Setiap kali melihat iklan di televisi atau media sosial tentang indahnya masa tua, seperti pasangan lansia yang duduk santai di kursi goyang, menikmati teh hangat di teras rumah yang asri, sambil sesekali menengok tabungan masa tua yang aman, saya hanya bisa tersenyum kecut.
Bagi saya, seorang ibu rumah tangga dengan kondisi ekonomi yang pas-pasan, bayangan hari tua seperti itu rasanya seperti dongeng sebelum tidur. Indah, tapi mustahil terjadi di dunia nyata saya.
Realitas yang saya hadapi setiap hari jauh dari kata romantis. Alih-alih memikirkan dana pensiun, fokus saya setiap bulan habis untuk memutar otak bagaimana caranya agar uang belanja cukup untuk makan, bayar kontrakan, dan memastikan sekolah anak-anak tidak putus di tengah jalan. Jangankan menyisihkan uang untuk investasi atau asuransi swasta, sisa uang di dompet saya di akhir bulan sering kali hanya berupa selembar uang Rp 2.000 yang sudah lecek.
Kecemasan saya ini bukanlah ketakutan yang mengada-ada. Berdasarkan penelitian dalam Jurnal Ilmu Kesejahteraan Sosial, sebagian besar lansia dari kelompok ekonomi bawah di Indonesia mengalami kerentanan sosial dan ekonomi yang tinggi di hari tua karena tidak memiliki jaminan pendapatan tetap atau tabungan yang memadai.
Keadaan ini diperparah dengan melemahnya sistem pendukung keluarga akibat tekanan ekonomi yang merata di tingkat anak-cucu. Jadi, ketakutan saya akan masa depan yang telantar ini sebenarnya adalah ancaman nyata yang sedang mengintai di depan mata.
Jujur saja, ketakutan terbesar saya saat ini bukanlah kematian. Kematian itu pasti dan urusannya langsung selesai. Ketakutan terbesar saya adalah proses menuju tua: ketika fisik saya mulai digerogoti penyakit, rambut memutih, tenaga habis, sementara saya tidak memiliki aset sepeser pun.
Saya tidak punya tanah untuk dijual, tidak punya kos-kosan untuk diputar hasilnya, dan tentu saja tidak punya uang pensiun bulanan layaknya pegawai negeri. Saya adalah emak-emak yang hari tuanya sepenuhnya "kosong". Di sinilah letak beban psikologis yang paling menyesakkan dada.
Di satu sisi, ada dogma budaya yang kuat bahwa anak adalah investasi masa depan dan wajib merawat orang tuanya di hari tua. Namun, di sisi lain, saya melihat sendiri betapa beratnya perjuangan anak-anak saya nantinya untuk bertahan hidup di zaman yang makin keras ini.
Saya sangat takut menjadi "generasi sandwich" berikutnya yang membebani mereka. Saya tidak mau uang yang seharusnya dipakai anak saya untuk membeli susu cucu saya, justru habis tersedot untuk membelikan obat-obatan atau popok dewasa untuk saya.
Setiap kali badan saya terasa linu setelah seharian mencuci dan membereskan rumah, pikiran buruk itu sering kali mampir tanpa diundang. Saya membayangkan, bagaimana kalau nanti saya lumpuh? Bagaimana kalau saya pikun dan merepotkan semua orang?
Menjadi beban bagi anak-cucu adalah mimpi buruk yang membuat saya sering terjaga di sepertiga malam. Ada rasa bersalah yang teramat besar karena sebagai orang tua, saya tidak bisa meninggalkan warisan harta, dan justru berpotensi meninggalkan beban finansial.
Bagi emak-emak kelas bawah seperti saya, jaminan hari tua dari pemerintah seperti BPJS Ketenagakerjaan informal sering kali belum terjangkau secara konsisten, karena pendapatan rumah tangga yang fluktuatif. Kami sering kali luput dari skema perlindungan sosial yang komprehensif.
Edukasi tentang perencanaan keuangan yang sering digemborkan para pengamat di internet itu terasa seperti ejekan, sebab bagaimana mungkin bisa merencanakan masa depan jika uang untuk bertahan hidup besok pagi saja masih harus dicari nanti sore?
Pada akhirnya, di tengah segala keterbatasan ini, aset terbesar yang saya miliki saat ini hanyalah doa. Setiap malam saya berdoa, bukan meminta umur yang panjang hingga ratusan tahun, melainkan meminta agar selalu diberi kesehatan sampai hari tua nanti.
Saya hanya ingin tetap mandiri, bisa berjalan dengan kaki sendiri, dan tidak menyusahkan anak-cucu hingga hari terakhir saya di dunia. Sebab bagi emak-emak tanpa dana pensiun seperti saya, mati dalam keadaan tidak merepotkan orang lain adalah sebuah kemewahan tertinggi.
Baca Juga
-
Jurang Humor Milenial vs Gen Z: Saat Plesetan Cerdas Kalah dari Meme Pisang Tanpa Konteks
-
Surat Terbuka untuk HRD: Berhentilah Bertanya "Ngapain Aja Setahun Ini" kepada Ibu Baru
-
Ibu Rumah Tangga: Karyawan Tanpa Gaji, Tanpa Cuti, Tanpa Bonus
-
Katanya Sudah Merdeka, Tapi Kenapa Ibu Rumah Tangga Sulit Berinvestasi?
-
Gaji Istri Lebih Besar, Apakah Adil Kendali Finansial Tetap di Suami?
Artikel Terkait
Kolom
-
Tanpa Upah, Haruskah Kita Biarkan Relawan Berjuang dengan Uang Sendiri?
-
Tren Bahasa Gado-Gado ala Gen Z: Akankah Bahasa Indonesia Terasing di Negeri Sendiri?
-
Gen Z Bikin Bahasa Baru, namun Apa Kesalahan Menulis Harus Ikut Dimaklumi?
-
Parah Jadi Para, Gaji Jadi Gajih: Ketika Satu Huruf Mengubah Makna Bahasa
-
Nasib Bahasa Indonesia di Akar Rumput: Bersandar Enam Jam Sepekan, Tergerus Masifnya Konten Tayangan
Terkini
-
Review Film Love of Your Life: Sajikan Kisah Cinta Modern yang Penuh Makna
-
Connor Storrie Negosiasi Peran Antagonis di Film Ghost Rider MCU
-
Perjalanan Futsal dan Konser Musik di Grand Final AXIS Nation Cup 2026
-
Mindset Kelas Atas, New BIONS by BNI Sekuritas Siap Dampingi Penggunanya Sampai Menetas Tuntas
-
4 Moisturizer Berbahan Honey Extract Berikan Efek Hidrasi agar Wajah Lembap