Awalnya, saat mendengar judul "Hatchu", saya mengira ini akan menjadi lagu yang menggemaskan, mungkin tentang seseorang yang sedang flu atau sekadar ekspresi cute ala Gen Z. Ekspektasi saya adalah sebuah lagu pop ringan yang bisa menemani saya menyeduh kopi di pagi hari.
Namun, begitu saya menekan tombol play dan mendengar lirik pertamanya, saya justru merasa seperti sedang diajak bicara oleh cermin. Salma Salsabil tidak sedang melucu; dia sedang memotret wajah lelah kita semua.
Lagu ini hadir dengan isu yang sangat tajam: eksploitasi diri dan rutinitas yang membunuh jiwa. Sebagai mahasiswa sekaligus pekerja yang sering dikejar deadline tugas dan target penelitian, liriknya terasa seperti tamparan yang sangat sinkron dengan detak jantung saya yang sering tidak beraturan.
Salma mengangkat isu tentang ketimpangan antara usaha dan hasil, serta bagaimana tenaga kita sering kali hanya dihargai dengan "angka", menjadi tema sentral yang sangat relevan dengan situasi ekonomi dan mental anak muda saat ini.
Garis besar narasinya sangat jelas—meski ini baru versi preview. Salma bercerita tentang seseorang yang terjebak dalam siklus "pagi hingga pagi lagi". Konflik utamanya bukan melawan orang lain, melainkan melawan waktu yang seolah tidak pernah cukup. "Lalu jam dinding menyuruh pulang tapi ku tak peduli," adalah kalimat pembuka yang sangat magis. Itu adalah potret nyata bagi kita yang sering mengabaikan alarm tubuh demi menuntaskan tanggung jawab yang tidak ada habisnya.
Secara intelektual, saya sangat mengagumi bagaimana Salma mampu membungkus kritik sosial yang berat ini ke dalam irama yang justru enak dipakai bergoyang tipis. Ini adalah kontradiksi yang cerdas. Lirik "Pagi dikejar target malam ditagih kembali" adalah rangkuman dari hidup hampir semua orang di produktif. Sebagai asisten dosen, saya sangat merasakan bagaimana pagi hari diisi dengan mengejar target akademik, dan malam hari energi saya ditagih kembali untuk urusan administratif atau persiapan mengajar besok.
Respons emosional saya memuncak pada bagian: "Gaji masih disetel begini, tarik napas sebentar besok diulangi lagi." Ini adalah puncak kejujuran dari lagu ini. Ada rasa lelah yang kolektif ketika kita menyadari bahwa sistem sering kali "menyetel" hidup kita sedemikian rupa sehingga kita hanya punya waktu untuk bernapas sebentar sebelum masuk kembali ke mesin penggiling rutinitas. Salma menyanyikannya dengan nada yang seolah-olah pasrah namun tetap punya karakter, membuat saya merasa tidak sendirian dalam keletihan ini.
Kelebihan utama dari lagu ini adalah keberaniannya untuk tidak menjadi "sok motivasi". Salma tidak menyuruh kita untuk semangat atau pantang menyerah. Sebaliknya, lirik "Dan bersyukur seperlunya" adalah oase bagi kesehatan mental. Di tengah gempuran konten yang menyuruh kita untuk selalu bersyukur secara berlebihan (yang terkadang menjadi toxic positivity), Salma memberikan ruang bagi kita untuk menjadi manusia yang realistis. Ya, syukur itu perlu, tapi secukupnya saja—sisanya, biarkan kita merasa lelah dan kecewa pada keadaan.
Kekurangannya? Mungkin terkait durasi preview ini benar-benar sebuah penyiksaan. Kita hanya diberi potongan realitas yang sangat relatable tanpa tahu bagaimana resolusi akhirnya. Namun, justru itulah kekuatannya; lagu ini membuat pendengarnya merasa "digantung" sebagaimana hidup kita yang sering kali digantung oleh ketidakpastian gaji atau nilai akhir.
Menurut saya, "Hatchu" adalah lagu wajib bagi para pejuang subuh, budak korporat, hingga mahasiswa pejuang skripsi. Kesan yang tertinggal setelah mendengar lagu ini adalah sebuah pemakluman bahwa menjadi lelah itu manusiawi. Kita memang tetap datang bekerja, tenaga kita memang sering bertukar dengan angka yang kadang kurang dan kadang lebih, tapi setidaknya kita punya Salma yang menyuarakan isi hati kita dengan sangat estetik.
Setelah mendengarkan "Hatchu", saya belajar satu hal penting: tidak apa-apa jika mimpi kita terlalu tinggi hingga membuat kita harus berlari pagi hingga pagi lagi, asalkan kita tahu kapan harus berhenti sejenak untuk sekadar menarik napas. Karena pada akhirnya, kita bukan robot yang disetel oleh jam dinding; kita adalah manusia yang berhak bersyukur seperlunya dan beristirahat sepenuhnya.
Identitas Karya
- Judul: Hatchu!! (Preview)
- Penyanyi: Salma Salsabil
- Tahun Rilis: 2026
- Genre: Pop / Groove
- Durasi Video: 0:37 detik
- Kanal Youtube: Salma Salsabil
- Tautan: https://youtu.be/hkMkPrZX3cM?si=iPYe-YIj-yXpIw6s
Baca Juga
-
Saya Menemukan Teman Bicara di Balik Lembaran Kertas 'Self-Talk Journal'
-
Kalau Dunia Terasa Jahat, Tolong Jangan Balas ke Orang yang Gak Salah
-
Setelah Menonton MV Sal Priadi, Saya Sadar Doa Tak Selamanya Soal Meminta
-
Negara Sibuk Urus Minat Baca, tapi Lupa Membangun Ruang untuk Saling Bicara
-
Hardiknas, Masa Depan Guru, dan Pertarungan Melawan 'Mesin Pintar'
Artikel Terkait
Ulasan
-
Ironi Cinta dalam Buku Passion: Mencintaimu dalam Setiap Ruang dan Waktu
-
Menertawakan Hidup ala Drunken Marmut: Catatan Humor yang Tak Sekadar Lucu
-
Review Novel Talon: Ketika Naga Jatuh Cinta pada Manusia
-
Saya Menemukan Teman Bicara di Balik Lembaran Kertas 'Self-Talk Journal'
-
Resep Kaya ala Orang Cina: Ketika Strategi yang Tepat Terlihat Seperti Hoki
Terkini
-
5 Hair Tonic Biotin untuk Transformasi Rambut Lebih Lebat dan Sehat
-
5 Rekomendasi Drama Korea Healing dengan Latar Pedesaan, Bikin Hati Adem
-
Validasi di Media Sosial: Kebutuhan atau Ketergantungan yang Tak Disadari?
-
Pori-Pori Bersih Maksimal! 3 Clay Mask Red Bean Terbaik untuk Kulit Glowing
-
Menjadi Dewasa Tanpa Panduan: Proses Hidup Belajar dari Kesalahan Sendiri