Seseorang membuka ponselnya dan menulis kalimat di salah satu aplikasi AI, "Tolong buatkan tulisan ini lebih rapi," tanpa keran yang terbuka. Namun, komputer pusat data bekerja di luar layar dan menghasilkan panas, yang membutuhkan sistem pendingin dan energi.
Kecerdasan buatan sering disebut sebagai teknologi ruang digital. Namun, kecerdasan buatan bergantung pada chip, jaringan listrik, pusat data, server, dan sistem pendingin. Setiap penggunaan AI menimbulkan pertanyaan seperti "apakah AI bisa membuat kekurangan air bersih?" AI dapat meningkatkan tekanan pada sumber daya air, terutama jika pusat data dibangun di daerah yang sudah tertekan oleh air.
Benarkah satu prompt menghabiskan 10–50 ml air? Angka 10–50 mililiter air untuk satu prompt sering beredar di internet. Namun, angka tersebut tidak bisa diperlakukan sebagai tarif air tetap untuk setiap pertanyaan AI.
Penelitian “Making AI Less ‘Thirsty’” dari Li, Yang, Islam, dan Ren menghitung bahwa percakapan sekitar 20–50 pertanyaan dan jawaban pada model sekelas GPT-3 dapat memiliki jejak air sekitar 500 mililiter, bergantung lokasi dan waktu operasi. Jika dibagi rata, kisarannya sekitar 10–25 mililiter per pertanyaan.
Perbedaannya penting. Jejak air AI berubah berdasarkan model, panjang permintaan, perangkat keras, lokasi pusat data, sumber listrik, cuaca, dan sistem pendingin. Jadi, mengatakan setiap prompt pasti menghabiskan 10–50 mililiter air dapat menyesatkan jika dianggap sebagai hasil pengukuran langsung untuk semua layanan AI.
Bahkan Google mengumumkan angka yang berbeda pada tahun 2025. Menurut metode komprehensif Gemini Apps, median prompt teks menggunakan sekitar 0,26 mililiter air. Ini menunjukkan bahwa satu angka tidak dapat menunjukkan ekosistem AI secara keseluruhan; keduanya menunjukkan bahwa dampak AI bergantung pada infrastruktur lokal.
Dari mana air datang dan menjadi masalah? Air tidak “diminum” oleh AI. Air digunakan dalam infrastruktur yang membuat komputasi berjalan. Server menghasilkan panas dan pusat data membutuhkan pendinginan. Pembangkitan listrik juga memiliki jejak air. Di sinilah persoalan menjadi lebih besar daripada satu prompt. Pusat data dapat menggunakan air, sementara masyarakat di sekitarnya membutuhkan air untuk minum, sanitasi, pertanian, dan kebutuhan sehari-hari.
Untuk gambar AI pada Juni 2026, United Nations University Institute for Water, Environment, and Health (UNU-INWEH) memperkirakan bahwa satu gambar AI standar memiliki jejak air terkait listrik sekitar 28,6 mililiter, atau 29 mililiter. Oleh karena itu, estimasi 23 mililiter dapat dianggap. Namun, estimasi ini tidak berlaku untuk semua generator gambar.
Ternyata skalanya sangat besar, UNU-INWEH melaporkan bahwa ChatGPT memproses sekitar 2,5 miliar prompt setiap hari. Mereka juga mengatakan bahwa inference pada sebuah proses terjadi ketika model memenuhi permintaan penggunaan dengan menyumbang 80 hingga 90 persen energi AI.
Bayangkan jutaan orang melakukan hal serupa pada waktu yang bersamaan. Satu prompt memang tampak kecil. Namun, miliaran permintaan mengubah angka kecil menjadi kebutuhan infrastruktur yang besar.
Apakah AI akan membuat air bersih habis? Menurut saya, mengatakan AI sendirian akan menyebabkan dunia kehabisan air bersih kemungkinan bisa terjadi, karena AI perlu ada proses pendinginan dengan air bersih, walau krisis air bisa dipengaruhi banyak faktor, seperti perubahan iklim, pertumbuhan penduduk, pertanian, industri, polusi, dan tata kelola air.
Menurut UNU-INWEH, dengan jejak air sebesar 9,3 triliun liter, pusat data global dapat menggunakan 945 TWh listrik pada tahun 2030. Angka ini tidak berarti seluruh air digunakan untuk mendinginkan server, tetapi hanya jejak air yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan listrik pusat data.
IEA juga memperkirakan terjadinya skala besar penggunaan AI akan meningkatkan konsumsi listrik pusat data sebesar 17% pada tahun 2025. Inilah paradoksnya di mana jumlah prompt terus meningkat meskipun teknologi menjadi lebih hemat hanya dengan satu prompt bisa cepat selesai.
Persoalan sebenarnya bukan “bolehkah manusia menggunakan AI?” Melainkan “seberapa bertanggung jawab AI dikembangkan dan digunakan?” Perusahaan teknologi perlu transparan tentang konsumsi air pusat data. Pemerintah perlu mempertimbangkan risiko air ketika memberikan izin pembangunan pusat data.
Setiap permintaan prompt AI dapat menggerakkan mesin fisik yang membutuhkan energi, pendinginan, dan sumber daya. Jika miliaran permintaan datang setiap hari, jejak kecil itu tidak lagi bisa dianggap sepele.
Teknologi seharusnya membuat hidup manusia lebih mudah, bukan memindahkan beban lingkungannya kepada masyarakat yang kekurangan air. Masa depan AI tidak cukup diukur dari seberapa pintar jawabannya, tetapi juga dari seberapa kecil sumber daya yang dikorbankan untuk menghasilkan jawaban tersebut.
Baca Juga
-
Media Sosial vs Buku: Apakah Membaca Sesuatu yang Disukai Benar-benar Bikin Pintar?
-
Sepatu Ajaib Menyeberangi Sungai
-
Karnaval Pekalongan Jadi Sorotan, Budaya berkedok Ritual di Ruang Publik?
-
Api Tak Menunggu Kontrak Sewa: Urgensi Pesawat Amfibi bagi Negeri Kepulauan
-
Ratusan Anak Keracunan hingga Ratusan Dapur Ditutup: Ada Apa dengan Program Makan Bergizi Gratis?
Artikel Terkait
Kolom
-
Media Sosial vs Buku: Apakah Membaca Sesuatu yang Disukai Benar-benar Bikin Pintar?
-
Di Balik Estetika Foto AI Retro, Ada Gen Z yang Lelah dengan Sempurnanya Dunia Digital
-
Mengapa Anak Zaman Now Ingin Jadi YouTuber ketimbang Astronot?
-
Di Balik Riuh Kritik Maudy Ayunda: Saat Kemarahan Warganet Jadi Ladang Cuan Algoritma
-
Nasihat Mindfulness dari Menara Gading: Bijak, Tapi Kurang Napak Tanah
Terkini
-
Ulasan Film Perfect Days: Ketika Kedamaian Ditemukan dalam Rutinitas
-
Ulasan Novel The Great Gatsby: Apakah Uang Bisa Membeli Kebahagiaan?
-
Anime BEYBLADE X Resmi Masuki Bey Kingdom Arc, Tayang 9 Oktober
-
East of Eden Tayang 1 Oktober di Netflix, Florence Pugh Jadi Cathy Ames
-
Mayor of Kingstown Tayang 5 Oktober, Thriller Jeremy Renner Ada di Netflix