Beberapa hari lalu, badan saya rasanya seperti digebuki orang sekampung. Kepala pusing berdenyut-denyut, leher kaku, dan suhu tubuh mendadak naik. Normalnya, orang yang sedang dalam kondisi seperti ini akan langsung mengambil selimut, tiduran di kamar yang tenang, lalu memanggil dokter atau pergi ke klinik terdekat.
Namun, bagi saya yang berstatus sebagai ibu rumah tangga kelas menengah ngepas, opsi bermanja-manja seperti itu adalah sebuah kemewahan yang tidak tertulis di dalam kamus hidup saya. Bagi saya, sakit itu adalah sebuah ketabuan yang hakiki.
Begitu saya merasakan gejala meriang itu datang, alarm di kepala saya langsung berbunyi kencang. Pikiran saya tidak fokus pada rasa sakit di tubuh, melainkan pada tumpukan baju kotor di kamar mandi yang belum tersentuh, cucian piring yang mulai menggunung, dan fakta bahwa anak-anak belum makan siang.
Maka, alih-alih merebahkan badan ke kasur, langkah pertama yang saya ambil adalah berjalan tertatih-tatih menuju warung kelontong madura di ujung gang, membeli sebutir obat sakit kepala generik seharga dua ribu rupiah.
Fenomena memaksakan diri saat sakit ini bukan sekadar urusan "merasa kuat" atau sok tangguh. Berdasarkan penelitian dalam Jurnal Kesehatan Komunitas, perilaku pengobatan sendiri (self-medication) dengan obat bebas pada ibu rumah tangga kelas ekonomi bawah sering kali didorong oleh beban ganda domestik dan keterbatasan akses finansial.
Ibu rumah tangga cenderung menomorduakan kesehatan pribadinya demi menjaga stabilitas fungsi keluarga. Jadi, ketika saya menelan obat warung dua ribu rupiah itu lalu langsung memegang sapu, saya sebenarnya sedang melakukan tindakan nekat yang sangat jamak terjadi di jutaan rumah tangga Indonesia.
Mengapa ibu rumah tangga seperti saya diharamkan untuk sakit? Jawabannya sederhana karena kalau saya tumbang, satu rumah langsung lumpuh total. Suami saya sudah capek bekerja mencari nafkah di luar, dan jujur saja, sistem navigasi domestik di rumah ini sepenuhnya ada di kepala saya.
Suami tidak akan tahu di mana letak persediaan bawang putih, anak-anak tidak akan tahu seragam sekolahnya disimpan di lemari sebelah mana, dan dapur dipastikan akan mogok beroperasi. Rumah akan berubah menjadi medan perang yang kacau-balau hanya dalam waktu setengah hari jika saya memutuskan untuk mogok di atas kasur.
Obat warung seharga dua ribu rupiah itulah yang menjadi juru selamat instan saya. Obat itu tidak benar-benar menyembuhkan penyakit, dia hanya mematikan saraf rasa sakit saya untuk sementara waktu. Begitu efek obatnya bekerja dan pusingnya agak reda, saya langsung tancap gas menyapu lantai, menjemur pakaian, dan memasak sayur bening. Saya balapan dengan waktu sebelum efek obatnya habis dan rasa meriang itu menyerang tubuh saya kembali.
Jujur, batin saya sering kali merasa iri dan menangis sendirian di sela-sela aktivitas domestik tersebut. Saya melihat suami atau anak-anak, kalau mereka mengeluh pusing sedikit saja, seluruh perhatian rumah tangga akan langsung tertuju pada mereka.
Saya akan dengan sigap memijat dahinya, membuatkan teh hangat, dan menyuapi mereka bubur. Tapi giliran saya yang sakit? Paling-paling pertanyaannya cuma, "Ma, obatnya sudah diminum? Jangan lupa masak ya, anak-anak sudah lapar." Tidak ada yang salah dengan pertanyaan itu, tapi rasanya seperti menegaskan bahwa tugas saya sebagai mesin penggerak rumah tidak boleh berhenti, apa pun kondisinya.
Edukasi tentang self-care atau pentingnya me-time bagi kesehatan mental dan fisik ibu yang sering berseliweran di artikel psikologi internet itu terasa seperti lelucon di telinga saya. Bagaimana saya bisa memikirkan self-care kalau biaya untuk ke dokter spesialis atau sekadar istirahat total dua hari saja berarti harus mengorbankan uang belanja mingguan? Hidup sehat dan istirahat yang cukup ternyata memiliki tarif yang tidak mampu dibayar oleh anggaran rumah tangga kami.
Saya menyadari bahwa tubuh saya ini bukan terbuat dari besi, melainkan dari tumpukan tanggung jawab dan rasa cinta yang dipaksakan untuk selalu kuat. Menelan obat warung dua ribu rupiah sambil terus melanjutkan cucian adalah bentuk kompromi paling realistis yang bisa saya lakukan saat ini.
Saya hanya bisa berharap dan berdoa, semoga Tuhan selalu menjaga kesehatan tubuh ini, bukan karena saya takut pada rasa sakit atau kematian itu sendiri, melainkan karena saya teramat takut melihat rumah saya runtuh dan anak-anak telantar hanya karena ibunya egois ingin istirahat sehari saja.
Baca Juga
-
Seni Menolak Keinginan Anak Tanpa Harus Bikin Dompet Emak Ikut Menangis
-
Nestapa Minyak Jelantah Hitam Pekat demi Menyelamatkan Dompet yang Sekarat
-
Mimpi Buruk Saya sebagai Ibu Rumah Tangga yang Tak Punya Jaminan Hari Tua
-
Berhentilah Menyiksa Rekening Bank demi Validasi Semu Geng Sosialita
-
Manifesto Lingkungan Hidup Emang Keren tapi Kalah Sakti dari Ketegasan Emak
Artikel Terkait
-
Wujud Nyata Komitmen ESG, Pegadaian Gelar Khitanan Massal 2026 Bagi 500 Anak
-
Pasien JKN Rasakan Manfaat Radioterapi Canggih, Pelayanan Cepat dan Akses Semakin Mudah
-
Program Imunisasi Nasional Kekurangan Dana Rp 1 Triliun Akibat Pemotongan Anggaran
-
Penyakit Jantung Tak Menunggu Tua: Ini Strategi Proteksi di Tengah Lonjakan Biaya Medis
-
Eco Parenting, Cara Sederhana Menumbuhkan Kepedulian Lingkungan pada Anak
Kolom
-
Guru Selalu Dibilang Pahlawan, Tapi Tidak Dijadikan Prioritas Anggaran
-
Bocor Rp15.000 Triliun: Angka Fantastis di Tengah Nestapa Gaji Guru Kita
-
Pelatihan Militer untuk Calon Manajer Koperasi Merah Putih, Apa Urgensinya?
-
Demo adalah Aksi Menyuarakan Ketidakpuasan, Bukan Pamer Dukungan
-
"Bukan Pendapatan Baru, Tapi Kenapa Dipajaki Tinggi? Menggugat Keadilan di Balik Aturan JHT
Terkini
-
Kompetisi Orang Paling Menderita
-
Membaca Tembang Talijiwo: Seni Menertawakan Kekacauan Hidup
-
Saat Semua Cara Tak Berhasil, "Tuhan, Akhirnya Aku Menyerah" Jawabannya
-
Mau Tampil Classy? Ini 4 OOTD Earthy Chic ala Yoona SNSD yang Menawan
-
Viral Kamari Sky Anak yang Super Anteng, Benarkah Rahasianya Karena Bebas Gula?