Pernah dengar perempuan dibilang sudah “expired” hanya karena usianya bertambah? Kedengarannya memang seperti candaan yang kelewat batas. Namun, kalau diperhatikan, anggapan semacam ini ternyata tidak sesederhana itu.
Ada yang bilang perempuan harus segera menikah sebelum “terlambat”, ada yang mengingatkan soal usia dan anak, ada pula yang menyebut perempuan yang belum menikah sebagai perawan tua.
Masalahnya, kalimat-kalimat itu sering keluar begitu saja dalam percakapan sehari-hari. Bahkan dari orang terdekat yang mungkin merasa sedang memberi nasihat. Usia seolah menjadi alasan yang cukup untuk ikut bertanya soal pernikahan, mempertanyakan pilihan hidup, sampai merasa perlu mengingatkan apa yang akan terjadi kalau seseorang belum juga menikah.
Lama-lama, kita jadi terbiasa dengan anggapan bahwa perempuan punya semacam masa berlaku. ALabel expired untuk perempuan akhirnya bukan lagi sekadar istilah yang terdengar kasar, tetapi cermin dari cara kita memandang pertambahan usia sebagai sebuah kerugian.
Kenapa Usia Harus Punya Tenggat?
Kalau dipikir-pikir, yang membuat istilah “expired” terasa mengganggu justru karena ia mengubah usia menjadi semacam hitungan mundur. Ada angka tertentu yang dianggap ideal untuk menikah, lalu setelah melewatinya, seseorang mulai dipandang perlu segera mengejar ketertinggalan.
Padahal, pertambahan usia tidak otomatis membuat seseorang kehilangan kesempatan untuk menjalani hidup sesuai pilihannya. Ada orang yang menikah muda, ada yang menikah sedikit lebih lama, ada pula yang memang memilih tidak menikah.
Anehnya, pilihan-pilihan tersebut sering kali tidak diperlakukan dengan bobot yang sama. Mereka yang menikah sesuai “jadwal” dianggap sudah berada di jalur yang benar, sedangkan mereka yang belum menikah diminta buru-buru.
Menurut saya, di sinilah istilah “expired” menjadi problematik. Istilah itu membuat proses hidup yang seharusnya beragam terasa seperti perlombaan dengan tenggat waktu. Padahal, manusia tidak sedang mengejar tanggal kedaluwarsa.
Nilai Hidup Tak Berhenti di Status Pernikahan
Ada hal lain yang menurut saya menggelitik dari diskursus ini. Begitu usia seorang perempuan dianggap sudah terlambat, pembicaraan tentang hidupnya sering langsung diarahkan ke pernikahan dan anak. Seolah-olah dua hal itu menjadi patokan paling mudah untuk menentukan apakah hidup seseorang sudah berjalan dengan benar atau belum.
Pertanyaan seperti sudah punya pasangan, kapan menikah, atau mau punya anak memang terdengar biasa. Masalahnya, kalau pertanyaan semacam itu terus diberikan kepada orang yang sama, lama-lama rasanya seperti sedang ditagih untuk segera memenuhi target hidup.
Padahal, hidup seseorang tidak berhenti pada urusan pasangan dan anak. Ada pekerjaan yang sedang dibangun, pendidikan yang sedang dikejar, keluarga yang dirawat, pertemanan yang dijaga, hobi yang dinikmati, dan banyak hal lain yang mungkin tidak selalu terlihat oleh orang lain.
Menikah memang bisa menjadi bagian penting dalam hidup seseorang, tetapi tidak seharusnya dijadikan ukuran untuk menentukan apakah hidup seseorang sudah lengkap atau belum. Kalau standar itu terus dipakai, perempuan yang belum menikah akan selalu dianggap sedang mengejar sesuatu, padahal belum tentu ia merasa sedang tertinggal.
Lebih Baik Terlambat daripada Salah Memilih
Ada yang terasa lucu dari tuntutan supaya perempuan jangan terlalu lama melajang. Di satu sisi, mereka terus didorong untuk segera menikah karena usia katanya terus berjalan. Di sisi lain, jarang ada yang mengingatkan bahwa pernikahan juga membawa keputusan panjang yang dampaknya bisa seumur hidup.
Padahal, salah memilih pasangan bisa membawa dampak yang jauh lebih panjang daripada sekadar terlambat menikah. Lucunya, perempuan sering dibuat takut dengan kemungkinan menjadi “perawan tua”, tetapi jarang dibuat takut dengan kemungkinan menjadi istri dari orang yang salah.
Jadi, sudah waktunya berhenti memperlakukan hidup perempuan seperti produk yang harus segera dibeli sebelum tanggal kedaluwarsa. Perempuan bukan barang yang nilainya turun hanya karena usianya bertambah.
Baca Juga
-
Nasihat Mindfulness dari Menara Gading: Bijak, Tapi Kurang Napak Tanah
-
Bad Memory Eraser: Eksperimen Menghapus Ingatan Demi Mengubah Kehidupan
-
Saat Program Andalan Memakan Korban, Bukankah Presiden Seharusnya Geram?
-
Menkeu Boleh Berganti, Beban Anggaran MBG Tetap Menghantui
-
Green Mothers' Club: Obsesi pada Anak Berprestasi dalam Standar Parenting
Artikel Terkait
-
Kisa Perempuan Adat Sembuan Menjaga Hutan Sekaligus Menopang Kehidupan Keluarga
-
Kapan Nikah? Bukan Sekadar Basa-basi, Melainkan Beban Ekspektasi Tak Kasat Mata
-
Review Practical Magic: The Book of Magic: Saat Perempuan Menulis Takdirnya
-
Kisah Juni Bangun Fun English for Ladies, Bukti Nyata Semangat Women Support Women
-
Drama Korea Would You Marry Me?: Pernikahan Palsu demi Rumah Mewah
Kolom
-
Tall Poppy Syndrome: Ketika Orang Berhasil Justru Dicari Kekurangannya
-
Bahaya Penggunaan Prompt, Pendinginan Server Menyebabkan Krisis Air Bersih
-
Media Sosial vs Buku: Apakah Membaca Sesuatu yang Disukai Benar-benar Bikin Pintar?
-
Di Balik Estetika Foto AI Retro, Ada Gen Z yang Lelah dengan Sempurnanya Dunia Digital
-
Mengapa Anak Zaman Now Ingin Jadi YouTuber ketimbang Astronot?
Terkini
-
Ulasan Film Perfect Days: Ketika Kedamaian Ditemukan dalam Rutinitas
-
Ulasan Novel The Great Gatsby: Apakah Uang Bisa Membeli Kebahagiaan?
-
Anime BEYBLADE X Resmi Masuki Bey Kingdom Arc, Tayang 9 Oktober
-
East of Eden Tayang 1 Oktober di Netflix, Florence Pugh Jadi Cathy Ames
-
Mayor of Kingstown Tayang 5 Oktober, Thriller Jeremy Renner Ada di Netflix