Saya pernah berada di titik di mana pencapaian terasa membanggakan. Sayangnya, komentar orang lain justru membuat semuanya terdengar salah.
Ada pujian sebagai perempuan mandiri sekaligus tekanan soal pengabaian pada keluarga. Seolah pencapaian tadi jadi dikerdilkan.
Tidak jarang ada juga yang bertanya, “Capek nggak sih kerja terus?” atau “Kapan mikirin keluarga?”. Lucunya, pertanyaan seperti itu hampir tidak pernah saya dengar ditujukan kepada laki-laki.
Saat laki-laki sibuk bekerja, mereka dianggap bertanggung jawab dan ambisius. Sementara saat perempuan terlalu fokus pada karier, label yang muncul sering kali berbeda: terlalu sibuk, terlalu independen, terlalu mengejar dunia.
Sebagai perempuan, saya merasa ada tekanan sosial yang berjalan diam-diam tetapi sangat nyata. Kita didorong untuk sukses, berpendidikan tinggi, dan mandiri secara finansial.
Di sisi lain, kita juga tetap harus memenuhi ekspektasi sosial yang kadang bertabrakan dengan realitas hidup. Akibatnya, perempuan sering hidup di tengah dua tuntutan besar: aktualisasi diri dan peran sosial.
Perempuan Modern Dituntut Bisa Segalanya
Saya tumbuh dengan narasi bahwa perempuan modern harus maju. Harus sekolah tinggi, punya penghasilan sendiri, aktif, produktif, dan tidak bergantung pada siapa pun.
Hanya saja, semakin dewasa, saya sadar kalau tuntutan itu ternyata tidak berhenti di sana. Perempuan juga tetap diharapkan bisa selalu hadir untuk keluarga, lembut, dan tidak boleh terlihat terlalu sibuk dengan diri sendiri.
Seolah-olah perempuan harus bisa menjalani dua kehidupan sekaligus tanpa boleh mengeluh. Diakui atau tidak, tuntutan ganda dari masyarakat ini terasa menekan perempuan.
Kadang saya merasa masyarakat menyukai ide tentang perempuan sukses. Sayangnya, mereka juga belum sepenuhnya nyaman melihat perempuan benar-benar memprioritaskan dirinya sendiri.
Ketika perempuan pulang malam karena pekerjaan, masih ada yang memandang negatif. Ketika perempuan memilih fokus membangun karier, muncul anggapan terlalu ambisius.
Bahkan saat perempuan terlihat menikmati pekerjaannya, ada yang langsung menganggap ia tidak peduli kehidupan pribadi. Padahal bekerja bukan hanya soal uang.
Karier bagi perempuan bisa menjadi ruang bertumbuh, tempat menemukan identitas diri, sekaligus bentuk perjuangan untuk hidup yang lebih baik.
Di Balik Perempuan Sibuk, Ada Beban yang Diam-diam Tumbuh
Saya merasa menjadi perempuan berkarier juga sering melahirkan beban. Kadang saya merasa egois jika terlalu fokus pada pekerjaan sekaligus takut dianggap tidak cukup hadir untuk keluarga.
Tekanan sosial membuat perempuan sering mempertanyakan dirinya sendiri. Bahkan ketika sedang melakukan sesuatu yang baik untuk masa depannya.
Saya pernah merasa bersalah karena terlalu sibuk bekerja, seolah mengejar mimpi adalah sesuatu yang tabu. Dan ironisnya, media sosial juga memperbesar tekanan itu.
Di medsos, perempuan sering ditampilkan dalam standar yang nyaris mustahil. Sukses dalam karier, tetap flawless, aktif bersosialisasi, dekat dengan keluarga, punya hubungan stabil, dan terlihat bahagia setiap saat.
Padahal manusia biasa tidak selalu bisa menjalankan semuanya secara sempurna. Akhirnya banyak perempuan kelelahan karena berusaha memenuhi ekspektasi.
Kita ingin sukses, tetapi juga takut dicap terlalu mengejar karier. Kita ingin mandiri, tetapi takut dianggap sulit diatur. Kita ingin berkembang, tetapi khawatir dinilai melupakan kodrat.
Sukses Perempuan Tidak Harus Mengikuti Standar Orang Lain
Semakin bertambah usia, saya mulai memahami definisi sukses sebenarnya sangat personal. Entah berkarier di luar atau di rumah, keduanya valid selama dijalani dengan sadar dan bahagia.
Masalahnya, masyarakat sering terlalu mudah menghakimi pilihan perempuan. Apa pun pilihannya, selalu ada komentar yang mengikuti dan selalu terkesan negatif.
Karena itu saya mulai belajar bahwa hidup tidak bisa dijalani berdasarkan validasi orang lain. Perempuan tidak harus terus membuktikan dirinya “cukup” di mata masyarakat.
Kita tidak perlu merasa bersalah karena memiliki ambisi, sama seperti kita juga tidak boleh direndahkan karena memilih jalan hidup yang berbeda.
Menurut saya, perempuan berkarier bukan berarti melupakan keluarga. Begitu juga perempuan yang memilih fokus pada rumah tangga bukan berarti tidak cerdas atau tidak modern.
Yang perlu dihargai adalah hak perempuan untuk menentukan hidupnya sendiri tanpa terus-menerus dihakimi. Apa pun pilihannya, seharusnya tetap diapresiasi.
Menjadi Perempuan dan Tetap Menjadi Diri Sendiri
Hari ini saya masih belajar menyeimbangkan banyak hal. Masih ada rasa lelah, overthinking, bahkan takut dinilai terlalu sibuk oleh orang lain.
Namun, saya mulai memahami satu hal penting: perempuan tidak harus mengecilkan mimpinya agar terlihat “ideal” di mata sosial.
Menjadi perempuan berkarier dan memiliki ambisi bukanlah kesalahan. Sibuk membangun masa depan juga tidak membuat perempuan kehilangan nilainya.
Karena pada akhirnya, perempuan juga manusia yang punya mimpi, target, dan keinginan untuk berkembang. Bukan sekadar sosok yang harus selalu memenuhi ekspektasi banyak orang.
Baca Juga
-
Dulu Rajin, Sekarang "Cuek": Inilah Alasan Mengapa Banyak Pekerja Mulai Jaga Jarak
-
Membeli karena Butuh atau FOMO? Refleksi Gaya Hidup Gen Z di Era Konsumtif
-
Perempuan dan Inner Critic: Saat Suara dalam Diri Malah Jadi Musuh Terbesar
-
Self-Love vs People Pleasing: Dilema Perempuan di Persimpangan Jati Diri
-
Perempuan dan Gerakan Zero Waste: dari Dapur Rumah ke Perubahan Lingkungan
Artikel Terkait
Kolom
-
Saya Ibu Biasa dan Konten Momfluencer Membuat Saya Merasa Gagal, Mengapa?
-
Ketika Keresahan Masyarakat Terasa Disederhanakan dalam Kalimat "Nggak Pakai Dolar"
-
Berhenti Merasa Nyaman dalam Ketidaktahuan: Mengapa Istri Wajib Tahu Keuangan Keluarga
-
Jebakan Asmara Digital: Mengapa Love Scamming Harus Membuka Mata Hati Kita
-
Dulu Rajin, Sekarang "Cuek": Inilah Alasan Mengapa Banyak Pekerja Mulai Jaga Jarak
Terkini
-
Film Witch on the Holy Night Ungkap Visual Karakter dan Pengisi Suara Utama
-
Anime Prekuel Gundam SEED FREEDOM ZERO Resmi Diumumkan Tayang di Bioskop
-
Young Sheldon: Kisah Anak Jenius yang Sulit Dipahami, tapi Sulit Dibenci
-
Game of Blood X Kembali Tayang pada Juli, Sajikan Survival Paling Brutal
-
Andai Mas Laut Tahu: Ironi Politik Hari Ini dalam Laut Bercerita