M. Reza Sulaiman | e. kusuma .n
ilustrasi uang di dompet (Pexels/Ahsanjaya)
e. kusuma .n

Dulu, saya mengira ketika sudah punya penghasilan sendiri, hidup akan terasa lebih tenang. Saya membayangkan bisa membeli apa pun yang diinginkan dan perlahan menjadi mandiri secara finansial.

Tapi realitanya, setelah benar-benar merasakan dunia kerja, saya sadar kalau memiliki gaji tidak selalu berarti hidup langsung aman. Karena sering kali daftar tagihan sudah lebih dulu menunggu, bahkan sebelum gaji masuk.

Mulai dari cicilan, kebutuhan harian, sampai pengeluaran kecil yang terus muncul tanpa jeda. Rasanya seperti baru bernapas sebentar, lalu kembali memikirkan pengeluaran berikutnya. Dan ternyata siklus finansial seperti ini banyak dialami Gen Z.

Biaya Hidup Naik, Gaji Tidak Selalu Mengikuti

Salah satu hal yang paling terasa sekarang adalah biaya hidup yang terus meningkat. Biaya kebutuhan sehari-hari semakin mahal, sementara gaji sering kali masih pas-pasan untuk memenuhi semuanya.

Ironisnya, di usia produktif seperti sekarang, Gen Z juga berada di fase hidup yang penuh kebutuhan. Ada yang baru mulai hidup mandiri, membantu keluarga, membayar pendidikan, atau mencoba membangun masa depan.

Akhirnya, banyak orang hidup dari gaji ke gaji. Bukan karena tidak mau menabung demi masa depan, tapi karena uang yang ada memang sudah habis duluan untuk bertahan.

Tagihan Datang Lebih Cepat dari Rasa Aman

Saya merasa salah satu hal paling melelahkan dari kehidupan finansial sekarang adalah rasa cemas yang terus berulang setiap bulan. Baru menerima gaji, tapi pikiran sudah sibuk membagi ke berbagai kebutuhan.

Terkadang, kita seperti belum sempat menikmati hasil kerja keras sendiri, tapi uang sudah habis untuk membayar kewajiban. Dan semakin dewasa, daftar tanggung jawab itu justru semakin panjang.

Kadang saya iri pada narasi kehidupan dewasa yang terlihat tenang di media sosial. Karena realitanya, banyak orang sebenarnya sedang berjuang keras hanya untuk menjaga kondisi keuangan tetap stabil sampai akhir bulan.

Gaya Hidup dan Tekanan Sosial yang Ikut Membebani

Menurut saya, tekanan finansial Gen Z juga semakin berat karena pengaruh gaya hidup digital. Media sosial membuat standar hidup terlihat tinggi. Mengikuti tren terasa seperti bagian normal dari kehidupan anak muda.

Padahal, tidak semua orang punya kondisi finansial yang sama. Masalahnya, rasa takut tertinggal sering membuat banyak orang memaksakan diri mengikuti gaya hidup tertentu meski keuangan belum stabil.

Di sinilah siklus finansial menjadi semakin rumit. Pengeluaran bukan lagi hanya soal kebutuhan, tapi juga soal tekanan sosial dan validasi. Ikut atau tidak sama-sama bikin cemas.

Paylater dan Cicilan Jadi “Penyelamat” Sekaligus Beban

Saya juga melihat bagaimana layanan paylater dan cicilan kini menjadi bagian besar dari kehidupan generasi muda. Seolah cara instan ini sudah jadi hal normal dalam mendukung finansial.

Di satu sisi, fitur ini memang membantu ketika ada kebutuhan mendesak. Tapi di sisi lain, kemudahan itu juga membuat banyak orang semakin sulit lepas dari siklus tagihan. Karena saat satu cicilan selesai, muncul cicilan baru.

Akhirnya, sebagian penghasilan bulanan terasa seperti hanya “numpang lewat” untuk membayar kewajiban yang terus berulang. Dan tanpa sadar, rasa tenang terhadap uang jadi semakin sulit didapat.

Menabung Kadang Terasa Seperti Kemewahan

Ada masa di mana saya merasa bersalah karena belum punya tabungan yang besar. Di medsos banyak konten tentang pentingnya investasi, dana darurat, dan kebebasan finansial di usia muda.

Semuanya terdengar benar, tapi tidak selalu mudah dilakukan. Karena bagi sebagian orang, menyisihkan uang di akhir bulan saja sudah sulit saking sibuknya menjalani “mode” bertahan.

Menurut saya, kondisi ini sering membuat banyak Gen Z merasa gagal secara finansial. Padahal mereka sebenarnya sedang berjuang di tengah situasi ekonomi yang memang tidak ringan.

Gen Z Tidak Boros, Banyak yang Sedang Bertahan

Saya percaya tidak semua masalah finansial lahir karena gaya hidup semata. Banyak Gen Z sebenarnya sedang berusaha keras bertahan di tengah tingginya biaya hidup, tekanan sosial, dan masa depan yang tidak pasti.

Dan mungkin, sebelum terlalu cepat menghakimi generasi muda tidak pandai mengatur uang, kita perlu memahami kalau banyak dari mereka bahkan belum sempat merasa aman secara finansial.

Karena di kehidupan sekarang, kadang tantangan terbesar bukan soal menjadi kaya—tapi tentang bagaimana tetap bertahan sampai gaji berikutnya datang.