Ada kalanya, rasa penat tidak butuh perjalanan jauh untuk reda. Cukup dengan duduk di serambi masjid, menikmati angin sore, dan membiarkan hati kembali tenang. Masjid bukan sekadar tempat beribadah bagi umat muslim. Bagi sebagian orang, ia juga menjadi ruang paling nyaman untuk menenangkan pikiran yang terlalu ramai.
Beberapa waktu lalu, saya dan teman-teman sepakat untuk mengadakan pertemuan diskusi di Masjid Agung Kota Kediri yang letaknya di tengah kota dan mudah ditemukan. Sekitar pukul 15.00 saya berangkat dari rumah. Jaraknya memang tak jauh, hanya sekitar tujuh menit perjalanan dengan ojek online, tetapi sore itu rasanya memang sedang butuh keluar sejenak untuk mencari suasana baru.
Diskusi dijadwalkan mulai pukul 16.00. Sementara saya tiba di sana jauh lebih awal. Begitu tiba, saya langsung berjalan mencari sudut paling nyaman untuk duduk di serambi masjid. Sembari menyandarkan tubuh ke salah satu tiang, pandangan saya tertuju ke sekeliling.
Masjid sore itu tampak cukup ramai pengunjung. Ada yang duduk sendirian sambil memainkan ponsel, ada yang duduk bersama keluarga atau teman, ada pula anak-anak yang berlarian di sekeliling masjid. Dari serambi itu, saya melihat kendaraan berlalu-lalang tanpa henti di jalan raya depan masjid. Sebagian berhenti di deretan pedagang kaki lima, sementara lainnya tampak melaju tergesa ke tujuan masing-masing.
Sejenak, saya memejamkan mata dan membiarkan embusan angin sore itu mengenai wajah saya. Hawa sejuk seketika menerpa—terasa begitu syahdu dan nikmat di tengah terik matahari yang masih cukup menyengat. Ada rasa tenang dan damai dalam hati yang sulit dijelaskan, semacam perasaan pulang—meski sebenarnya saya .
Tepat pukul 16.00, teman-teman mulai berdatangan. Kami lalu berpindah ke sudut lain yang lebih sepi. Meski tidak sesejuk serambi depan, suasananya tetap cukup nyaman untuk memulai diskusi sore itu.
Sebelum masuk ke topik inti, kami sempat menyinggung kehidupan masing-masing pasca Ramadan selesai. Membicarakan ibadah-ibadah harian yang kami lakukan selama bulan puasa. Lalu mengakui, bahwa ternyata yang jauh lebih sulit dari mulai melakukan ibadah adalah konsisten menjalaninya. Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi terasa begitu menampar. Memulai memang tidak mudah, tetapi menjaga agar tetap istikamah sering kali jauh lebih sulit.
Pembahasan berlanjut ke tema utama. Melalui diskusi ini, saya seolah kembali diingatkan tentang betapa beratnya perjuangan dakwah Rasulullah. Di awal-awal beliau diangkat menjadi Rasul, banyak masyarakat yang menentang bahkan terang-terangan membenci. Tidak hanya itu, para sahabat yang memeluk Islam pada saat itu pun banyak yang mengalami ujian yang cukup berat. Namun, mereka tetap berpegang teguh pada ajaran Rasulullah. Mendengar kisah itu membuat saya sadar, bahwa ujian kecil yang hari ini sering saya keluhkan sebenarnya belum ada apa-apanya dibanding perjuangan mereka mempertahankan iman.
Obrolan yang berlangsung hampir dua jam itu terasa begitu singkat. Azan magrib pun sudah berkumandang. Kami menutup kegiatan dengan bacaan doa dan istighfar. Setelah itu, kami beranjak untuk melaksanakan salat magrib sebelum pulang ke rumah masing-masing.
Malam itu saya pulang bukan hanya dengan tubuh yang lebih segar karena semilir angin masjid, tetapi juga dengan hati yang terasa jauh lebih penuh. Ada ketenangan dari tempat yang teduh, ada pelajaran dari diskusi yang membuka kembali ingatan tentang perjuangan Rasulullah, dan ada kesadaran kecil bahwa menepi sejenak di rumah Allah memang selalu mampu membuat langkah terasa lebih ringan. Di tengah hari-hari yang sering berjalan tergesa, rupanya duduk sebentar di masjid sambil mengisi hati dengan ilmu bisa menjadi cara sederhana untuk kembali menguatkan diri.
Baca Juga
-
Gaji Terbatas, Pengeluaran Terus Berjalan: Bisakah Downgrade Lifestyle Jadi Solusi?
-
Ulasan On Your Wedding Day: Ketika Melepaskan Menjadi Cara untuk Mencintai
-
Thriller hingga Romcom, 5 Rekomendasi Drama yang Dibintangi Kim Young Kwang
-
Room No. 7: Saat Persoalan Finansial Mengikis Moral dan Empati Seseorang
-
Bikin Senyum-Senyum Sendiri tapi Berujung Luka, Ini 5 Drakor Romantis yang Susah Banget Dilupain!
Artikel Terkait
Ulasan
-
Mengenal Investasi dari Layar Ponsel Bersama New BIONS
-
Menggugat Empati Sineas Lewat Film Putri, Jangan Gentayangan Lagi: Menghibur atau Mengeksploitasi?
-
A Separation: Ketika Urusan Rumah Tangga, Agama, dan Kemiskinan Berubah Jadi Teror yang Nyata
-
Mengingat Kembali Pentingnya Pendidikan Lewat Novel Ronggeng Dukuh Paruk
-
Juni and the Anything Tree, Suara Kecil Anak-Anak untuk Menyelamatkan Alam
Terkini
-
Fakta Unik Daun Salam: Bumbu Masakan Rumahan yang Jadi Simbol Berbagi di Pedesaan
-
489 Hektare Hutan Malang Selatan Hilang, Kini 63 Hektare Kembali Terancam
-
PIH dan Kusam Auto Hempas! 4 Pelembap Pencerah Kemasan Tube Lebih Higienis
-
Sweet Child O' Mine Guns N' Roses: Cinta Axl Rose dan Kenangan Masa Remaja
-
Bye-Bye Lapar Mata! Saat Pajak E-Commerce Bikin Anak Muda Otomatis Jadi Minimalis