Lintang Siltya Utami | e. kusuma .n
Ilustrasi bekerja (Pexels/cottonbro studio)
e. kusuma .n

Kalimat motivasi “Kerjalah sesuai passion, nanti hidup akan terasa lebih menyenangkan” terdengar meyakinkan saat jadi konten media sosial tentang cerita orang-orang yang sukses setelah mengikuti apa yang mereka cintai.

Saya pun sempat percaya kalau dunia kerja akan sesederhana itu. Tapi semakin dewasa, saya mulai sadar jika realitanya jauh lebih abu-abu dan tidak seindah itu.

Ada tagihan yang harus dibayar, kebutuhan hidup yang terus berjalan, dan tekanan untuk tetap bertahan meskipun pekerjaan yang dijalani tidak selalu sesuai dengan mimpi.

Dan jujur saja, di titik tertentu saya sempat merasa bingung: apakah saya harus mengejar karier sesuai passion, atau memilih pekerjaan yang paling realistis untuk hidup?

Passion Terdengar Indah, Sampai Bertemu Realita

Saat masih sekolah atau kuliah, saya sering ditanya tentang cita-cita dan pekerjaan impian. Saya membayangkan masa depan yang ideal dengan bekerja di bidang yang saya suka. Tapi ternyata realita dunia kerja tidak selalu berjalan sesuai rencana.

Tidak semua passion menawarkan penghasilan yang cukup stabil.  Tidak semua pekerjaan yang disukai punya peluang besar. Dan kadang, pekerjaan yang paling realistis justru bukan yang paling saya cintai.

Di situ saya mulai memahami kalau hidup tidak selalu memberi ruang untuk memilih dengan bebas. Passion terdengar indah sampai bertemu dengan realita kehidupan yang penuh tekanan.

Dunia Kerja Tidak Selalu Tentang Mimpi

Ada fase di mana saya merasa pekerjaan hanya menjadi alat untuk bertahan hidup, bahkan saat saya bekerja sesuai dengan jurusan saat kuliah dan bisa memanfaatkan teori keilmuan yang sempat didapat.

Bangun pagi, bekerja, pulang dalam keadaan lelah, lalu mengulang rutinitas yang sama keesokan harinya. Kadang saya bertanya ke diri sendiri: apakah ini yang dulu saya bayangkan tentang hidup dewasa?

Media sosial sering menggambarkan dunia kerja dengan sangat estetik—kerja di coffee shop, produktif, mengejar mimpi, dan terlihat bahagia. Padahal realitanya, banyak orang bekerja karena memang harus.

Bukan selalu karena mencintai pekerjaannya, tapi karena ada kebutuhan yang tidak bisa menunggu idealisme. Sebab dunia kerja ternyata tidak melulu tentang mimpi.

Tagihan Membuat Banyak Orang Menunda Mimpi

Saya mulai sadar menjadi dewasa berarti memahami kalau hidup tidak hanya soal apa yang kita inginkan. Ada kebutuhan dan biaya hidup yang harus dipenuhi serta rasa takut tidak punya pemasukan yang cukup.

Semua itu membuat banyak orang akhirnya memilih pekerjaan yang aman meski tidak benar-benar sesuai passion. Bukan berarti menyerah pada mimpi, hanya bentuk bertahan hidup yang realistis.

Saya sendiri sempat merasa tidak nyaman dengan pekerjaan yang tidak sepenuhnya saya suka. Tapi lama-lama saya belajar kalau tidak semua keputusan hidup bisa dibuat hanya berdasarkan idealisme.

Tekanan untuk “Mencintai Pekerjaan”

Hal lain yang cukup melelahkan adalah tuntutan untuk selalu mencintai pekerjaan. Kalimat seperti “kalau passion, pasti nggak akan terasa capek” terdengar indah di medsos. Padahal pekerjaan impian juga tetap bisa melelahkan.

Bahkan saat bekerja sesuai passion, tetap ada tekanan, target, dan burnout. Sebab bekerja adalah bagian dari hidup, bukan seluruh identitas hidup itu sendiri hingga tidak bisa dijadikan sumber kebahagiaan utama.

Hidup Tidak Selalu Hitam Putih

Semakin dewasa, saya mulai melihat dunia kerja dengan lebih realistis. Tidak semua orang bisa langsung bekerja sesuai passion. Tidak semua orang punya privilege mencoba banyak hal tanpa memikirkan kondisi finansial.

Kadang ada orang yang bekerja di tempat yang tidak ideal sambil perlahan membangun mimpinya di waktu lain. Ada juga yang memilih stabilitas terlebih dahulu sebelum mengejar hal yang benar-benar disukai.

Dan menurut saya, semua pilihan itu valid. Karena hidup memang tidak selalu hitam putih. Dunia kerja justru menjadi ruang abu-abu yang harus dihadapi dan kita harus berdamai dengan setiap prosesnya.

Bertahan Hidup Juga Bentuk Perjuangan

Saya masih percaya jika passion itu penting. Hanya saja saya juga menyadari realita hidup sering kali lebih kompleks daripada kutipan motivasi di media sosial.

Ada yang beruntung bisa langsung berjodoh dengan pekerjaan sesuai passion. Ada juga yang setiap hari bekerja keras bukan untuk mengejar mimpi besar, tapi sekadar memastikan hidup tetap berjalan.

Dan mungkin, di tengah dunia kerja yang serba abu-abu ini, bertahan sambil tetap mencoba mengenal diri sendiri juga sudah merupakan bentuk perjuangan yang layak dihargai.