M. Reza Sulaiman | Juandi Manullang
Ilustrasi gambar AI (Pexels)
Juandi Manullang

Artificial Intelligence atau yang sering disebut AI kini banyak digunakan oleh masyarakat luas di media sosial. Bahkan, dapat dikatakan AI sudah tidak terkondisikan atau tidak terkontrol lagi. Kita dapat melihat bagaimana AI sering digunakan untuk menyebarkan hoaks dengan meniru wajah seseorang dan memalsukan suara-suara dengan tujuan untuk menipu.

Saat ini terungkap bahwa AI digunakan untuk deepfake dengan tujuan memalsukan wajah, suara, atau gerakan seseorang secara tersembunyi dengan modus mengambil foto dari media sosial, lalu memanipulasinya menjadi konten vulgar tanpa persetujuan. Melansir dari MediaIndonesia.com (20/5/2026), sejumlah kampus memperlihatkan pola serupa. Pada tahun 2025, mahasiswa Udayana diduga membuat pornografi deepfake dengan sekitar 200 perempuan menjadi korban. Kasus serupa terjadi di Universitas Diponegoro dengan produksi lebih dari 1.100 file pornografi berbasis AI, serta di Universitas Tanjungpura pada tahun 2026 yang terungkap dari pemeriksaan ponsel pelaku.

Pentingnya Bijak dalam Mengelola AI

Sangat penting bahwasanya setiap orang harus bijak dalam mengelola AI dan kita harus tahu batasan diri. AI diciptakan bukan untuk merugikan orang, melainkan untuk membantu setiap pekerjaan kita. Era digital saat ini jika tidak dijaga maka akan kebablasan. Makin canggih teknologi, makin canggih juga cara orang untuk melakukan kejahatan. Kecanggihan teknologi sangat mampu dibatasi bila kita menggunakannya dengan bijak.

Orang lain dengan seenaknya menggunakan AI untuk kepentingan diri dan kesenangan semata tanpa melihat luka yang ditimbulkan bagi pihak lain. Tindakan deepfake adalah tindakan yang tidak terpuji. Mengedit rupa seseorang dan memperjualbelikannya, maupun mempermainkan foto tersebut untuk kepentingan pribadi, merupakan bentuk kejahatan yang sebenarnya sangat dilarang.

Tindakan itu makin mengecap buruk AI yang sekarang menjadi primadona bagi banyak orang. Betapa tidak, kita dapat melihat bentuk kejahatan dari AI sudah begitu banyak. Cobalah kita melihat bagaimana AI lebih sering disalahgunakan, padahal pada prinsipnya teknologi hadir untuk memberikan bantuan.

Dari kondisi ini, alangkah baiknya kita bisa membatasi diri dan melakukan hal yang terbaik dalam penggunaan teknologi ini. Pastikan bahwa teknologi dipakai dengan bijak dan tidak disalahgunakan. Betapa meruginya para korban karena wajah atau identitas mereka dimanipulasi untuk hal-hal yang bersifat negatif, sehingga kita harus menegaskan bahwa AI haruslah digunakan secara bijak.

Penegakan Hukum dan Pembatasan

Penegakan hukum atas tindakan kejahatan teknologi harus dilakukan secara tegas. Kita jangan pernah melakukan hal-hal yang buruk karena dampaknya adalah penindakan hukum atas kejahatan tersebut. Alangkah baiknya semua orang mengetahui hal itu agar tidak melakukan tindak kejahatan yang merugikan orang lain.

Makin orang paham akan hukum, makin patuh pula orang tersebut. Oleh karena itu, ketegasan sangat diperlukan ketika AI berunsur deepfake masih terus disalahgunakan. Apa yang terjadi di kalangan kampus yang dilakukan oleh oknum mahasiswa haruslah diberikan sanksi yang tegas agar tidak ada lagi yang mengulangi perbuatan serupa.

Di dunia pendidikan, perlu adanya sosialisasi mengenai bahaya penggunaan AI agar tidak disalahgunakan seperti deepfake untuk merugikan orang lain. Sosialisasi itu diharapkan dapat memberikan efek jera atau rasa takut terhadap konsekuensinya. Rasa takut tersebut akan membuat orang enggan untuk melakukan tindak kejahatan. Kita harus menjaga AI agar tetap menjadi teknologi yang ramah dan humanis. AI harus dijadikan alat yang tepat untuk membantu kerja-kerja kita sehari-hari.

Alangkah baiknya kita menjadikan AI sebagai teman untuk berpikir, bercerita, dan merangkai sebuah karya, bukan untuk merugikan dan membahayakan orang lain. Lahirnya AI sejalan dengan semangat era modern yang tujuannya adalah memudahkan, bukan menjerumuskan umat manusia pada keburukan. Oleh sebab itu, AI harus digunakan secara benar dan tepat, serta jangan pernah berlebihan.