Selama ini kita mengira jejak karbon hanyalah urusan asap knalpot atau pabrik, padahal setiap video yang kita tonton via satelit ternyata meninggalkan jejak karbon, loh. Industri luar angkasa sedang mengalami lonjakan emisi luar biasa karena roket harus bekerja layaknya 'bus' yang mengantar ribuan satelit demi koneksi internet global. Masalahnya, untuk menembus gravitasi Bumi, 'bus' roket ini harus membakar bahan bakar dalam jumlah masif yang akhirnya melepaskan emisi langsung ke lapisan atmosfer kita.
Menurut penelitian terbaru tahun 2025 (arXiv), emisi dari sektor ini terus meroket seiring ambisi manusia menempatkan ribuan satelit demi koneksi internet global. Jika dulu peluncuran roket adalah peristiwa langka, kini hal tersebut menjadi rutinitas mingguan yang membawa konsekuensi lingkungan yang nyata.
Data global dari Nature Scientific Data (2024) menunjukkan angka yang cukup mengejutkan: penggunaan bahan bakar roket melonjak dari sekitar 63.000 ton pada 2022 menjadi lebih dari 153.000 ton di periode 2023–2024. Lonjakan lebih dari dua kali lipat ini didorong oleh tren "mega-konstelasi" satelit, yaitu jaringan ribuan satelit kecil untuk internet global. Emisi yang dibuang secara langsung mengenai atmosfer yang paling sensitif.
Hal yang paling mengkhawatirkan sebenarnya bukan sekadar gas karbon dioksida (CO2), melainkan jenis polutan lain yang dihasilkan. Menurut studi tahun 2025, roket melepaskan jelaga (black carbon), nitrogen oksida, hingga partikel aluminium langsung ke stratosfer. Insight yang jarang diketahui orang adalah partikel jelaga di ketinggian ini memiliki efek pemanasan yang jauh lebih kuat dibandingkan emisi yang dihasilkan di permukaan bumi. Ini seperti menyalakan pemanas tepat di bagian atap rumah kita yang paling rapuh.
Bukan hanya saat meluncur, proses pembuatan roketnya sendiri ternyata sangat "boros" karbon. Analisis siklus hidup dalam studi 2025 mengungkapkan bahwa sekitar 72,6% total emisi sebenarnya berasal dari tahap manufaktur dan saat peluncuran itu sendiri. Bahkan, beberapa sistem satelit ditemukan memiliki jejak karbon hingga 10 kali lipat lebih tinggi dibandingkan kabel bawah laut atau pemancar di darat. Ini menunjukkan bahwa kemudahan koneksi internet dari langit yang kita nikmati saat ini memiliki harga lingkungan yang sangat mahal.
Kekhawatiran tidak berhenti saat satelit sudah berada di atas, karena saat masa pakainya habis, mereka akan jatuh kembali ke bumi atau re-entry. Data mencatat ribuan objek kembali masuk ke atmosfer setiap tahunnya dan terbakar hebat, melepaskan uap logam ke atmosfer bagian atas. Menurut penelitian Nature Scientific Data (2024), akumulasi material hasil pembakaran ini dalam jangka panjang dikhawatirkan dapat merusak keseimbangan kimia atmosfer, termasuk mengancam pemulihan lapisan ozon yang selama ini kita lindungi.
Dampak lingkungan dari industri ini memang unik dan sulit dipulihkan karena polutannya mengendap di lapisan udara yang tipis dan stabil. Meskipun secara total kontribusinya masih jauh lebih kecil dibanding industri penerbangan komersial, laju pertumbuhannya yang eksponensial adalah lampu kuning bagi kita semua. Tanpa adanya kendali, polutan-polutan ini akan menumpuk di stratosfer dan menciptakan perubahan iklim dari sudut pandang yang selama ini jarang kita perhatikan.
Lalu, apa yang bisa dilakukan agar kita tetap bisa menjelajahi ruang angkasa tanpa merusak bumi? Studi tahun 2025 menyoroti bahwa inovasi roket reusable (yang bisa dipakai berkali-kali) adalah kunci utama, karena bisa memangkas emisi produksi hingga 95%. Selain itu, para ilmuwan mendorong pengembangan bahan bakar yang lebih ramah lingkungan untuk menggantikan bahan bakar tradisional yang sangat kotor. Kita perlu mulai memikirkan bagaimana caranya agar teknologi canggih di orbit tidak meninggalkan lubang di atmosfer.
Sebagai saran penutup, regulasi global yang lebih ketat sangat diperlukan untuk mengatur lalu lintas dan standar emisi di luar angkasa. Perusahaan penyedia satelit juga harus lebih efisien dalam mendesain misi agar tidak ada peluncuran yang sia-sia atau menciptakan sampah antariksa berlebih. Dengan langkah mitigasi yang tepat, impian manusia untuk menjadi spesies antarplanet tetap bisa berjalan beriringan dengan misi menjaga kelestarian bumi kita sendiri.
Baca Juga
-
Niatnya Go Green Pakai Wadah Sendiri, Eh Malah Kena 'Pajak' Tak Terduga
-
Antara Topeng Kasih dan Kewaspadaan: Refleksi dari Kasus Little Aresha
-
Ulasan The Ghost Bride: Misteri Pernikahan Arwah dalam Balutan Tradisi Asia
-
DIY Kalung Makrame untuk Anabul: Modal 25 Ribu, Hasilnya Mewah!
-
Hardiknas dan Jurang UMR: Mengapa Tidak Semua Anak Berani Bermimpi?
Artikel Terkait
-
Astronot Artemis II Bongkar Kenapa Makanan Terasa Hambar di Luar Angkasa
-
Sisi Gelap Internet: Ketika Privasi Menjadi Ruang Nyaman bagi Para Predator
-
Tugas Online, Biaya Offline: Realita Sekolah Gratis di Era Digital
-
Darurat Tsunami Digital, KPAI: 5 Juta Anak RI Akses Pornografi, 80 Ribu Terjerat Judi Online!
-
1200 Jam Internet Mati Total, Warga Iran Putar Otak Gunakan VPN hingga Pakai Cara Ini
Kolom
-
Mengapa Kecelakaan Kereta Masih Terjadi di Era Modern? Ini Alasan di Balik Tragedinya
-
Usul Pindah Gerbong: Mengapa Pernyataan Menteri PPPA Memicu Amarah Publik?
-
Pesantren dan Masa Depan Karakter Bangsa: Jangan-jangan Ini Jawabannya
-
Selaku Bapak-Bapak yang Kerap PP Rembang-Tuban, Saya Menaruh Kejengkelan terhadap Hal-Hal Ini!
-
Cerita Bapak-Bapak PP Rembang-Tuban: Mengapa Saya Selalu Mengelus Dada Setiap Melintas di Jalur Ini?
Terkini
-
Kesabaran Mulai Habis, Fabio Quartararo Tak Temukan Titik Terang di Yamaha
-
Bikin Antusias! Yoo Seung Ho Comeback Drama di Flex x Cop 2 Usai 3 Tahun
-
5 Primer Makeup untuk Pemula, Bisa Kamu Dapatkan di Bawah Rp50 Ribu!
-
Acara Infinite Challenge Run 2026 Kembali, Hadirkan Ajang Lari dan Festival
-
Tayang Tahun Ini, Trailer The Odyssey Hadirkan Kesulitan Matt Damon