Lintang Siltya Utami | Sri Rahayu
Ilustrasi minyak goreng (pexels/RDNE Stock project)
Sri Rahayu

Setiap kali saya membuka media sosial atau membaca artikel kesehatan, instruksinya selalu sama dan terdengar sangat agung. Saya diminta menjaga pola makan keluarga, menghindari lemak jenuh, dan kalau bisa, jangan gunakan minyak goreng lebih dari dua kali. Sebuah saran yang sangat logis, ilmiah, dan tentu saja, sangat sulit saya terapkan di dapur rumah tangga saya sendiri yang anggarannya pas-pasan ini.

Realitas di atas wajan saya sering kali berbanding terbalik dengan teori di atas kertas. Di dapur saya, minyak goreng punya siklus hidup yang sangat panjang, sepanjang napas saya dalam memutar uang belanja hingga akhir bulan.

Fase pertama dimulai dengan warna kuning keemasan yang jernih, biasanya saya pakai untuk menggoreng kerupuk atau tahu pesanan anak-anak. Fase kedua berubah agak kecokelatan setelah bertugas mematangkan ikan asin. Nah, fase ketiga dan seterusnya adalah fase krusial, di mana minyak yang sudah pasrah itu tetap saya paksa menggoreng bakwan sampai warnanya pelan-pelan menyusut dan akhirnya sehitam kopi instan tanpa krimer.

Secara objektif, saya bukannya tidak tahu kalau tindakan saya ini bahaya. Kampanye kesehatan yang berseliweran itu tidak sedang membual. Berdasarkan penelitian dalam Jurnal Kesehatan Komunitas, penggunaan minyak jelantah secara berulang memang terbukti meningkatkan kadar asam lemak trans dan senyawa peroksida yang memicu berbagai penyakit degeneratif, mulai dari hipertensi hingga risiko kanker.

Jadi, ketika saya menyajikan tempe goreng hasil rendaman minyak hitam itu ke meja makan, saya tahu saya sedang menabung risiko penyakit untuk suami dan anak-anak saya sendiri.

Namun, apakah pengetahuan itu cukup bagi saya? Jujur, tidak. Di zaman semua informasi mampir ke grup WhatsApp ini, saya sudah khatam soal bahaya jelantah.

Tapi, literasi kesehatan itu sering kali harus kalah telak ketika saya dihadapkan pada nota belanjaan dan kenyataan bahwa harga minyak goreng kemasan makin hari makin tidak ramah kantong. Bagi saya yang harus mengatur keuangan dengan super ketat, membuang minyak yang "masih bisa dipakai" rasanya seperti tindakan kriminal terhadap stabilitas finansial rumah tangga saya sendiri.

Di sinilah letak dilema terbesar saya sebagai ibu rumah tangga. Mengganti minyak setiap dua kali pakai berarti saya harus mengalokasikan dana ekstra untuk beli minyak baru. Padahal, uang itu sebenarnya bisa saya gunakan untuk membeli buku tulis anak atau membayar iuran sampah bulanan yang sudah ditagih.

Akhirnya, ada kalkulasi bawah sadar yang terjadi di kepala saya: risiko penyakit yang mungkin datang sepuluh tahun lagi terpaksa dikalahkan oleh risiko dapur tidak ngepul esok hari. Jelantah hitam di wajan saya bukan wujud ketidakpedulian saya terhadap kesehatan keluarga, melainkan siasat bertahan hidup paling instan yang bisa saya lakukan.

Uniknya, minyak hitam ini punya daya magis tersendiri yang sering jadi pelipur lara saya. Kadang kalau sedang menggoreng, saya suka menghibur diri dengan guyonan getir yang sering lewat di kalangan emak-emak, "Semakin hitam minyaknya, semakin gurih rasa gorengannya." Ini sebenarnya bentuk pertahanan diri saya, cara saya menertawakan keterbatasan ekonomi sendiri agar tidak stres menghadapi kenyataan bahwa hidup sehat itu ternyata mahal tarifnya.

Menurut saya, menyelesaikan masalah jelantah ini tidak bisa cuma dengan menyodorkan pamflet edukasi atau memarahi ibu-ibu seperti saya karena dianggap tidak sayang nyawa keluarga. Ini adalah masalah daya beli. Selama harga bahan pokok belum stabil dan pendapatan suami pas-pasan, wajan di dapur saya dan mungkin dapur jutaan ibu lainnya, akan tetap menampung minyak sewarna arang.

Akhirnya, setiap kali saya menatap wajan dengan cairan hitam pekat di dalamnya, saya tidak hanya melihat ancaman kolesterol. Saya melihat refleksi perjuangan saya sendiri yang sunyi, tentang bagaimana sebotol minyak saya paksa bekerja keras melampaui batas kemampuannya, demi memastikan ada lauk yang bisa dikunyah keluarga hari ini. Kesehatan memang mahkota yang berharga, tapi bagi saya saat ini, bisa makan besok pagi adalah kemenangan yang harus saya syukuri terlebih dahulu.