Hayuning Ratri Hapsari | Rahel Ulina Br Sembiring
Ilustrasi kejadian (Nano Banana 2/Gemini AI)
Rahel Ulina Br Sembiring

Sudah dua bulan saya kembali ke Batam, kota kelahiran yang sempat saya tinggalkan selama empat tahun. Bukannya merasa homey, saya malah kena culture shock di tanah kelahiran sendiri.

Sebagai anak kos, musuh terbesar saya setiap hari cuma satu: "Besok makan apa ya?". Jujur saya capek harus mikir tiap harinya perkara makan doang. Dulu saat masih tinggal dengan orang tua, menu makan adalah urusan Ibu. Sekarang? Mau tidak mau otak harus diputar setiap malam.

Kenapa saya sampai segitunya memikirkan menu makan? Selain karena harus hemat sebagai perantau di kota sendiri, saya juga punya riwayat asam lambung. Saya juga tidak mau "boncos" hanya untuk urusan makanan.

Biasanya saya masak sendiri. Tapi karena tuntutan pekerjaan, waktu rasanya makin sempit. Akhirnya saya berkompromi: nasi masak sendiri, lauk beli di luar.

Langganan saya adalah sebuah warung nasi padang. Setiap beli lauk, saya selalu perhatikan si Ibu membungkus lauk dengan plastik "es cekek" yang digantung. Sampai di kos, plastik itu saya buka, lauknya dituang ke piring, dan plastiknya dibuang. Begitu terus setiap hari. Saya pernah berpikir sayang banget plastiknya hanya digunakan sekali—itupun gak lama, lalu berakhir di tempat sampah.

Lalu di tengah kebosanan scrolling Instagram, saya melihat sebuah konten yang lewat di beranda saya. Isinya tentang seorang mbak-mbak yang konsisten membawa wadah makanan sendiri setiap beli makan di luar demi mengurangi sampah plastik.

Di situ pikiran saya langsung tergelitik. Saya membatin, "Kayaknya bisa nih aku kayak kakak ini, bawa wadah sendiri." Pokoknya gaya banget lah, niatnya sok-sokan Go Green biar kayak konten-konten estetik di media sosial. Sebagai Gen Z, saya merasa terpanggil. "Oke, aku nggak boleh kalah," pikir saya dengan penuh percaya diri.

Besoknya, saya benar-benar mengeksekusi niat itu. Saya berangkat membawa wadah plastik yang berukuran kira-kira 300 ml lebih dan bisa ditutup rapat. Sampai di warung nasi padang langganan saya, si Ibu sempat bingung melihat wadah yang saya sodorkan.

"Masukkan ke sini, nih?" tanya si Ibu memastikan.

"Iya, Bu," jawab saya mantap, sambil membayangkan betapa kerennya aksi ramah lingkungan saya hari ini.

Saya minta ayam dan sayur dijadikan satu saja karena toh saya makan bersamaan juga. Wadah saya ukurannya lebar, si Ibu terlihat lebih royal menuangkan kuah. Ada tiga jenis kuah sayur berbeda yang dimasukkan. Meski wadahnya yang lebar, isinya hanya sepertiga penuh, tidak sampai setengah apalagi meluap.

Untuk harga lauk disini itu biasanya Rp10.000. Saya sodorkan uang Rp20.000, ekspektasi saya tentu kembaliannya Rp10.000, bukan?

Tapi tahu berapa yang dikembalikan? Cuma Rp7.000, ya guys. Alias harga lauk saya mendadak jadi Rp13.000.

Mungkin buat sebagian orang selisih Rp3.000 itu tidak seberapa. Tapi bagi anak kos, Rp3.000 itu berharga. Di Batam, uang segitu bisa buat beli air mineral Sanford yang berukuran 600 ml seharga Rp2.000, masih ada sisa buat beli permen.

Ekspresi bengong saya tidak bisa disembunyikan. Tapi karena sifat saya yang "nggak enakan" dan kondisi warung lagi ramai, saya urung bertanya.

Ya kali saya debat hanya soal uang Rp3.000? Akhirnya saya pergi dengan perasaan dongkol dan menebak-nebak.

Dalam hati saya membatin, apa si Ibu mengira semua orang di Batam ini kaya raya ya karena UMK-nya tertinggi kedua di Indonesia? Bu, ada juga anak kos yang benar-benar merantau dari kampung kayak saya ini. 

Ya saya mengerti sih, belum uang sewa tempat dan uang lainnya dari sisi penjual. Namun, saya tidak dapat klarifikasi kenapa harganya naik. Apa karena wadah saya kegedean? Padahal isinya pun tidak sampai setengah wadah. Tapi ya porsi kuah itu kan takaran si Ibu sendiri, bukan permintaan saya. Kecuali tadi saya minta kuahnya dibanyakin.

Kejadian ini bikin saya kapok. Sepertinya itu terakhir kalinya saya bawa wadah sendiri ke sana. Pelajarannya, kalau mau sok-sokan Go Green bawa wadah sendiri, mending tanya dulu di awal: "Ini nggak nambah harga kan, Bu, kalau pakai wadah sendiri?"

Gara-gara kejadian itu, besoknya saya udah tidak mood belanja di sana lagi. Mending sekalian saja tadinya saya beli nasi bungkus Rp15.000, sudah jelas harganya dan tidak bikin batin meronta-ronta.

Tapi saya akui, saya juga harus berterimakasih ke si Ibu, karena beliau tulisan ini lahir. Sekian.