Pada babak 16 besar Piala Dunia 2026 akan tersaji pertandingan seru antara Portugal vs Spanyol pada Selasa, 7 Juli 2026. Pertandingan tersebut sangat dinantikan oleh kita para pencinta sepak bola sebab keduanya merupakan negara yang terkenal dengan tim sepak bola yang hebat dan mumpuni. Tentu saja, laga ini sangat dinantikan karena akan ada tim besar dan ternama yang gugur di babak 16 besar tersebut.
Seperti yang kita ketahui, Spanyol merupakan sang juara dunia tahun 2010 di Afrika Selatan, sedangkan Portugal memiliki pemain bintang yakni Cristiano Ronaldo. Pemain dari kedua negara pun sangat mumpuni dan disegani karena terdapat beberapa pemain hebat dan punya skill bermain yang baik. Oleh karenanya, pertandingan ini layak untuk dinantikan.
Permainan Indah vs Permainan Pragmatis
Spanyol merupakan tim yang mengandalkan permainan yang indah. Dengan kata lain, tim Spanyol banyak dihuni oleh pemain-pemain Barcelona yang mengandalkan permainan indah yang dikenal dengan tiki-taka. Oleh karena itu, identitas permainan indah dari Spanyol selalu dikenal.
Coba kita perhatikan dan amati bagaimana Spanyol bermain melawan Tanjung Verde, Austria, maupun Yordania dalam babak grup. Spanyol selalu menampilkan permainan kaki ke kaki dan kerja sama tim yang solid sehingga membuat penonton takjub dengan keindahannya. Dengan kerja sama tim itu pun membuat Spanyol sangat sulit untuk dikalahkan.
Hal ini berbeda dengan Portugal yang terlihat sangat pragmatis. Beberapa kali saya menonton permainan Portugal yang terkesan pragmatis, tidak mengandalkan keindahan, tetapi mencetak gol dan akhirnya menang. Kita bisa melihat bagaimana Portugal sering condong mengharapkan energi dari Cristiano Ronaldo.
Passing sering mengarah pada Ronaldo dan berharap adanya gol. Namun demikian, kadang kala permainan Portugal mudah untuk terbaca. Dari hasil pertandingan sebelumnya di babak grup, Portugal hanya memenangkan 1 pertandingan dan 2 kali seri. Itu pertanda bahwa lini depan, serangan, serta pertahanan Portugal masih biasa saja, tidak sporadis.
Portugal pun tidak bermain tim dengan mengandalkan passing kaki ke kaki. Dari perbedaan tersebut, dapat dikatakan bahwa Spanyol bermain indah, sedangkan Portugal bermain sporadis. Dari taktik yang akan ditunjukkan tersebut, kita akan melihat siapa pemenangnya.
Susunan Pemain dan Statistik Pertandingan dari Kedua Tim
Timnas Spanyol selalu mengandalkan formasi pemain 4-1-2-3 dengan pemain belakang yakni: P. Porro, P. Cubarsi, A. Laporte, dan M. Cucurella. Pemain tengah: Rodri, D. Olmo, dan Pedri, serta pemain depan: L. Yamal, M. Oyarzabal, dan A. Baena.
Sementara itu, Portugal mengandalkan formasi pemain 4-2-3-1 dengan pemain belakang: J. Cancelo, R. Dias, R. Veiga, dan N. Mendes. Pemain tengah: J. Neves, Vitinha, P. Neto, B. Fernandes, dan R. Leao, serta pemain depan: C. Ronaldo.
Dari susunan pemain utama dari kedua tim tersebut, kita perlu melihat juga selama ini statistik dari setiap pertandingan yang dimainkan kedua tim. Pertama, Spanyol saat bertanding melawan Austria di babak 32 besar berhasil menguasai pertandingan dengan penguasaan bola mencapai 65 persen, dengan tembakan ke arah gawang 10 berbanding 0 oleh Austria, dan akurasi operan dari Spanyol mencapai 91 persen.
Kita bandingkan dengan Portugal saat melawan Kroasia yang melakukan penguasaan bola mencapai 62 persen, dengan tembakan ke arah gawang mencapai 3, sedangkan Kroasia 7, dan akurasi operan mencapai 92 persen.
Dari susunan permainan dan statistik pertandingan sebelumnya di babak 32 besar, kita dapat melihat bagaimana Spanyol dalam pertandingan sebelumnya sangat menguasai pertandingan. Itulah sebabnya Spanyol mengedepankan permainan indah sehingga statistik menunjukkan Spanyol unggul jauh dari lawannya pada setiap pertandingan.
Bukan tidak mungkin Spanyol dapat unggul juga dalam statistik saat melawan Portugal. Nanti, kita akan melihat bagaimana permainan indah berhadapan dengan permainan yang pragmatis. Tentu saja sajiannya akan menarik dan seru. Siapa yang berinisiatif menyerang di awal mungkin akan unggul terlebih dahulu.
Baca Juga
-
Hilangnya Habitat, Kematian Indro, dan Masa Depan Gajah Sumatera yang Terancam
-
Darurat Kesejahteraan Guru: Mengapa Negara Masih Membiarkan Pendidik Hidup Susah?
-
Pria Jepang Jadi 'Pahlawan' di Stadion, Tapi 'Beban' di Rumah Tangga
-
Dibalik Maraknya Kasus Deepfake di Kampus: AI Bukan Lagi Sekadar Alat Bantu
-
Pesona Veteran di Piala Dunia 2026: Pembuktian Kualitas Melampaui Usia
Artikel Terkait
-
Timnas Norwegia Cetak Sejarah, Viking Row Bergema Usai Permalukan Brasil
-
Ketika Brasil Tumbang, Piala Dunia Mulai Kehilangan Logikanya
-
Kartu Merah Bukan Penghalang, Inggris Beri Sinyal Positif untuk 8 Besar
-
Salah Besar! Pelatih Norwegia Serang FIFA Usai Hukuman Folarin Balogun Dicabut
-
Skandal Memalukan Piala Dunia 2026! Lobi Donald Trump Bikin FIFA Kehilangan Wibawa
Kolom
-
Bystander Effect: Saat Privasi Menjadi Alasan Kita Membiarkan Kejahatan Terjadi di Depan Mata
-
Menjinakkan "Asisten Otonom": Redefinisi Kendali Manusia di Era Agentic AI
-
Ambisi Kecerdasan Buatan dan Harga Mahal yang Harus Dibayar Bumi
-
Kartu Merah Bukan Penghalang, Inggris Beri Sinyal Positif untuk 8 Besar
-
Ketika Brasil Tumbang, Piala Dunia Mulai Kehilangan Logikanya
Terkini
-
4 Ide OOTD Boyfriend Material ala Yunho ATEEZ, Bikin Look Auto Charming!
-
Cegah Pelecehan Siber Berkedok Candaan, Dosen Unpam Bekali Siswa SMK Telkom "Red Flag Detector"
-
Xiaomi 18 Series Jadi Smartphone Pertama dengan Snapdragon 8 Elite Gen 6
-
Kenapa Cuma di Indonesia Artis Pindah Agama Dijadikan Komoditas Berita?
-
Red Velvet Siap Meriahkan Musim Panas dengan Album Terbaru, Velvet Summer