Orang desa tidak pakai dolar. Kalimat Presiden Prabowo Subianto itu sebenarnya tidak salah. Bahkan sangat benar. Orang desa memang bertransaksi memakai rupiah. Pedagang sayur di pasar tidak menerima dolar. Tukang gorengan di pinggir jalan tidak memasang harga dalam mata uang Amerika. Nelayan, buruh, petani, sopir angkot, semuanya hidup dengan rupiah.
Masalahnya, rakyat tidak sedang bingung soal mata uang apa yang dipakai untuk membeli cabai atau beras. Yang membuat masyarakat gelisah justru satu kenyataan lainlain. Mengapa kehidupan mereka tetap terasa dipengaruhi dolar, padahal mereka tidak pernah memegangnya?
Di sinilah ironi ekonomi Indonesia terasa sangat nyata. Secara administratif kita hidup dengan rupiah, tetapi secara praktik banyak harga kebutuhan pokok bergerak mengikuti naik-turunnya dolar.
Ketika nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar Amerika, harga pangan, bahan bakar, logistik, bahkan kebutuhan rumah tangga ikut merangkak naik. Rakyat akhirnya bertanya-tanya.
Kalau memang kita tidak memakai dolar, mengapa hidup kami ikut terguncang saat dolar menguat?
Pernyataan seperti itu sebenarnya terdengar sederhana, tetapi menjadi sensitif karena diucapkan di tengah tekanan ekonomi yang dirasakan masyarakat. Harga kebutuhan pokok terus naik, daya beli melemah, sementara penghasilan banyak orang stagnan.
Dalam situasi seperti itu, publik tidak membutuhkan penegasan bahwa Indonesia memakai rupiah. Semua orang sudah tahu itu sejak SD. Yang ingin didengar rakyat adalah penjelasan mengapa rupiah mereka terasa semakin kecil nilainya di pasar.
Karena faktanya, sistem ekonomi modern memang membuat Indonesia sulit sepenuhnya lepas dari pengaruh dolar. Banyak komoditas penting masih bergantung pada impor atau mekanisme pasar global. Gandum, kedelai, bahan bakar, bahan baku industri, hingga pakan ternak sebagian besar berkaitan dengan perdagangan internasional yang menggunakan dolar sebagai standar transaksi.
Akibatnya, ketika dolar naik, biaya impor ikut meningkat. Importir mengeluarkan biaya lebih besar, distributor menaikkan harga, pedagang menyesuaikan tarif, lalu rakyat kecil menjadi ujung terakhir yang menanggung semuanya. Bahkan barang yang tampaknya lokal sekalipun sering tetap terhubung dengan rantai ekonomi global.
Contohnya sederhana. Harga ayam bisa naik bukan hanya karena stok ayam berkurang, tetapi juga karena harga pakan ternak meningkat. Sementara bahan baku pakan banyak yang bergantung pada impor. Begitu pula harga cabai atau beras yang ikut terdampak biaya distribusi dan bahan bakar. Pada akhirnya, dolar memang tidak ada di tangan rakyat, tetapi bayangannya hadir di hampir semua harga kebutuhan hidup.
Inilah yang membuat sebagian masyarakat merasa ucapan semacam itu terdengar terlalu normatif. Benar secara teknis, tetapi tidak menyentuh akar keresahan publik. Sebab rakyat tidak sedang memperdebatkan mata uang transaksi, melainkan daya tahan hidup mereka.
Ada jarak yang cukup lebar antara bahasa ekonomi elite dan realitas ekonomi rakyat sehari-hari. Di level atas, pelemahan rupiah mungkin dibahas dengan istilah makroekonomi, stabilitas fiskal, atau sentimen pasar global. Namun di level bawah, semua itu diterjemahkan menjadi satu hal sederhana: harga sembako naik lagi.
Karena itu, persoalan ekonomi sebenarnya bukan hanya soal angka, tetapi juga soal sensitivitas membaca keadaan masyarakat. Ketika rakyat sedang tertekan, pernyataan publik perlu lebih dari sekadar benar. Ia juga harus relevan dengan kenyataan yang dialami banyak orang.
Di sisi lain, masyarakat juga perlu memahami bahwa tidak semua kenaikan harga bisa disederhanakan sebagai kesalahan satu pihak. Struktur ekonomi Indonesia memang masih memiliki ketergantungan tinggi terhadap pasar global.
Selama kebutuhan strategis masih bergantung pada impor dan rantai distribusi panjang, pengaruh dolar akan terus terasa dalam kehidupan sehari-hari.
Pertanyaannya bukan lagi apakah kita memakai dolar atau tidak. Pertanyaan yang lebih penting adalah: kapan rakyat benar-benar bisa hidup tanpa harus cemas setiap kali nilai dolar naik?
Sebab bagi masyarakat kecil, stabilitas ekonomi bukan soal pidato atau istilah ekonomi rumit. Stabilitas berarti harga beras tetap terjangkau, minyak goreng tidak melonjak, dan penghasilan masih cukup sampai akhir bulan.
Dan selama harga kebutuhan pokok masih bergerak mengikuti gejolak dolar, maka rakyat akan terus merasa satu hal yang pahit.
Rupiah memang ada di dompet mereka, tetapi dolar tetap menentukan isi dapur mereka.
Baca Juga
-
The Screwtape Letters: Saat Iblis Mengajari Cara Menyesatkan Manusia
-
Deforestasi Hari Ini Bukan Lagi soal Pembangunan, tapi Krisis Ekologis
-
Young Sheldon: Kisah Anak Jenius yang Sulit Dipahami, tapi Sulit Dibenci
-
Maju Dengan Berani atau Tidak Sama Sekali! Meminang Asa di Zero to Hero
-
Seni Menjalani Proses dengan Enjoy di Buku The Art of Divine Timing
Artikel Terkait
Kolom
-
Paradoks Demokrasi: Mengapa Pemimpin Militer Berisiko bagi Indonesia?
-
Realita Tidak Estetik Dunia Kerja yang Abu-Abu: Antara Passion dan Tagihan
-
Deforestasi Hari Ini Bukan Lagi soal Pembangunan, tapi Krisis Ekologis
-
Perempuan Berkarier di Tengah Tekanan Sosial: Sukses atau 'Terlalu Sibuk'?
-
Saya Ibu Biasa dan Konten Momfluencer Membuat Saya Merasa Gagal, Mengapa?
Terkini
-
The Screwtape Letters: Saat Iblis Mengajari Cara Menyesatkan Manusia
-
Drama 'Moving 2' Mulai Syuting, Ini Daftar Pemain yang Dipastikan Bergabung
-
Moving Season 2 Bagikan Video Pembacaan Naskah, Pemeran Baru Jadi Sorotan
-
Review We Are Jeni: Film Dokumenter tentang Disosiatif Identity Disorder
-
Belajar dari Seong Hui Ju dan Ian di Perfect Crown: Komunikasi Itu Penting