Sekar Anindyah Lamase | Fathorrozi 🖊️
Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI), Andi Gani Nena Wea. [Suara.com/Tsabita]
Fathorrozi 🖊️

Teriakan "tidak" para buruh di hadapan Presiden Prabowo saat ditanya soal manfaat program MBG pada peringatan May Day 1 Mei 2026 merupakan salah satu momen yang terasa lebih jujur daripada keseluruhan rangkaian acara.

Ketika para buruh menjawab pertanyaan tentang manfaat program makan bergizi gratis, saya melihat itu bukan sekadar respons spontan, tetapi refleksi dari sesuatu yang selama ini mungkin mereka pendam, perasaan yang tidak selalu punya ruang untuk diucapkan.

Jawaban itu terasa mentah, apa adanya, dan justru di situlah letak nilainya. Dalam dunia yang sering dibungkus dengan bahasa diplomatis dan pernyataan yang serba aman, kejujuran seperti itu jarang muncul ke permukaan. Tidak ada kalkulasi, tidak ada upaya untuk menyenangkan pihak tertentu. Hanya suara hati yang keluar tanpa filter.

Bagi saya, itulah potret paling nyata dari relasi antara kebijakan dan realitas di lapangan. Program sebesar apa pun, jika belum menyentuh kehidupan mereka secara langsung, akan tetap terasa jauh. Atau mereka memang sudah melihat dan menjumpai secara nyata di lapangan bagaimana program MBG ini berlangsung.

Namun, tak lama setelah itu, muncul klarifikasi dari Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI), Andi Gani Nena Wea. Di sinilah suasana mulai berubah. Bahasa yang tadinya lugas berubah menjadi lebih hati-hati. Penjelasan demi penjelasan disusun, seolah ingin merapikan kesan yang terlanjur terbentuk.

Saya tidak melihat ini sebagai sesuatu yang sepenuhnya salah, tetapi ada nuansa lain yang sulit diabaikan, seperti ada tekanan tak kasat mata yang membuat kejujuran perlu diluruskan.

Klarifikasi itu terasa seperti respons yang lahir dari posisi yang tidak sepenuhnya bebas. Ada beban relasi, ada rasa sungkan, bahkan mungkin ada kekhawatiran akan dampak yang lebih luas.

Dalam posisi seperti itu, wajar jika bahasa yang digunakan menjadi lebih diplomatis. Tapi justru di situlah ironi muncul, yaitu ketika suara yang paling jujur harus segera diikuti oleh penjelasan yang lebih aman.

Saya tidak bisa mengabaikan kesan bahwa klarifikasi tersebut lebih mencerminkan upaya menjaga hubungan daripada menyampaikan realitas. Seolah ada garis tak terlihat yang tidak boleh dilanggar. Dan ketika garis itu tersentuh, reaksi yang muncul adalah meredam, bukan memperkuat suara awal.

Padahal, kalau kita mau jujur, justru dari jawaban “tidak” itu seharusnya muncul ruang refleksi. Bukan untuk menyalahkan siapa pun, tetapi untuk melihat sejauh mana kebijakan benar-benar dirasakan manfaatnya. Karena pada akhirnya, ukuran keberhasilan bukan terletak pada niat baik atau besarnya program, melainkan pada dampaknya bagi mereka yang menjadi sasaran.

Saya melihat peristiwa ini sebagai gambaran kecil tentang bagaimana suara akar rumput sering berhadapan dengan struktur yang lebih besar. Di satu sisi ada kejujuran yang spontan, di sisi lain ada kebutuhan untuk menjaga harmoni. Dan di antara keduanya, kerapkali kejujuran harus mundur selangkah.

Padahal, jika suara seperti itu terus ditekan atau dipoles, kita justru kehilangan kesempatan untuk memahami kenyataan yang sebenarnya. Kritik, bahkan dalam bentuk paling sederhana seperti jawaban “tidak”, adalah bagian penting dari proses perbaikan. Tanpa itu, kita hanya akan terjebak dalam ilusi bahwa semuanya berjalan baik-baik saja.

Bagi saya, momen itu bukan sekadar viral atau sensasi sesaat. Tetapi, itu merupakan pengingat bahwa di balik setiap program besar, ada suara-suara kecil yang perlu didengar tanpa harus segera dibenarkan. Karena kejujuran yang dibiarkan hidup jauh lebih berharga daripada kerapian yang dipaksakan.