Belum lama publik diguncang kabar seorang anak yang mengakhiri hidup karena tak sanggup membeli buku, dunia pendidikan kembali menyuguhkan ironi yang tak kalah menyakitkan. Seorang siswa meregang nyawa setelah terlalu lama menahan sakit di kakinya akibat sepatu yang ukurannya sudah terlalu kecil.
Ironisnya, kabar ini muncul di bulan ketika Hari Pendidikan Nasional dirayakan dengan berbagai slogan tentang kemajuan, mutu pendidikan berkualitas, dan pemerataan. Di tengah perayaan tersebut, saya justru kembali bertanya-tanya: apa yang sebenarnya sedang terjadi pada pendidikan negara kita?
Mandala mungkin hanya satu dari sekian banyak siswa dari keluarga rentan yang berjuang agar tetap bisa bertahan di bangku sekolah. Ia adalah siswa salah satu SMK di Samarinda yang namanya belakangan ramai diperbincangkan. Namun, yang membuat dada saya semakin sesak bukan semata karena ia meninggal dunia, melainkan karena sebelum itu Mandala masih berusaha menjalani hari-harinya seperti biasa—bersekolah, magang, dan menahan sakit sendirian.
Sepatu yang tak lagi muat di kakinya ia modifikasi dengan bantalan spons agar rasa sakitnya sedikit berkurang. Akan tetapi, aktivitas sekolah dan magang yang cukup berat membuat kondisinya perlahan memburuk. Kakinya membengkak, rasa sakit menjalar hingga ke pinggang dan kepala, sampai akhirnya nyawanya tak tertolong.
Menempuh pendidikan di SMK memang berarti bersiap lebih dini menghadapi ritme dunia kerja. Para siswa tidak hanya dituntut memahami teori di kelas, tetapi juga dibiasakan dengan praktik lapangan, kedisiplinan, ketahanan fisik, serta kemampuan beradaptasi dengan lingkungan industri. Salah satu bentuk nyata dari tuntutan itu adalah Praktik Kerja Lapangan (PKL), kegiatan yang sering kali mengharuskan siswa bekerja layaknya tenaga profesional.
Dalam banyak kasus, siswa SMK bahkan dituntut menyesuaikan diri dengan jam kerja, target tugas, dan ritme pelayanan yang tidak jauh berbeda dari pekerja dewasa. Mereka dilatih untuk terbiasa sigap, tahan tekanan, dan tidak mudah mengeluh. Sayangnya, kesiapan mental dan fisik siswa tidak selalu berjalan beriringan dengan tuntutan sebesar itu.
Namun, beban sebesar itu tidak selalu dibarengi dengan perlindungan yang memadai terhadap kondisi siswa. Dalam kasus Mandala, sebelum berpulang selamanya, ia masih mengikuti kegiatan magang di pusat perbelanjaan yang memaksanya berdiri terlalu lama hingga memperparah kondisi fisiknya.
Situasi ini memunculkan pertanyaan yang sulit diabaikan: sejauh mana sekolah benar-benar memonitor kesiapan fisik siswanya sebelum menerjunkan mereka ke lapangan? Ketika keluhan mulai muncul, apakah itu cukup dianggap serius? Dan siswa dari keluarga rentan, apakah kondisi mereka sudah benar-benar terbaca dengan baik oleh sekolah?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut terasa mengganggu karena sering kali sekolah tanpa sadar membangun budaya bahwa murid harus kuat dalam keadaan apa pun. Siswa yang tetap masuk saat sakit dianggap rajin. Siswa yang tahan lelah dipuji sebagai pribadi disiplin. Padahal, tidak sedikit anak bertahan bukan karena mereka baik-baik saja, melainkan karena merasa tidak punya pilihan lain.
Ada anak yang memilih diam karena takut dianggap merepotkan. Ada pula yang menahan keluhan karena khawatir dinilai tidak sanggup menjalani proses belajar di SMK. Jika situasi seperti ini terus dianggap biasa, sekolah akan kehilangan fungsi dasarnya sebagai ruang aman bagi siswa untuk bertumbuh.
Di titik inilah sekolah seharusnya tidak cukup hanya menjadi tempat mencetak lulusan siap kerja. Sekolah juga harus menjadi sistem pengaman pertama bagi para siswanya—membaca kerentanan mereka, mendengarkan keluhan-keluhan kecil, serta memastikan bahwa setiap anak berada dalam kondisi aman untuk belajar dan menjalani praktik lapangan. Kerja sama dengan pemerintah daerah untuk memetakan siswa dari keluarga rentan pun menjadi hal yang tidak kalah penting agar bantuan yang diberikan benar-benar tepat sasaran.
Sebab sebelum dipaksa siap menghadapi kerasnya dunia kerja, mereka tetap anak-anak yang semestinya terlebih dahulu merasa aman dan terlindungi di lingkungan sekolahnya.
Baca Juga
-
Life Update di Media Sosial: Cara Gen Z Saling Berkabar di Era Digital
-
Review Home School: Saat Belajar di Sekolah Tak Harus Lewat Buku Pelajaran
-
Ketika Perjuangan Terasa Disederhanakan dalam Kalimat "Enak, ya, Jadi Kamu"
-
Ulasan Film Unlocked: Ketika Kehilangan Ponsel Jadi Awal Teror Paling Nyata
-
Review Welcome to Samdal-ri: Saat Kegagalan Bukan Akhir dari Segalanya
Artikel Terkait
Kolom
-
Akses Pendidikan Perempuan: Sudahkah Merdeka Belajar Benar-benar Setara?
-
Warteg dalam Perspektif Gender: Tempat Makan yang Tak Ramah Perempuan
-
Melepaskan Diri dari Standar Kecantikan Toksik: Literasi Digital untuk Lawan Body Dysmorphia
-
Jurnal Pagi: Sentuhan Sederhana yang Mengubah Literasi dan Karakter Siswa
-
Kita Tak Kekurangan Program Lingkungan, Kita Kekurangan Kebiasaan
Terkini
-
Makna Lagu 'Petal' Ariana Grande: Luka Jadi Bahan Bakar untuk Tumbuh
-
Intip 4 OOTD Y2K Pop-Punk ala Choi Yena, Gaya Lebih Cute dan Rebel!
-
Mengapa The Yellow Wallpaper Dianggap Karya Sastra dengan Kritik Feminisme?
-
Disuruh Jajan demi Selamatkan Negara? Dompet Kita: Giliran Gue Lagi?
-
Rilis Surfin' Boy, Red Velvet Warnai Musim Panas dengan Suasana Romantis