Ada sebuah narasi besar yang melekat erat di bahu anak bungsu, apalagi kalau dia perempuan: "anak manja yang hidupnya paling enak." Sejak kecil, saya terbiasa mendengar seloroh kerabat kalau saya adalah "tabungan masa depan" orang tua. Awalnya, itu terdengar manis, seperti sanjungan bahwa saya adalah kesayangan.
Namun, seiring bertambahnya usia, ketika satu per satu kakak saya mulai mengepak koper, menikah, dan membangun benteng mereka sendiri di kota lain, kalimat manis itu mulai terasa seperti rantai yang dingin di kaki.
Rumah yang dulu ramai, perlahan menyusut menjadi sunyi yang hanya diisi oleh suara TV dan batuk orang tua yang kian sering terdengar. Di saat teman-teman sebaya saya sibuk mengunggah foto boarding pass untuk merantau atau mengejar beasiswa ke luar negeri, saya justru sibuk menghafal jadwal minum obat ibu dan memastikan kompor sudah mati sebelum tidur. Ada sebuah beban emosional yang tidak kasatmata di balik label "anak bungsu perempuan".
Secara sosiologis, fenomena ini dikenal sebagai The Designated Caretaker atau penjaga yang ditunjuk. Ini bukan sekadar kebetulan, melainkan konstruksi sosial yang cukup kaku. Anak bungsu perempuan sering kali secara otomatis "terpilih" untuk tinggal paling lama atau selamanya di rumah asal.
Mengapa? Karena kakak-kakak dianggap sudah punya "kehidupan nyata", sementara si bungsu dianggap paling fleksibel, atau lebih tepatnya, paling mudah dikorbankan aspirasinya demi stabilitas domestik keluarga.
Data dari Pew Research Center mengenai generasi sandwich sering kali menyoroti beban perempuan dalam perawatan lansia. Di Indonesia, nilai budaya "bakti" sering kali dikerucutkan menjadi kehadiran fisik. Sebuah penelitian mengenai dinamika keluarga sering menunjukkan bahwa anak perempuan memiliki kecenderungan lebih tinggi dalam memberikan perhatian emosional dan fisik kepada orang tua dibandingkan anak laki-laki. Bagi si bungsu, tekanan ini berlipat ganda karena tidak ada lagi "antrean" di bawahnya untuk berbagi beban tersebut.
Sejujurnya, ada rasa iri yang menyeruak ketika melihat kakak-kakak hanya perlu pulang setahun sekali saat Lebaran, membawa oleh-oleh, lalu pulang kembali ke kehidupan mereka yang merdeka. Sementara saya? Saya adalah orang yang melihat setiap helai rambut putih orang tua tumbuh, yang merasakan kepikunan mereka secara real-time, dan yang paling depan menghadapi rasa bersalah jika ingin keluar rumah hanya untuk sekadar ningkrong bersama teman sebaya.
Apakah adil jika hak seorang anak untuk menjelajahi dunia harus dihilangkan hanya karena urutan kelahirannya? Kita sering terjebak dalam romantisisme "anak berbakti" sampai lupa bahwa si bungsu juga punya mimpi yang mungkin letaknya bukan di ruang tamu rumah masa kecilnya. Dampaknya bukan main-main. Banyak anak bungsu perempuan mengalami kelelahan emosional dan hambatan karir yang signifikan karena mereka harus menahan diri demi menjaga perasaan orang tua yang takut kesepian.
Kita perlu mengakui bahwa merawat orang tua adalah tanggung jawab kolektif seluruh anak, bukan "hadiah" terakhir bagi si bungsu. Urgensi isu ini terletak pada penjaga kesehatan mental. Jangan sampai, atas nama kasih sayang, kita membiarkan satu orang kehilangan masa mudanya karena dianggap "paling pas" untuk tinggal.
Pada akhirnya, saya hanya ingin kita semua merenung. Untuk kamu yang juga anak bungsu perempuan, apakah kamu tinggal karena benar-benar ingin, atau karena kamu merasa tidak punya pilihan lain? Dan untuk para kakak yang sudah "terbang" jauh, sudahkah kalian bertanya, bagaimana kabar adik bungsumu di rumah? Jangan-jangan, kebebasan yang kalian nikmati hari ini adalah hasil dari mimpinya yang ia kubur dalam-dalam demi menjaga pintu rumah agar tetap hangat untuk kalian kunjungi setahun sekali.
Menjadi anak bungsu bukan berarti menjadi penunggu tetap di stasiun terakhir keluarga. Kita pun berhak menjadi masinis bagi hidup kita sendiri. Jangan sampai bakti kita lahir dari rasa takut dan bersalah, melainkan dari pilihan sadar yang merdeka. Jadi, masih mau bilang anak bungsu itu paling manja?
Baca Juga
-
Lonceng Terakhir di Ruang Kelas
-
Kalau Jelek Gak Boleh Marah? Maaf Sal Priadi, Saya Tidak Setuju
-
Preview Lagu Hatchu Salma Menyadarkan Saya Kalau Syukur Itu Ada Batasnya
-
Saya Menemukan Teman Bicara di Balik Lembaran Kertas 'Self-Talk Journal'
-
Kalau Dunia Terasa Jahat, Tolong Jangan Balas ke Orang yang Gak Salah
Artikel Terkait
-
Harga Beda Tipis, Mending Kia Carens atau Honda BR-V untuk Jadi Mobil Keluarga?
-
Diam-diam Rilis Versi Mewah: Suzuki Hadirkan Mobil Pekerja Keras Murah, Bisa Jadi Andalan Keluarga
-
Novel "Nyala yang Tak Pernah Padam": Saat Luka Tidak Membuatmu Menyerah
-
Silsilah Keluarga Yosika Ayumi, Istri Aksa Uyun yang Jadi Menantu Soimah
-
ILRC Ungkap Femisida Banyak Terjadi di Ruang Privat, Pelaku Bisa Pasangan hingga Keluarga
Kolom
-
Uang Tidak Bisa Membeli Kebahagiaan Adalah Kebohongan Terbesar yang Kita Percaya
-
Generasi Cemas di Tengah Dunia yang Katanya Penuh Kemudahan
-
Di Era Serba Cepat, Apakah Tulisan Mendalam Masih Memiliki Tempat?
-
Istilah Guru Honorer Dihapus, Bisakah PPPK Paruh Waktu Menjadi Solusi?
-
Kampus sebagai Ruang Belajar atau Pelaksana Program Negara?
Terkini
-
Awalnya Ragu, Drama Can This Love Be Translated? Ternyata Sebagus Itu
-
Setelah 3 Tahun, Yoo Seon Ho Umumkan Hengkang dari 2 Days & 1 Night Season 4
-
Katanya AI Mau Gantiin Manusia? Atlet Excel Ini Buktikan Robot Gak Ada Apa-apanya!
-
Debut Layar Lebar! Nam Woo Hyun INFINITE Bintangi Film Aksi Kriminal The Guardian
-
Sinopsis Your Own Quiz, Film Misteri Jepang Dibintangi Tomoya Nakamura