Beberapa waktu lalu, kita dapat menyaksikan bagaimana aksi bersih-bersih suporter Jepang di stadion Piala Dunia 2026 menyita perhatian dan mendapat apresiasi. Namun, di balik itu, ada hal yang kontras jika kita melihat kondisi di rumah, di mana pria Jepang justru minim partisipasi dalam pekerjaan rumah tangga. Perempuan Jepang bahkan menuduh pasangan pria mereka sengaja menghindari urusan domestik tersebut.
Melansir dari Kompas.com, seorang profesor Fakultas Humaniora Universitas Chubu memberi sudut pandang lain tentang kebiasaan tersebut. Dalam unggahannya, terdapat ilustrasi satir yang menunjukkan seorang penggemar Jepang dengan bangga membersihkan stadion. Penggemar itu adalah orang yang sama yang bersantai di sofa di rumah sembari memainkan ponsel, sedangkan di dekatnya ada tumpukan cucian dan sang istri yang tengah mencuci piring.
Budaya Patriarki yang Masih Kental di Jepang
Sebuah studi oleh Kazuma Sato dari Universitas Takushoku mengungkapkan bahwa ketika pendapatan pasangan hampir sama, tingkat partisipasi suami dalam pekerjaan rumah tangga dan pengasuhan anak hanya 20 persen. Ketika istri menjadi pencari nafkah utama, tingkat partisipasi suami justru lebih rendah lagi.
Dari kondisi tersebut, dapat kita katakan bahwa budaya patriarki, di mana laki-laki memegang dominasi dan perempuan sering kali diposisikan lebih rendah, masih kental di Jepang. Studi tersebut menambah pemahaman kita bahwa bersuara untuk meminimalkan budaya patriarki sesungguhnya sangat penting.
Masih ada pola pikir usang yang menganggap perempuan hanya berada di dapur dan tidak perlu berkarier atau bekerja. Perempuan dianggap murni mengurus rumah tangga dan laki-lakilah yang bekerja memenuhi kebutuhan hidup. Padahal, dalam hubungan keluarga yang baik, setiap pasangan harus saling melengkapi dan berbagi peran dalam setiap pekerjaan di rumah. Bekerja sama merawat rumah terasa begitu indah dan menyenangkan daripada berlama-lama di kantor hanya untuk menghindari tumpukan pekerjaan rumah.
Kesetaraan gender menjadi penting untuk terus disuarakan dan disosialisasikan. Pria maupun perempuan harus memiliki hak yang sama dalam kehidupan. Harus ada keseimbangan dan kesetaraan yang menciptakan hidup yang lebih berarti, daripada mempertahankan patriarki yang hanya mengarah pada hubungan yang saling membiarkan dan tidak saling mendukung.
Dari apa yang terjadi di Jepang, kita dapat belajar bahwa patriarki sesungguhnya masih banyak terjadi di berbagai negara dunia. Padahal, perempuan memiliki kesempatan dan kesetaraan dalam mencari pendapatan untuk membiayai hidup. Kita dapat membayangkan jika pria dan wanita sama-sama bekerja atau berkarier serta memiliki pendapatan sendiri, mereka akan makin jauh dari ancaman kesenjangan sosial seperti kemiskinan. Kita harus bersepakat bahwa budaya patriarki memang harus perlahan kita minimalkan.
Budaya Bersih Suporter Jepang Harus Terus Didorong
Meskipun kontradiktif antara apa yang ditunjukkan di stadion dan di rumah, kita tetap harus terus mendorong agar setiap suporter mengikuti budaya bersih dari Jepang. Hal baik tentu saja harus ditiru, bukan disingkirkan. Setiap orang tentu memiliki kelebihan dan kekurangan. Oleh karena itu, kelebihan tetap harus didorong dan diadaptasi, sedangkan keburukan harus ditinggalkan.
Kita berharap hal-hal baik selalu terlihat di mana pun suporter menonton pertandingan. Dari suporter Jepang yang menginspirasi, kita mendapat semangat dan dorongan untuk menerapkan budaya bersih. Sepak bola tidak sekadar urusan bertanding dan mencetak gol, melainkan memiliki nilai fair play yang harus dijunjung tinggi serta budaya bersih seusai peluit panjang berbunyi. Sebagai suporter yang bijak, menjaga kebersihan tempat pertandingan adalah keharusan karena fasilitas tersebut akan terus dipakai secara berkelanjutan.
Sampah yang kita bawa ke stadion harus dibawa pulang kembali dan dibuang ke tempatnya. Nilai-nilai seperti itulah yang harus kita tonjolkan, menjadikan sepak bola sebagai wadah untuk terus berinovasi dan mendukung hal-hal baik yang dapat kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Baca Juga
-
Dibalik Maraknya Kasus Deepfake di Kampus: AI Bukan Lagi Sekadar Alat Bantu
-
Pesona Veteran di Piala Dunia 2026: Pembuktian Kualitas Melampaui Usia
-
Dihalangi Visa hingga Diusir: Mengapa Iran Jadi Korban Diskriminasi di Piala Dunia 2026?
-
Bukan Sekadar Menang: Pelajaran Berharga dari Suporter Jepang di Piala Dunia 2026
-
Saatnya Bersuara: Menghentikan Eksploitasi Hutan Sebelum Terlambat bagi Orangutan
Artikel Terkait
-
Benarkah Sakit Itu Tabu? Fenomena Seorang Ibu yang Tidak Boleh Sakit
-
Aksi Bersih-bersih Suporter Jepang Dianggap Munafik, Hajime Moriyasu Sampai Buka Suara
-
Tak Semua Pasangan Langsung Gelar Resepsi, Kisah Izzky Alvaro yang Pilih Bangun Rumah Tangga Dulu
-
Bukan Sekadar Smart TV, 2026 LG Jadikan AI Otak Seluruh Perangkat Rumah Tangga
-
Bukan Sekadar Menang: Pelajaran Berharga dari Suporter Jepang di Piala Dunia 2026
Kolom
-
Ironi Restoran Self-Service: Mau Praktisnya, Enggan Tanggung Jawabnya
-
Paylater dan Pinjol: Ketika Kemudahan Berubah Menjadi Ketergantungan
-
Cup Plastik di Meja Anda: Boleh Ditinggal atau Harus Dibuang Sendiri?
-
PLN Bilang Tarif Listrik Tak Naik, Lalu Kenapa Tagihan Kita Meledak?
-
Teriak Demokrasi, tapi yang Beda Pendapat Dicap Buzzer: Sehat?
Terkini
-
Stray Kids Wujudkan Semangat dan Ambisi untuk Terus Maju Lewat Lagu Run It
-
Kepergok Makan Sundae Bareng, Gong Myung Ungkap Reaksi Kocak Han Hyo Joo Soal Rumor Kencan
-
Drama China Derailment: Penuh Plot Twist Mind Blowing atau Cuma Menjual Visual?
-
Begadang Nonton Bola? Ini 5 Trik Biar Gak Kelihatan Zombie di Kantor
-
MotoGP Belanda 2026: Marc Marquez Incar Hattrick, Pecco Punya Misi Terakhir