Dalam dunia kerja, saya sering berdiri di antara dua pimpinan yang sama-sama merasa benar. Di situ, posisi bawahan bukan hanya sekadar pelaksana, tetapi seperti wilayah rebutan yang dipaksa tunduk pada dua arah sekaligus. Satu menghendaki merah, yang lain menegaskan harus hitam. Dan yang paling menyulitkan, keduanya bukan orang sembarangan, namun punya pengaruh, punya kuasa, dan sama-sama harus diikuti.
Saya pernah berada di titik itu. Rasanya bukan hanya bingung, tetapi juga tertekan secara halus. Setiap keputusan seperti mengandung risiko. Jika mengikuti yang satu, khawatir mengecewakan yang lain. Kalau mencoba menyeimbangkan, justru dianggap tidak tegas. Pada akhirnya, kita seperti anak kecil yang berdiri di tengah pertengkaran orang tua, tidak tahu harus mendekat kepada siapa, dan takut dianggap tidak berpihak.
Masalahnya, situasi seperti ini sering disalahpahami sebagai kelemahan bawahan. Seolah-olah kalau kita tidak bisa memilih dengan cepat, berarti kita tidak punya sikap. Padahal yang terjadi bukan krisis ketegasan, melainkan kekacauan arah. Ini bukan soal pribadi, tetapi soal struktur yang tidak rapi. Dua komando berjalan tanpa titik temu, sementara pelaksana di lapangan diminta tetap berjalan lurus.
Di sinilah saya mulai menyadari satu hal penting, bahwa menjadi bawahan bukan berarti menjadi penanggung semua kebingungan. Ada batas yang harus dijaga. Kita tidak diciptakan untuk menjadi penengah konflik pimpinan, apalagi menjadi korban sunyi dari perbedaan yang tidak pernah terselesaikan.
Namun, tentu saja kita tidak bisa sekadar mengeluh atau diam. Diam justru sering menjadi jebakan. Ketika kita memilih tanpa komunikasi, kita sedang menyiapkan diri untuk disalahkan. Maka satu-satunya jalan yang tersisa adalah mengembalikan kejelasan itu ke tempat semestinya, yaitu kepada pimpinan itu sendiri.
Mengembalikan Kejelasan Sebagai Bentuk Tanggung Jawab
Saya belajar bahwa mengangkat perbedaan bukanlah tindakan mengadu, melainkan bentuk tanggung jawab. Menyampaikan bahwa ada dua arahan berbeda, lalu meminta kejelasan, itu bukan sikap melawan, namun justru itu bentuk kehati-hatian. Kita sedang memastikan bahwa pekerjaan berjalan sesuai arah yang disepakati, bukan sekadar asumsi pribadi.
Di sisi lain, keterbukaan komunikasi menjadi kunci yang kerap dihindari, padahal justru menyelamatkan. Ketika dua pimpinan sama-sama tahu bahwa ada perbedaan arahan, maka beban tidak lagi sepenuhnya berada di pundak bawahan. Transparansi bukan untuk mempermalukan, tetapi untuk menyamakan pijakan.
Saya juga mulai melihat bahwa dalam situasi seperti ini, memahami struktur formal itu penting. Siapa atasan kita itu? Siapa yang secara administratif memegang kendali? Ini bukan soal pilih kasih, tetapi soal garis komando. Ketika semuanya menjadi kabur, kembali ke struktur adalah bentuk perlindungan paling rasional.
Namun, yang tidak kalah penting adalah keberanian untuk berpikir objektif. Tidak semua perintah harus diterima secara mentah. Ada pertimbangan yang bisa diambil. Mana yang lebih mendesak, mana yang berdampak lebih luas, mana yang memiliki konsekuensi lebih besar. Ketika pilihan didasarkan pada alasan yang jelas, kita tidak lagi terlihat sebagai pihak yang memihak, tetapi sebagai pekerja yang berpikir.
Sekalipun demikian, saya juga belajar menerima kenyataan yang tidak nyaman, yakni tidak mungkin menyenangkan semua orang. Dalam situasi konflik, selalu ada potensi ketidakpuasan. Dan itu bukan selalu kesalahan kita. Tugas kita bukan menjadi penyeimbang emosi pimpinan, tetapi memastikan pekerjaan tetap berjalan dengan integritas.
Jadi, berada di antara dua pimpinan yang berselisih adalah ujian tentang batas diri. Sejauh mana kita bisa tetap hormat tanpa kehilangan arah. Sejauh mana kita bisa patuh tanpa kehilangan akal sehat. Dan sejauh mana kita bisa bekerja tanpa harus ikut larut dalam konflik yang bukan milik kita.
Karena kalau kita tidak hati-hati, kita bukan hanya akan lelah secara pekerjaan, tetapi juga terkikis secara batin. Dan di titik itu, masalahnya bukan lagi A atau B yang harus dipilih, tetapi bagaimana kita bisa tetap utuh sebagai diri sendiri di tengah tarik-menarik kepentingan yang tidak pernah benar-benar selesai.
Baca Juga
-
Review Jujur Novel Resi Durna: Sang Guru yang Membiarkan Dirinya Dibenci
-
Maya: Menyibak Ilusi, Menyelami Luka Sejarah dan Cinta yang Tak Pernah Usai
-
Membaca Kelakar Madura Buat Gus Dur: Sebuah Buku Tentang Indonesia yang Menggelitik
-
Kentut Kosmopolitan: Catatan Nakal tentang Jakarta ala Seno Gumira Ajidarma
-
iQOO 16: Monster Performa dengan Kamera Periskop 50MP dan Chip 2nm Terbaru
Artikel Terkait
-
6 Bisnis dan Karier yang Diprediksi Hoki Menurut Feng Shui di Tahun Kuda Api 2026
-
Perempuan Berkarier di Tengah Tekanan Sosial: Sukses atau 'Terlalu Sibuk'?
-
Wisuda Tinggal Menghitung Hari, Tapi Kenapa Saya Malah Merasa Takut?
-
Di Balik Rumah yang Tetap Hangat, Ada Anak Bungsu yang Menahan Diri
-
8 Karier dan Pekerjaan Terbaik untuk Zodiak Gemini, Sesuai dengan Kepribadiannya
Kolom
-
Tumbler, Tote Bag, dan Realita: Apakah Gen Z Benar-benar Peduli Lingkungan?
-
Kopdes Merah Putih Rasa Minimarket: Ketika Produk Petani Lokal Absen dari Rak Koperasi
-
Kebijakan Sampah Residu ke Bantargebang, Apakah Solusi atau Beban Baru?
-
Hari Reformasi Nasional: Menolak Normalisasi KKN Gaya Baru
-
Zero Waste dan Tekanan Sosial: Saat Peduli Lingkungan Jadi Ajang Kompetisi
Terkini
-
Her Name Is: Potret Perempuan Korea yang Hidup di Tengah Tekanan Patriarki
-
Durasi 2 Jam 52 Menit dan Kontroversi Casting: Menakar Hype The Odyssey Karya Christopher Nolan
-
6 Parfum Floral Notes untuk Daily Office Look: Wanginya Feminin dan Elegan!
-
Terkurung Sumpah Purba: Gugatan Cinta dan Fanatisme Kasta dalam Lakuna
-
Redha: Buku yang Mengajarkan Kita Cara Menangis Tanpa Kehilangan Harapan