M. Reza Sulaiman | Fathorrozi 🖊️
Saya dan istri usai menonton film Foufo di Kota Cinema Mall Jember (Dok.Pribadi/Fathorrozi)
Fathorrozi 🖊️

Foufo hadir dengan memberi warna yang berbeda di saat film horor dan drama percintaan mendominasi layar lebar Indonesia belakangan ini. Film garapan Bayu Skak ini menawarkan perpaduan yang tidak lazim. Ada unsur komedi, fiksi ilmiah, budaya Madura, dan drama keluarga dalam satu kemasan yang terasa segar.

Hasilnya bukan sekadar tontonan menghibur, melainkan pengalaman sinematik yang mampu membuat penonton tertawa sekaligus meneteskan air mata.

Saya merasakan pengalaman itu secara langsung saat menonton Foufo pada malam Minggu (18/7/2026), di Bioskop Kota Cinema Mall, yang berada di Jalan Gajah Mada Nomor 176, Jember.

Sejak awal film dimulai, saya sudah merasakan bahwa karya ini berbeda dari kebanyakan film Indonesia yang pernah saya tonton. Ada kehangatan, kesederhanaan, dan kejujuran yang terasa begitu dekat dengan kehidupan masyarakat sehari-hari.

Sci-Fi Lokal yang Berani Tampil Berbeda

Tretan Muslim sebagai pemeran utama dalam film Foufo (Dok.Pribadi/Fathorrozi)

Cerita Foufo berpusat pada Tretan Muslim, seorang pengepul barang rongsokan keturunan Madura yang hidup dalam keterbatasan ekonomi. Di tengah perjuangannya mencari nafkah, ia memiliki satu cita-cita besar, yaitu memberangkatkan ibunya menunaikan ibadah haji. Namun impian itu tidak mudah diwujudkan karena kondisi ekonomi keluarga yang terus dihimpit berbagai persoalan.

Kehidupan Muslim berubah ketika ia menemukan sebuah UFO yang jatuh dan seekor alien kecil bernama Foufo (kebiasaan masyarakat Madura yang sering menyebut nama atau barang dengan mengulang bagian belakangnya, seperti te-sate atau to-soto).

Dari sinilah kisah berkembang menjadi petualangan yang unik. Alih-alih menghadirkan invasi luar angkasa atau peperangan futuristik sebagaimana lazimnya film sci-fi Hollywood, Foufo justru mengajak penonton menyaksikan persahabatan sederhana antara manusia dan makhluk asing yang sama-sama sedang mencari jalan pulang.

Keberanian Bayu Skak mengawinkan budaya lokal dengan genre fiksi ilmiah patut diapresiasi. Film ini membuktikan bahwa cerita tentang alien tidak harus selalu megah dan penuh efek visual mahal. Dengan akar budaya yang kuat, kisah sederhana pun dapat terasa memikat.

Madura yang Hadir dengan Hangat dan Autentik

Salah satu adegan Tretan Muslim bersama Foufo di kampung rongsokan (Dok.Pribadi/Fathorrozi)

Salah satu kekuatan terbesar Foufo adalah keberhasilannya menampilkan budaya Madura secara alami. Bahasa Madura digunakan dalam porsi besar sepanjang film, menjadikannya identitas yang kuat dan membedakannya dari film-film Indonesia lainnya. Kehadiran para pemain lokal juga membuat dialog dan interaksi terasa sangat hidup.

Bagi saya yang berasal dari Jember Jawa Timur, suasana kampung, logat khas Madura, hingga cara masyarakat berinteraksi terasa begitu akrab. Tidak ada kesan dibuat-buat. Semua mengalir secara wajar dan justru menjadi sumber humor yang sangat efektif.

Berkali-kali studio bioskop dipenuhi gelak tawa. Salah satu momen yang paling menghibur adalah ketika Foufo mulai beradaptasi dengan kehidupan keluarga Tretan Muslim. Tingkah lakunya yang polos namun penuh rasa ingin tahu menciptakan banyak kekacauan lucu. Ditambah dialog berlogat Madura yang khas, adegan-adegan tersebut sukses membuat penonton tertawa tanpa perlu dipaksa.

Meski dipasarkan sebagai film komedi, kekuatan utama Foufo justru terletak pada lapisan emosionalnya. Film ini berbicara tentang kasih sayang seorang anak kepada ibunya, tentang pengorbanan, serta tentang impian sederhana yang diperjuangkan dengan segala daya. Bagian inilah yang paling membekas bagi saya.

Ada beberapa adegan yang membuat mata saya berkaca-kaca, terutama ketika Muslim berusaha keras mengumpulkan biaya agar ibunya dapat berangkat haji. Tretan Muslim berhasil menghadirkan sosok anak yang rela berjuang sampai titik terakhir demi membahagiakan orang tuanya. Sosok Ibu Saiqonah yang diperankan dengan sangat hangat juga menjadi pusat emosi film ini. Ia tidak banyak menuntut, tetapi justru dari kesederhanaannya terpancar kasih sayang yang luar biasa.

Saya menyadari bahwa yang membuat saya terharu bukan hanya konflik tentang biaya haji. Lebih dari itu, film ini mengingatkan bahwa banyak orang tua tidak meminta kemewahan dari anak-anaknya. Mereka hanya ingin melihat anaknya hidup baik dan bahagia. Pesan itu terasa begitu kuat, sederhana, namun menghantam hati.

Sebagai film lokal, Foufo menunjukkan bahwa kreativitas lebih penting daripada anggaran besar. Karakter alien yang menggemaskan, humor yang dekat dengan masyarakat, serta cerita yang membumi membuat film ini terasa istimewa. Bayu Skak berhasil membuktikan bahwa film Indonesia mampu menghadirkan sci-fi dengan identitas sendiri tanpa harus meniru pola cerita Hollywood.

Film ini juga menjadi bukti bahwa budaya daerah bukan penghalang untuk menjangkau penonton yang lebih luas. Justru karena keberaniannya menampilkan identitas lokal secara autentik, Foufo terasa memiliki jiwa yang kuat dan mudah diingat.

Ketika lampu bioskop menyala dan film berakhir, saya keluar dari studio dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Ada tawa yang masih tersisa dari berbagai adegan lucu, tetapi juga ada keharuan yang terus tinggal di dalam hati. Jarang ada film yang mampu membuat penonton berpindah dari tertawa lepas ke menahan air mata dalam waktu yang hampir bersamaan.

Bagi saya, Foufo bukan sekadar film tentang alien yang tersesat di bumi. Ini adalah cerita tentang keluarga, mimpi, pengorbanan, dan persahabatan yang melampaui batas dunia. Sebuah film yang hangat, lucu, dan penuh makna; salah satu karya lokal paling berkesan yang saya tonton sepanjang tahun 2026.