Ada satu hal yang perlahan menghilang dari kehidupan modern, tetapi nyaris tidak pernah kita sadari. Yaitu rasa bosan. Dulu, menunggu antrean, naik kendaraan umum, atau duduk sendirian di ruang tamu sering kali diisi dengan melamun.
Pikiran mengembara ke mana-mana. Kita mengingat masa lalu, membayangkan masa depan, menyusun rencana, atau tiba-tiba menemukan solusi atas masalah yang sudah lama mengganggu.
Hari ini, momen seperti itu semakin langka. Begitu ada jeda lima menit, tangan kita otomatis meraih ponsel. Menunggu lift, membuka Instagram. Menunggu makanan datang, membuka TikTok. Sebelum tidur, menggulir media sosial. Bangun tidur pun yang pertama kali dilihat sering kali bukan langit pagi, melainkan layar ponsel.
Seolah-olah kita tidak lagi memberi kesempatan kepada otak untuk benar-benar merasa bosan. Padahal, dalam psikologi, bosan tidak selalu merupakan musuh. Justru dalam kadar yang wajar, kebosanan memiliki fungsi penting bagi perkembangan otak.
Banyak ahli perkembangan anak menyarankan agar anak tidak terus-menerus dibanjiri mainan atau hiburan. Bukan karena orang tua pelit, melainkan karena ketika pilihan terbatas, anak terdorong menggunakan imajinasinya. Sebuah balok kayu bisa berubah menjadi mobil, pesawat, rumah, atau kapal hanya karena kreativitas mereka bekerja.
Saat anak mulai bosan, otaknya dipaksa mencari kemungkinan baru. Inilah yang disebut sebagai permainan terbuka (open-ended play), yaitu aktivitas yang tidak memiliki satu cara bermain yang benar. Penelitian dalam psikologi perkembangan menunjukkan bahwa jenis permainan seperti ini membantu mengembangkan kreativitas, kemampuan memecahkan masalah, dan fleksibilitas berpikir.
Lalu, muncul pertanyaan menarik. Kalau anak-anak dianjurkan mengalami kebosanan agar lebih kreatif, mengapa kita sebagai orang dewasa justru berusaha menghindarinya?
Ada penelitian dari psikolog Sandi Mann dari University of Central Lancashire yang menunjukkan bahwa kebosanan dapat mendorong munculnya pemikiran kreatif. Ketika otak tidak disibukkan oleh rangsangan dari luar, ia mulai membangun asosiasi baru, menghubungkan pengalaman yang berbeda, dan menghasilkan ide-ide yang sebelumnya tidak terpikirkan.
Dalam ilmu saraf, kondisi ini sering dikaitkan dengan aktifnya default mode network (DMN), yaitu jaringan otak yang bekerja ketika seseorang sedang beristirahat, melamun, atau tidak fokus pada tugas tertentu. Justru pada saat inilah otak banyak melakukan refleksi, mengolah informasi, dan melahirkan gagasan baru.
Namun, apakah itu berarti media sosial selalu buruk bagi kreativitas?
Belum tentu.
Di sinilah diskusinya menjadi lebih menarik.
Banyak orang justru memperoleh inspirasi dari media sosial. Desainer menemukan referensi visual. Penulis menemukan topik tulisan. Pebisnis melihat strategi pemasaran baru. Musisi menemukan gaya aransemen yang berbeda. Bahkan banyak inovasi lahir karena seseorang melihat ide orang lain, lalu mengembangkannya menjadi sesuatu yang baru.
Artinya, media sosial memang bisa menjadi sumber inspirasi. Masalahnya bukan pada keberadaan media sosial, melainkan pada proporsinya.
Inspirasi dan kreativitas adalah dua hal yang berbeda. Inspirasi adalah bahan baku. Kreativitas adalah proses mengolah bahan baku tersebut menjadi sesuatu yang baru.
Jika kita hanya terus mengonsumsi konten tanpa memberi ruang bagi otak untuk mengolahnya, yang terjadi hanyalah penumpukan informasi. Kita merasa terus belajar, padahal belum tentu sempat berpikir.
Bayangkan seseorang yang terus menuangkan air ke dalam gelas tanpa pernah meminumnya. Lama-kelamaan gelas itu akan penuh, tetapi tidak pernah benar-benar memberi manfaat.
Begitu pula dengan otak. Media sosial memberi kita begitu banyak ide, tetapi kebosanan memberi kita waktu untuk menghubungkan ide-ide tersebut menjadi sesuatu yang orisinal.
Sayangnya, algoritma media sosial dirancang untuk mempertahankan perhatian kita selama mungkin. Setiap kali muncul sedikit rasa bosan, selalu ada video berikutnya, unggahan berikutnya, atau notifikasi berikutnya. Otak menjadi terbiasa menerima rangsangan instan sehingga semakin sulit menikmati keheningan. Akibatnya, kita kehilangan salah satu kondisi yang justru penting bagi kreativitas.
Mungkin kita tidak perlu meninggalkan media sosial sepenuhnya. Dunia digital telah menjadi bagian dari kehidupan modern dan menawarkan banyak manfaat jika digunakan dengan bijak. Namun, mungkin sudah saatnya kita juga menjadwalkan waktu untuk tidak melakukan apa-apa.
Biarkan diri menunggu tanpa membuka ponsel. Berjalan tanpa earphone sesekali. Duduk di teras sambil membiarkan pikiran mengembara. Tidak semua kekosongan harus segera diisi.
Karena bisa jadi, ide terbaik kita tidak muncul ketika sedang menggulir layar tanpa henti, melainkan ketika kita memberi kesempatan kepada otak untuk berhenti menerima informasi dan mulai menciptakan sesuatu. Di tengah dunia yang terus berlomba merebut perhatian kita, mungkin kemewahan terbesar hari ini bukanlah memiliki lebih banyak hiburan, melainkan memiliki keberanian untuk sesekali merasa bosan.
Baca Juga
-
Trauma Masa Kecil: Luka yang Berawal dari Hal-hal yang Dianggap Sepele
-
Mengapa Kritik Akademik Lebih Sibuk Dipersoalkan daripada Masalahnya?
-
Standar Kinerja Harusnya Berlaku untuk Semua Penyelenggara Negara
-
Kebencian Salah Sasaran: Mengapa Perempuan Memusuhi Perempuan Lain?
-
Tangki Cinta yang Kosong: Sulitnya Anak Broken Home Mengenal Hubungan Sehat
Artikel Terkait
Kolom
-
Trauma Masa Kecil: Luka yang Berawal dari Hal-hal yang Dianggap Sepele
-
Dari Boros ke Bijak: Tren Financial Glow Up yang Jadi Gaya Hidup Baru Gen Z
-
Ketika Dunia Digital Mengubah Cara Jatuh Cinta Generasi Muda
-
Membaca Jadi Privilese Mewah: Mengapa Harga Buku Makin Tak Terjangkau?
-
Masihkah Pendidikan Menjadi Tiket Keluar dari Kemiskinan?
Terkini
-
IU Tunda Konser dan Perilisan Album Baru, Imbas Kondisi Kesehatan Memburuk
-
Review Ghost Buzzer: Horor Keluarga yang Nyaris Punah di Indonesia
-
Review Jujur Drunken Molen: Humor Absurd yang Diam-Diam Menertawakan Hidup
-
Jung Ho Yeon Susul Ryu Jun Yeol Dilirik Bintangi Serial Netflix 'Outback'
-
Ulasan Cafe Minamdang: Penyamaran Dukun Palsu Bongkar Aksi Kejahatan