyadari batasan dalam bertutur kata, karena etika sering kali hanya dipahami sebagai aturan formal yang sifatnya situasional, bukan sebagai nilai yang terinternalisasi dalam perilaku sehari-hari.

Padahal, pembentukan etika ini seharusnya sudah dimulai sejak dini di lingkungan keluarga. Maka di sini peran orang tua begitu penting, bukan hanya lewat nasihat, tapi juga lewat contoh nyata dalam cara mereka berkomunikasi.

Kalau sejak awal anak terbiasa melihat dan diajarkan komunikasi yang sopan dan berempati, mereka cenderung lebih peka dalam memilih kata saat berinteraksi. Sebaliknya, tanpa pembiasaan tersebut, penggunaan bahasa kasar bisa dianggap hal yang wajar karena tidak pernah benar-benar dipersoalkan.

Di titik ini, penguatan etika berkomunikasi bukan sekadar soal melarang penggunaan bahasa kasar, tapi juga membangun kesadaran tentang dampak ucapan terhadap orang lain, sehingga seseorang bisa lebih bijak dan bisa menghargai siapapun lawan bicaranya.

Oleh karena itu, penting untuk menekankan kembali bahwa bahasa bukan semata alat komunikasi, melainkan cerminan kualitas diri seseorang.

Tulisan ini dibuat berangkat dari keresahan saya sebagai sesama Gen Z yang melihat betapa lumrahnya bahasa kasar dalam obrolan sehari-hari. Saya tidak melarang kaum Gen Z untuk berekspresi karena kreativitas bahasa adalah ciri khas kita. Hanya saja, mari kita lebih bijak dengan tidak menjadikan bahasa kasar sebagai satu-satunya standar untuk merasa gaul maupun menjadi simbol keakraban antarsesama.

Berekspresilah tanpa harus kehilangan rasa hormat dan kepantasan dalam berinteraksi.