Pernyataan Presiden Prabowo Subianto soal dirinya memiliki DNA India menjadi salah satu momen yang menarik perhatian publik usai potongan videonya beredar luas di media sosial.
Saat menghadiri acara Indian Community Reception di Jakarta, Prabowo dengan santai bercerita bahwa hasil tes sekuensing genom menunjukkan dirinya memiliki DNA India.
"Tepat sebelum saya melakukan kunjungan kenegaraan ke India, saya melakukan apa yang disebut tes sekuensing genom. Saya menguji DNA saya dan saya menemukan bahwa saya memiliki DNA India," tutur Prabowo, dikutip Kamis (9/7/2026).
Ia juga mengaitkan hal tersebut dengan kebiasaannya yang spontan bergerak ketika mendengar musik India. Pernyataan yang disampaikan dengan nada santai itu kemudian ramai diperbincangkan karena muncul dalam konteks kunjungan kenegaraan Perdana Menteri India Narendra Modi ke Indonesia.
Bagi sebagian orang, ucapan tersebut mungkin hanya dianggap sebagai candaan ringan untuk mencairkan suasana.
Namun, dalam dunia politik dan diplomasi, simbol sering kali memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar kata-kata.
Cerita tentang latar belakang, budaya, atau kedekatan personal seorang pemimpin kerap digunakan untuk membangun hubungan emosional dengan negara lain.
Di sinilah klaim DNA India Prabowo menarik untuk dilihat bukan hanya sebagai lelucon, tetapi juga sebagai bagian dari cara seorang pemimpin membangun narasi politik.
Politik Simbol dalam Hubungan Antarnegara
Dalam kajian politik, simbol memiliki peran penting dalam membentuk persepsi publik. Mengutip teori symbolic politics dari Oxford Academic, perilaku politik tidak selalu digerakkan oleh pertimbangan rasional semata, tetapi juga oleh simbol, nilai, keyakinan, dan emosi yang melekat pada masyarakat.
Pemimpin sering kali menggunakan narasi tertentu untuk membangun keterikatan emosional dengan kelompok yang menjadi sasarannya.
Dalam konteks diplomasi, simbol dapat menjadi cara untuk menciptakan kedekatan yang lebih personal. Sebuah cerita mengenai latar belakang budaya, pengalaman hidup, atau kesamaan nilai dapat menjadi jembatan komunikasi antara dua pihak.
Dengan kata lain, pesan yang ingin disampaikan tidak selalu bersifat langsung, tetapi hadir melalui kesan dan hubungan emosional.
Klaim DNA India yang disampaikan Prabowo dapat dilihat dalam teori tersebut. Pernyataan itu bukan hanya berbicara mengenai faktor biologis, tetapi juga membangun narasi bahwa terdapat kedekatan tertentu antara dirinya dengan India.
Di tengah acara yang dihadiri komunitas India dan Perdana Menteri Narendra Modi, narasi semacam ini dapat menjadi simbol keakraban dan penghargaan terhadap budaya India.
Ketika Narasi Personal Masuk ke Ruang Politik
Klaim DNA India Prabowo juga menunjukkan bagaimana komunikasi politik saat ini semakin bergeser ke arah personal.
Pemimpin tidak hanya berbicara melalui kebijakan atau pidato formal, tetapi juga melalui cerita tentang dirinya sendiri. Sisi personal menjadi bagian dari cara membangun citra dan mendekatkan diri kepada publik.
Fenomena seperti ini bukan sesuatu yang baru. Banyak pemimpin dunia menggunakan kisah pribadi, pengalaman masa lalu, atau kedekatan budaya untuk membangun hubungan dengan masyarakat.
Masalahnya, narasi personal memiliki daya tarik yang jauh lebih besar dibandingkan penjelasan kebijakan yang sering kali dianggap rumit.
Sebuah cerita sederhana tentang DNA atau kegemaran terhadap musik tertentu dapat menjadi lebih mudah viral dibandingkan pembahasan mengenai hasil pertemuan bilateral atau agenda kerja sama antarnegara.
Politik di Era yang Serba Viral
Pernyataan Prabowo soal DNA India menjadi contoh kecil bagaimana isu politik bergerak dengan cepat di ruang publik. Sebuah kalimat yang disampaikan dalam suasana santai bisa mendapatkan perhatian lebih besar dibandingkan pembahasan mengenai agenda resmi yang melatarbelakanginya.
Di satu sisi, kemampuan seorang pemimpin menciptakan kedekatan dengan publik tentu menjadi bagian penting dalam politik modern. Namun, perhatian publik saat ini lebih mudah tersedot oleh hal-hal yang menghibur dibandingkan isu yang memiliki dampak langsung bagi masyarakat.
Politik modern memang membutuhkan panggung, tetapi negara tidak boleh terus-terusan mempertontonkan sirkus. Sebab yang bertahan dalam ingatan bukan sekadar lelucon yang pernah viral, melainkan keputusan yang benar-benar memberi dampak.
Baca Juga
-
Fenomena 'Asbun Gen Alpha': Membaca Ulang Batas Keluguan dan Etika Bertutur
-
Syarat Maksimal, Gaji Minimal: Standar Tak Masuk Akal dalam Lowongan Kerja
-
Ulasan Brain Works: Mengungkap Aksi Kriminal Melalui Perspektif Neurosains
-
Ulasan Queen of Masks: Menyingkap Topeng Manusia dalam Pusaran Ambisi
-
Bersyukur atau Terpaksa? Dilema Bertahan di Tengah Upah yang Tak Layak
Artikel Terkait
-
AHY Gaungkan 'Silaturahmi 360', Demokrat Bakal Keliling Temui Semua Parpol
-
Bahaya State Capture, Pakar Ungkap Cara Militer 'Kuasai' Negara Lewat Jalur Legal
-
Target Rampung Sebelum 2029, Restorasi Candi Prambanan Diprediksi Pikat Turis India
-
Kartelisasi Politik dan Urgensi Gerakan Massa Melawan Dominasi Kekuasaan
-
Momen Prabowo dan PM India Narendra Modi Kunjungi Candi Prambanan
Kolom
-
Punya Kebiasaan Begadang, Sebenarnya Apa yang sedang Dikejar Gen Z?
-
Dibalik Integrasi Perbankan: Mengapa Sistem Universal Banking Bisa Menghancurkan Stabilitas Ekonomi?
-
Saat Media Sosial Terasa Tak Menyenangkan Lagi: Serangan Digital Fatigue?
-
Stunting yang Dipelihara: Saat Mitos Gizi Lebih Dipercaya daripada Sains
-
Rasisme Cederai Sportivitas Sepak Bola, Menang Tak Harus Menghina Lawan
Terkini
-
Cari Tontonan Telenovela yang Seru? Ini 7 Rekomendasi Terbaik di Netflix
-
NewJeans Digugat di Amerika Serikat, Lagu ETA Dituduh Langgar Hak Cipta
-
Rilis Teaser Perdana, Anime Witch and Hound Siap Hadirkan Aksi Spektakuler
-
Project Hail Mary: Persahabatan Manusia dan Alien yang Menghangatkan Hati
-
Storytelling adalah Investasi Leher ke Atas: Kunci Utama Sukses di Dunia Konten Digital