Kadang kalau melihat kehidupan orang lain yang tampak sempurna, pernah nggak sih kalian berandai-andai bisa hidup sepertinya suatu saat nanti?
Beberapa orang mungkin pernah merasakan hal itu. Sebagian besar dari kita mungkin hanya berhenti sampai di angan-angan. Namun, bagaimana jika seseorang benar-benar mengambil identitas orang lain demi mendapatkan kehidupan yang selama ini ia impikan? Mengikuti enam episode drama Anna, saya merasa drama ini seolah menunjukkan tentang bagaimana keputusasaan bisa mengubah seseorang dan sejauh apa dampak sebuah kebohongan terhadap masa depan orang yang berbohong.
Sinopsis Drama Anna
Drama ini menceritakan kisah perempuan cerdas bernama Lee Yoo-mi (Bae Suzy) yang tumbuh dalam keluarga sederhana. Sejak kecil, dia sebenarnya memiliki banuak impian, sayangnya kenyataan membuatnya berkali-kali harus menerima kegagalan dan perlakuan tidak adil.
Kegagalan dan luka batin yang menumpuk dalam dirinya membuat Yoo-mi merasakan keputusasaan yang cukup dalam. Puncaknya, ketika ia bekerja dengan seseorang bernama Hyun-joo atau Lee Anna (Jung Eun-chae). Rasa iri melihat kehidupan sempurna milik Anna, membuatnya mengambil keputusan ekstrem: mencuri identitas majikannya dan membangun kehidupan baru.
Dengan identitas tersebut, Yoo-mi berhasil mendapatkan pekerjaan bergengsi, memasuki lingkungan elite, hingga menikah dengan seorang pria berpengaruh. Namun, semakin tinggi pencapaian yang berhasil dia raih dengan kebohongan, semakin besar pula risikonya kehilangan semua itu.
Ulasan Drama Anna
“Ketika kamu mengucapkan satu kebohongan dalam hidupmu, maka akan lahir kebohongan lain untuk menutupinya.”
Kalimat di atas saya dengar beberapa tahun lalu dari salah seorang guru saya. Seperti déjà vu, pernyataan itu terus terlintas dalam benak saya saat menonton drama Anna dari episode pertama hingga selesai.
Persis seperti yang dilakukan Yoo-mi dalam drama ini. Dari kebohongan pertama yang ia lakukan, sebetulnya saya sangat menyayangkan tindakannya. Namun, melihat ia tumbuh di tengah keterbatasan dan mengalami banyak perlakuan tidak adil, terkadang juga membuat saya merasa kasihan terhadapnya.
Meskipun demikian, saya tetap tidak membenarkan setiap kebohongan yang dia lakukan demi keuntungannya sendiri. Dan drama ini pun seolah mengajak penonton melihat bagaimana satu kebohongan kecil perlahan memaksanya menciptakan kebohongan-kebohongan baru hanya demi mempertahankan kehidupan yang sudah telanjur ia bangun.
Soal akting, karakter Lee Yoo-mi tidak banyak menunjukkan emosinya di drama ini, Sepanjang cerita, ia lebih banyak menunjukkan ekspresi tenang dan tatapan kosong. Ia terkesan seperti sama sekali tidak membiarkan orang lain membaca apa yang ada di pikirannya pada saat itu. Namun, justru dari sanalah, penonton seolah dibuat bisa merasakan tekanan yang dia alami.
Setiap kebohongan yang dia lakukan bisa dikatakan lahir dari rasa rendah diri, tekanan ekonomi, hingga keinginan untuk diterima oleh lingkungan yang perlahan mendorongnya mengambil keputusan yang salah. Drama ini seolah memperlihatkan bahwa di balik kebohongan yang dilakukan seseorang, terkadang ada luka yang tidak pernah benar-benar sembuh. Seperti halnya Yoo-mi yang sejak kecil kerap dipuji sebagai anak yang pintar akhirnya sulit menerima kenyataan dan menderita luka batin yang cukup mendalam saat mendapati dirinya harus mengalami banyak kegagalan.
Sementara karakter yang dibawakan oleh Jung Eun-chae di sini terlihat angkuh dan menyebalkan. Akan tetapi, keberadaannya di sini menunjukkan betapa lebarnya jarak antara kehidupan orang kaya dan orang biasa. Kehidupan sempurna yang dia jalani sangat kontras dengan hidup Lee Yoo-mi yang penuh tantangan sejak awal.
Menurut saya, melalui dua karakter dengan latar belakang yang jauh berbeda tersebut, drama ini menyampaikan kritik sosial yang terasa relevan dengan kondisi banyak masyarakat sekarang. Yang mana status sosial dan kekayaan sering kali dijadikan ukuran keberhasilan seseorang, akhirnya sebagian orang merasa tertinggal dan mulai membandingkan hidupnya dengan orang lain. Dari situlah rasa iri, rendah diri, hingga keinginan untuk terlihat lebih baik daripada kenyataan bisa muncul.
Melalui perjalanan hidup Lee Yoo-mi, drama Anna mengajak penonton menyadari bahwa mengejar kehidupan yang tampak sempurna dengan cara yang salah hanya akan melahirkan masalah baru. Setiap kebohongan yang dibangun mungkin mampu mengubah cara orang lain memandang kita, tetapi tidak pernah benar-benar menghapus luka maupun rasa takut yang terus menghantui diri sendiri.
Baca Juga
-
Drama Flower of Evil: Saat Seorang Detektif Harus Selidiki Suaminya Sendiri
-
Seru Banget! 5 Rekomendasi Drakor Aksi yang Bikin Tegang Sekaligus Terhibur
-
Gen Z dan Hubungan 'Just Friend': Saat Batas Pertemanan Semakin Kabur
-
Membaca, Menunda, Lupa: Ketika Balasan Chat Hanya Berakhir di Kepala
-
Dilema Pekerja Digital Masa Kini: Saat Jam Kerja Tak Lagi Punya Batas
Artikel Terkait
-
GoldenEye Malam Ini di Trans TV: Kebangkitan Sang Agen 007 dan Debut Gemilang Pierce Brosnan
-
Seoul Busters: Komedi tentang Polisi Gagal dan Kekacauan Unit Kriminal
-
Ulasan Pride and Prejudice: Kisah Cinta Klasik yang Tak Lekang oleh Waktu
-
Drama Straight to Hell, Ketika Rasa Takut Seseorang Dijadikan Bisinis Gelap
-
Jung Ho Yeon Susul Ryu Jun Yeol Dilirik Bintangi Serial Netflix 'Outback'
Ulasan
-
Review The Eyes: Drama Thriller Mencekam tentang Misteri Kematian si Kembar
-
Review Cek Khodam: Komedi Horor yang Telat Menunggangi Momentum Tren Viral
-
Dubliners: Kisah 15 Cerpen yang Mengungkap Sisi Gelap Kehidupan Dublin
-
Melihat Wajah Asli Jakarta Lewat Buku Tiada Ojek di Paris Karya Seno Gumira Ajidarma
-
Seoul Busters: Komedi tentang Polisi Gagal dan Kekacauan Unit Kriminal
Terkini
-
#KaburAjaDulu Ramai Lagi: Pelarian atau Strategi Mencari Masa Depan Aman?
-
4 Night Cream dengan Bakuchiol untuk Kulit Tetap Awet Muda di Usia 40-an
-
5 Rekomendasi Body Wash Green Tea, Ampuh Usir Penat dan Bikin Tubuh Rileks
-
Lamine Yamal Raih Gelar Piala Dunia, Era Baru Dunia Sepak Bola Telah Dimulai
-
Eks Dirut KBS Korupsi Pakan Hewan Rp10,2 Miliar: Saat Manusia Lebih Buas dari Predator