Dulu, saya percaya bahwa loyalitas di tempat kerja pasti akan dihargai. Kalau rajin, selalu siap membantu, dan bekerja lebih dari yang diminta, pasti suatu hari akan dianggap penting oleh perusahaan.
Setidaknya, itu yang sering saya dengar sejak lama. Tapi semakin saya melihat realita dunia kerja sekarang, semakin saya sadar kalau banyak orang mulai kehilangan kepercayaan terhadap konsep loyalitas.
Bukan karena malas bekerja, tapi karena terlalu sering melihat usaha yang besar tidak benar-benar dibalas secara setimpal. Dan mungkin itu alasan kenapa banyak orang sekarang terlihat lebih “cuek” di kantor.
Kerja Lebih, Apresiasi Minim
Saya pernah berada di fase ingin memberikan yang terbaik di tempat kerja. Datang tepat waktu hingga tetap membalas chat pekerjaan di luar jam kerja. Saya bahkan menjalaninya tanpa meminta bayaran lembur.
Saya pikir, semakin banyak kontribusi yang diberikan, semakin besar kemungkinan untuk berkembang. Tapi lama-lama saya sadar kalau kerja lebih tidak selalu berarti dihargai lebih.
Ada orang yang bekerja ekstra setiap hari, tapi kenaikan gaji tetap biasa saja. Ada yang rela mengorbankan waktu pribadi, tapi posisinya tidak berkembang. Mungkin ini alasan kenapa banyak orang akhirnya memilih bekerja “secukupnya”.
Dunia Kerja Tidak Selalu Memberi Rasa Aman
Hal lain yang membuat banyak orang berubah adalah rasa aman yang semakin tipis. Saya sering melihat kabar PHK mendadak, termasuk karyawan lama yang tetap bisa kehilangan posisinya sewaktu-waktu.
Di situ saya mulai berpikir, kalau perusahaan bisa secepat itu melepas karyawan, kenapa pekerja selalu dituntut untuk loyal tanpa batas? Pertanyaan itu mungkin terdengar sinis, tapi cukup realistis di kondisi sekarang.
Generasi Sekarang: Memprioritaskan Diri Sendiri
Menurut saya, generasi sekarang punya cara pandang yang berbeda terhadap pekerjaan. Kalau dulu loyalitas dianggap nilai utama, sekarang banyak orang mulai lebih memprioritaskan kesehatan mental, waktu pribadi, dan keseimbangan hidup.
Bukan berarti tidak profesional, tapi ada kesadaran kalau hidup tidak bisa hanya dihabiskan untuk pekerjaan. Orang mulai belajar menetapkan batas dan tidak selalu merasa harus siap 24 jam.
Bahkan kini banyak pekerja yang tidak lagi merasa bersalah saat mengambil waktu istirahat. Karena fakta di lapangan malah mengajarkan loyalitas tanpa batas sering membuat diri sendiri kelelahan.
“Cuek” di Kantor: Bentuk Perlindungan Diri
Banyak orang menganggap karyawan sekarang kurang punya etos kerja karena terlihat lebih santai atau tidak terlalu “all out”. Padahal menurut saya, sikap cuek itu sering kali lahir dari pengalaman.
Ada yang pernah terlalu berdedikasi tapi tidak dihargai. Ada yang burnout karena terus memaksakan diri. Ada juga yang sadar jika sekeras apa pun bekerja, posisinya tetap mudah digantikan.
Akhirnya, mereka memilih menjaga jarak secara emosional dengan pekerjaan. Bukan karena tidak peduli, tapi karena ingin melindungi diri sendiri saking minimnya apresiasi atas loyalitas.
Loyalitas Seharusnya Dua Arah
Saya mulai percaya kalau loyalitas tidak bisa hanya dituntut dari satu sisi. Jika perusahaan ingin pekerjanya loyal, maka pekerja juga perlu merasa dihargai. Bukan hanya lewat kata-kata motivasi, tapi juga sistem kerja yang sehat dan apresiasi nyata.
Karena hubungan kerja seharusnya bukan soal siapa yang paling banyak berkorban, tapi soal saling menghargai. Dan saat hal itu tidak ada, wajar jika banyak orang mulai menjaga ekspektasi mereka terhadap pekerjaan.
Bekerja Profesional: Tidak Harus Mengorbankan Diri
Banyak orang masih ingin bekerja dengan baik, tetap bertanggung jawab pada tugas-tugasnya, dan berkembang dalam karier. Tapi, mereka tidak lagi ingin mengorbankan diri sepenuhnya agar disebut sebagai pekerja yang baik.
Sekarang ini mulai muncul pemahaman jika profesionalisme tidak harus berarti selalu tersedia, mengalah, atau mendahulukan kantor dibanding hidup pribadi. Karena pada akhirnya, pekerjaan memang penting, tapi hidup saya juga penting.
Antara Bertahan dan Menjaga Diri
Menurut saya, perubahan sikap pekerja sekarang bukan semata-mata karena generasi ini malas atau terlalu sensitif. Banyak orang hanya sedang belajar realistis terhadap dunia kerja yang juga terus berubah.
Ketika loyalitas tidak selalu dibayar dengan keamanan, apresiasi, atau kesejahteraan, wajar jika banyak pekerja mulai menjaga jarak emosional dengan kantor.
Dan mungkin, menjadi lebih “cuek” bukan berarti tidak peduli terhadap pekerjaan. Ini hanya cara untuk tetap bertahan tanpa kehilangan diri sendiri di tengah tuntutan kerja yang semakin melelahkan.
Baca Juga
-
Membeli karena Butuh atau FOMO? Refleksi Gaya Hidup Gen Z di Era Konsumtif
-
Perempuan dan Inner Critic: Saat Suara dalam Diri Malah Jadi Musuh Terbesar
-
Self-Love vs People Pleasing: Dilema Perempuan di Persimpangan Jati Diri
-
Perempuan dan Gerakan Zero Waste: dari Dapur Rumah ke Perubahan Lingkungan
-
Eco-Friendly Mahal: Tantangan Anak Muda yang Ingin Peduli Lingkungan
Artikel Terkait
-
Kabur ke Bogor, Motif Pelaku Bacok Karyawan Roti di Cengkareng Ternyata Gara-gara Nyaris Senggolan!
-
Jangan Diabaikan! Ini Alasan Karyawan Harus Punya BPJS Ketenagakerjaan dan BPJS Kesehatan
-
Pembacokan Mengerikan di Cengkareng, Karyawan Pabrik Roti Tewas Bersimbah Darah
-
Panduan Lengkap Program Spesial BRI Multiguna untuk Karyawan
-
Perusahan Tambang Asal Australia Nunggak Hak Karyawan RI Rp 600 Miliar
Kolom
-
Penolakan LCC Ulang oleh SMAN 1 Pontianak dan Versi Lite Pemberontakan Kaum Pintar
-
Retorika Pidato Presiden di Nganjuk, Menenangkan atau Menidurkan Logika?
-
Mental Inlander dan Luka Panjang Kolonialisme dalam Buku Max Havelaar
-
Tentang Dolar dan Orang Desa: Meluruskan Logika Pidato Presiden di Nganjuk
-
Masih Nongkrong di Kafe Saat Rupiah Anjlok? Pikirkan Lagi, Ini Risikonya buat Anak Kos
Terkini
-
Salmokji Sukses Besar, Intip 5 Film Horor Korea Terbaru 2026
-
Tuhan Belum Selesai Menuliskan Cerita Hidupmu
-
Man on Fire, Series yang Sibuk Jadi Thriller Politik Sampai Lupa Rasa
-
Namkoong Min Comeback Lewat Drama Thriller 'The Husband', Tayang Juli 2026
-
Dibalik Pesona F4: Mengapa Kita Harus Berhenti Mengagungkan Hubungan Gu Jun Pyo dan Geum Jan Di?