M. Reza Sulaiman | Sherly Azizah
Ilustrasi ada orang bunuh diri (pexels/cottonbro studio)
Sherly Azizah

Belakangan ini, ritual pagi saya setelah bangun tidur bukan lagi sekadar meregangkan otot atau mencari segelas air putih. Jari saya seolah punya memori otomatis untuk langsung melakukan scrolling di media sosial. Tapi, bukannya mendapat asupan inspirasi atau sekadar melihat meme lucu, linimasa saya justru menyuguhkan deretan berita yang membuat saya meringis sebelum sempat mencuci muka.

Beberapa hari terakhir, konten yang lewat di beranda saya terasa sangat berat dan gelap. Kabar tentang insiden bunuh diri muncul silih berganti dengan berbagai skenario yang mengerikan. Ada yang mengakhiri hidup di kamar kos, melompat dari gedung tinggi, hingga yang paling membuat saya termenung lama: seseorang yang sengaja menabrakkan diri ke truk yang sedang melaju kencang di jalan raya. Membaca detail beritanya saja sudah membuat ulu hati saya nyeri, bukan hanya karena nyawa yang melayang, tapi karena cara "pergi" yang dipilih ternyata meninggalkan trauma mendalam bagi orang lain yang sebenarnya tidak tahu apa-apa.

Fenomena Penularan yang Tak Kasatmata

Kejadian ini bukan sekadar insiden tunggal. Jika kita melihat secara lebih luas, fenomena bunuh diri di ruang publik atau yang melibatkan pihak ketiga (seperti pengemudi kendaraan umum) menunjukkan adanya pergeseran cara masyarakat kita mengekspresikan keputusasaan. Fenomena ini sering dikaitkan dengan Werther Effect atau copycat suicide, di mana pemberitaan media yang masif tentang bunuh diri cenderung memicu kejadian serupa.

Namun, ada satu hal yang luput dari pembahasan: etika dalam tragedi. Saat seseorang memutuskan untuk mengakhiri hidup dengan cara menabrakkan diri ke kendaraan yang sedang melintas, isu kesehatan mental ini beririsan dengan masalah hukum dan kemanusiaan bagi orang lain. Sopir truk atau masinis kereta api yang tidak bersalah tiba-tiba menjadi "pelaku" tak sengaja dalam sebuah skenario yang tidak pernah mereka minta.

Berdasarkan data dari Polri, angka bunuh diri di Indonesia menunjukkan tren yang cukup mengkhawatirkan. Pada tahun 2023 saja, tercatat ada lebih dari 1.200 kasus bunuh diri yang dilaporkan. Angka aslinya diprediksi jauh lebih tinggi karena adanya stigma sosial yang membuat banyak kasus tidak dilaporkan (underreported).

Lebih spesifik lagi, metode bunuh diri di jalan raya atau rel kereta api memberikan beban psikologis yang sangat berat bagi saksi mata dan operator kendaraan. Sebuah studi dalam Journal of Affective Disorders menyebutkan bahwa mayoritas masinis atau sopir yang terlibat dalam insiden bunuh diri di jalan akan mengalami Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD) yang parah. Mereka kehilangan mata pencaharian, dihantui rasa bersalah seumur hidup, bahkan tak jarang harus berhadapan dengan proses hukum yang melelahkan meski mereka berada di posisi yang benar.

Antara Empati dan Realitas yang Pahit

Saya sangat paham bahwa kesehatan mental itu nyata. Saya tahu rasanya berada di titik di mana dunia terasa gelap dan satu-satunya jalan keluar yang terlihat hanyalah pintu keluar permanen. Kita harus berempati pada mereka yang sedang berjuang melawan badai di kepala mereka sendiri. Namun, saya ingin mengajak kita semua untuk sedikit lebih jujur dan kritis: apakah rasa sakit kita memberikan hak untuk menghancurkan hidup orang lain?

Ketika seseorang memilih menabrakkan diri ke truk, ia tidak hanya mengakhiri hidupnya. Ia juga "membunuh" ketenangan hidup sang sopir. Bayangkan sopir truk tersebut; ia mungkin sedang berjuang mengejar setoran untuk biaya sekolah anaknya atau sekadar ingin pulang bertemu istrinya. Dalam sekejap, hidupnya hancur. Ia mungkin ditahan polisi, kendaraannya disita sebagai barang bukti, dan setiap kali ia memejamkan mata, ia akan melihat wajah seseorang yang menabrakkan diri ke arahnya. Ini bukan lagi sekadar tentang depresi individu, tapi tentang bagaimana keputusasaan seseorang bisa berubah menjadi kejahatan psikologis bagi orang lain.

Keresahan saya adalah ketika media sosial justru memberikan "panggung" bagi cara-cara pergi yang tragis ini secara detail. Komentar-komentar yang muncul kadang terlalu romantis atau justru terlalu menghujat, tanpa melihat sisi korban lain (sang sopir atau saksi mata). Kita seolah lupa bahwa dalam setiap berita bunuh diri di jalan raya, ada orang "hidup" yang masa depannya ikut mati saat itu juga.

Menutup Luka Tanpa Meninggalkan Luka Baru

Saya tidak sedang ingin menghakimi mereka yang sedang terluka hebat. Saya hanya ingin bilang, jika dunia terasa begitu jahat padamu, tolong jangan balas dengan meninggalkan luka baru bagi orang-orang kecil yang sedang berjuang bertahan hidup di luar sana. Jangan biarkan tragedimu menjadi trauma abadi bagi sopir-sopir yang hanya ingin mencari nafkah dengan jujur.

Mungkin kita perlu bertanya pada diri sendiri saat melihat berita-berita serupa di linimasa: Sudahkah kita cukup peduli dengan kesehatan mental orang di sekitar kita sebelum mereka sampai di titik nekat itu? Dan bagi kita yang sedang merasa lelah, tidak apa-apa untuk berhenti sejenak, mencari bantuan, atau sekadar berteriak di ruang hampa. Tapi tolong, mari kita tetap manusiawi.

Hidup ini sudah cukup berisik dengan segala dramanya. Jika memang waktunya untuk pamit harus tiba, biarkanlah itu menjadi urusanmu dengan Sang Pencipta, tanpa harus menyeret mereka yang sedang berjibaku di aspal panas demi sesuap nasi. Karena pada akhirnya, empati seharusnya tidak berjalan satu arah.