Belakangan ini, media sosial kembali dibuat ramai oleh pembahasan terkait Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Naniek S. Deyang, yang beberapa kali terlihat menangis saat memberikan pernyataan di hadapan media maupun dalam acara resmi.
Saya tidak ingin memperdebatkan apakah tangisan itu tulus atau tidak. Namun, sulit untuk mengabaikan fakta bahwa jutaan rakyat saat ini sedang berjuang menghadapi harga kebutuhan yang terus naik, lapangan kerja yang semakin kompetitif, dan biaya hidup yang semakin mencekik.
Tidak heran jika saya bertanya-tanya, di tengah kondisi seperti sekarang, siapa yang sebenarnya lebih pantas menangis? Pejabat yang mengelola anggaran negara, atau rakyat yang setiap hari merasakan dampak dari berbagai masalah ekonomi?
Rakyat Sudah Terbiasa "Menangis" Tanpa Sorotan Kamera
Jika melihat kehidupan sehari-hari masyarakat, sebenarnya tidak sulit menemukan alasan mengapa banyak orang merasa lelah.
Kita hidup di masa ketika hampir semua kebutuhan terasa semakin mahal. Harga beras, minyak goreng, gas, biaya sekolah, biaya kesehatan, hingga kebutuhan rumah tangga lainnya terus menggerus penghasilan, yang bahkan masih banyak yang di bawah Upah Minimum Regional (UMR).
Di luar sana, ada orang tua yang harus memutar otak agar anaknya tetap bisa sekolah. Ada pekerja yang bekerja dari pagi hingga malam tetapi masih kesulitan memenuhi kebutuhan keluarga.
Tak hanya itu, ada pula pelaku usaha kecil yang harus berjuang mempertahankan usahanya di tengah daya beli masyarakat yang menurun.
Mereka juga menangis. Hanya saja, tangisan mereka tidak pernah menjadi headline berita. Tidak ada mikrofon atau kamera yang menyorot wajah mereka.
Oleh karena itu, ironis ketika air mata pejabat mendapat sorotan luas, sementara tangisan rakyat yang lahir dari himpitan ekonomi nyaris tak pernah dianggap penting.
Rakyat Butuh Hasil Kerja, Bukan Air Mata
Sebagai warga negara yang membayar pajak, saya percaya bahwa masyarakat berhak mengawasi dan mengkritik setiap program pemerintah, termasuk MBG yang saat ini menjadi salah satu program unggulan pemerintah.
Program sebesar ini tentu menggunakan anggaran yang tidak sedikit. Dana yang digunakan berasal dari uang negara, yang pada akhirnya juga berasal dari kontribusi rakyat.
Oleh karena itu, fokus utama seharusnya bagaimana program tersebut dijalankan dan apa dampaknya bagi masyarakat.
Jika memang ada kendala dalam pelaksanaan program, jelaskan kepada publik. Jika ada masalah teknis, sampaikan secara terbuka. Jika ada kekurangan, akui dan perbaiki.
Rakyat tidak membutuhkan pejabat yang pandai membuat publik terharu. Rakyat membutuhkan pejabat yang mampu menyelesaikan masalah.
Yang ingin diketahui masyarakat adalah apakah program berjalan dengan baik, apakah anggaran digunakan secara tepat, dan apakah manfaatnya benar-benar dirasakan oleh mereka yang membutuhkan.
Empati Seharusnya Terlihat dari Kebijakan
Saya juga berpikir bahwa empati tidak selalu harus ditunjukkan melalui air mata. Dalam posisi sebagai pejabat publik, bentuk empati yang paling nyata justru terlihat dari kebijakan dan tindakan yang diambil.
Masyarakat akan merasa diperhatikan ketika harga kebutuhan pokok lebih terkendali. Masyarakat akan merasa didengar ketika kritik mereka ditanggapi dengan serius. Masyarakat akan merasa dihargai ketika pemerintah transparan dalam menggunakan anggaran dan tidak alergi terhadap masukan.
Oleh karena itulah saya merasa bahwa ukuran keberhasilan seorang pejabat bukanlah seberapa emosional ia saat berbicara di depan publik. Ukuran keberhasilannya adalah apakah kebijakannya mampu membantu masyarakat menjalani hidup yang lebih baik.
Rakyat membutuhkan kebijakan dan hasil kinerja yang benar-benar membantu kehidupan mereka, bukan drama air mata pejabat yang terus dipertontonkan di hadapan kamera.
Baca Juga
-
Tumbuh Tanpa Kehilangan Akar: Desa Kemiren dan Jalan Panjang Merawat Budaya Osing
-
Ironi Ruang Kota: Ketika Mal Harus Terbuka, tapi "Rumah Rakyat" Dipagari Kawat Berduri
-
Ketika "Bersyukur" Jadi Tameng Eksploitasi: Membedah Crab Mentality di Dunia Kerja
-
Ulasan A Model Family: Menimbang Moralitas di Tengah Desakan Kehidupan
-
BGN Rilis Aplikasi Reviu MBG: Apakah Digitalisasi Menjawab Akar Masalah?
Artikel Terkait
Kolom
-
Belajar dari Kerja Praktik: Coding Terbaik Adalah yang Mampu Menyelesaikan Masalah Nyata
-
Mengenal Desa Kemiren: Menjaga Budaya Osing Bersama Desa Sejahtera Astra
-
Tumbuh Tanpa Kehilangan Akar: Desa Kemiren dan Jalan Panjang Merawat Budaya Osing
-
Ironi Ruang Kota: Ketika Mal Harus Terbuka, tapi "Rumah Rakyat" Dipagari Kawat Berduri
-
Ketika Siaran Pidato Terputus: Rakyat Lebih Cemas Perang Dunia atau Biaya Hidup?
Terkini
-
Review Drama Kingdom, Melawan Teror Zombi di Tengah Intrik Politik Joseon
-
Cha Eun Woo Ajukan Banding atas Ketetapan Pajak, Agensi Beri Tanggapan
-
Gaya Kepelatihan Berkelas Eropa! Alasan Mengejutkan John Herdman Nonton Timnas dari Tribun Penonton
-
Melihat Pengarang Tidak Bekerja: Ketika Musuh Terbesar Penulis Adalah Dirinya Sendiri
-
Spider-Man: Brand New Day dan Awal Era Mutan di Marvel Cinematic Universe