Sekar Anindyah Lamase | Oktavia Ningrum
Zero to Hero (Dok.Pribadi/Oktavia)
Oktavia Ningrum

Sudah lama rasanya tidak menangis saat membaca buku. Namun Zero to Hero karya Solikhin Abu Izzuddin berhasil mematahkan itu semua. Buku ini seperti tamparan keras yang terus datang di setiap halaman. Memaksa pembacanya bercermin dan bertanya pada diri sendiri. Selama ini sebenarnya hidupku digunakan untuk apa?

Awalnya, judul buku ini sempat membuat salah paham. Kukira isinya akan seperti buku pengembangan diri pada umumnya. Tentang sukses duniawi, cara membangun karier, atau kisah orang yang berhasil menjadi terkenal. Ternyata aku keliru.

Namun justru kesalahan itulah yang paling kusyukuri. Sebab buku ini membawa sesuatu yang jauh lebih dalam: kesadaran tentang hidup, waktu, perjuangan, dan makna menjadi manusia yang bermanfaat.

Isi Buku

Membaca buku ini seperti menjalani uji mental. Ada rasa malu, kecil, bahkan tak berdaya. Kisah-kisah tokoh besar di dalamnya membuat segala keluhan terasa begitu remeh. Kita sering merasa hidup paling berat, padahal ada banyak manusia luar biasa yang tumbuh dari penderitaan, keterbatasan, dan kesulitan yang jauh lebih besar.

Salah satu bagian paling mengguncang adalah ketika penulis mengutip perkataan Umar bin Khattab:

Kalau saya tidur di siang hari berarti saya mengabaikan hak rakyat, kalau saya tidur di malam hari berarti mengabaikan hak saya beribadah kepada Allah.”

Kalimat itu sederhana, tetapi terasa seperti pukulan telak. Di tengah kehidupan modern yang dipenuhi alasan lelah, malas, dan menunda, sosok seperti Umar bin Khattab menunjukkan bagaimana waktu benar-benar diperlakukan sebagai amanah.

Buku ini berkali-kali mengingatkan bahwa manusia besar lahir bukan karena hidupnya mudah, tetapi karena mereka menghargai waktunya dengan sangat serius.

Penulis juga mengutip perkataan Sayyid Qutb:

Sesungguhnya keberanian itu tidak akan mempercepat ajal karena ajal telah ditetapkan. Sesungguhnya sikap pengecut juga tidak akan memperlambat ajal apabila sudah datang waktunya.”

Kutipan itu menyalakan keberanian yang lama padam. Ada dorongan untuk berhenti hidup dalam ketakutan dan mulai menjalani hidup dengan keyakinan yang lebih besar. Buku ini memang tidak sedang mengajarkan cara cepat menjadi sukses. Ia sedang membangun mentalitas pejuang.

Salah satu pembahasan yang paling membekas terdapat pada uraian tentang waktu. Penulis mengutip pemikiran Al-Ghazali bahwa jika seseorang hidup selama 60 tahun dan tidur 8 jam sehari, maka sekitar 20 tahun hidupnya habis hanya untuk tidur. Angka itu terasa mengerikan. Kita sering mengeluh tidak punya waktu untuk belajar, membaca, beribadah, atau membantu orang lain, padahal waktu yang dimiliki setiap manusia sebenarnya sama: 24 jam sehari.

Kelebihan dan Kekurangan

Buku ini membuat pembaca sadar bahwa yang membedakan manusia biasa dan manusia besar bukan jumlah waktunya, melainkan bagaimana ia menggunakan waktu tersebut.

Penulis menghadirkan banyak kisah tokoh inspiratif, termasuk Thomas Edison yang tetap bertahan meski ribuan kali gagal menemukan lampu pijar. Ketika ditanya bagaimana ia bisa terus mencoba, Edison menjawab bahwa ia hanya menemukan ribuan cara yang salah sebelum menemukan satu cara yang benar.

Dari sana, buku ini menanamkan satu pesan penting: kekuatan terbesar manusia bukan pada bakat, melainkan kemampuan bertahan.

Yang membuat Zero to Hero terasa berbeda adalah nuansa spiritualnya. Buku ini tidak memisahkan kesuksesan dunia dengan kedekatan kepada agama. Justru sebaliknya, penulis menunjukkan bahwa kebesaran para tokoh Islam lahir dari disiplin ibadah, kesederhanaan hidup, dan keinginan memberi manfaat sebesar-besarnya bagi orang lain.

Pesan Moral

Di tengah zaman ketika agama sering tampak lemah, marah, dan kehilangan wibawa, buku ini menghadirkan wajah Islam yang megah, kuat, damai, dan mencerdaskan. Islam yang melahirkan manusia tangguh, bukan manusia yang terus tenggelam dalam keluhan.

Karena itu, Zero to Hero perlu direnungi perlahan. Digarisbawahi kalimat-kalimatnya. Dipikirkan ulang maknanya. Sebab di balik setiap kisah dan nasihatnya, ada dorongan besar untuk membangunkan jiwa yang terlalu lama tertidur.

Dan mungkin itulah alasan mengapa buku ini begitu emosional: karena ia tidak sekadar berbicara tentang menjadi sukses, tetapi tentang menjadi manusia yang lebih bernilai sebelum waktu kita benar-benar habis.

Identitas Buku

  • Judul buku : Zero to Hero; Mendahsyatkan Pribadi Biasa Menjadi Luar Biasa
  • Penulis : Solihin Abu Izzuddin
  • Penerbit : Pro-U Media
  • Tahun Terbit: Februari 2006
  • Tebal : 300 halaman
  • ISBN: 979-25-1922-X
  • Kategori: Motivasi Islam, Pengembangan Diri