Dua orang duduk berdampingan yang satu menggulir video pendek tanpa henti, sementara yang lain membuka buku yang ingin diselesaikannya. Keduanya sama-sama mencari sesuatu, tetapi cara pikir yang dilatih berbeda.
Di tengah gempuran digitalisasi media sosial, habit membaca buku semakin penting karena memberi ruang untuk tinggal lebih lama bersama sebuah gagasan.
Pertanyaannya, apakah membaca buku yang disukai benar-benar dapat membuat kecerdasan meningkat? Jawabannya tidak sesederhana “iya”. Riset menunjukkan hubungan antara kebiasaan membaca, kemampuan memahami teks, kosakata, dan perkembangan kognitif, tetapi membaca bukan tombol ajaib yang otomatis menaikkan IQ.
Menjalankan sebuah habit baca buku adalah ketika seseorang membaca, memahami, menghubungkan, lalu memikirkan kembali apa yang dibacanya. Survei APJII 2026 juga menunjukkan 82,8 persen responden mengakses media sosial selama satu sampai tiga jam per hari.
Mengapa habit membaca buku tidak boleh hilang? Data terbaru memberi alasan untuk tidak meninggalkan kebiasaan ini. Hasil PISA 2025 yang dirilis OECD pada 8 September 2026 menunjukkan skor membaca Indonesia mencapai 365 poin, naik dari 359 pada 2022. Namun, rata-rata OECD berada di 461 poin. Hanya sekitar 27 persen pelajar Indonesia yang mencapai Level 2 atau lebih dalam membaca, sedangkan rata-rata OECD sekitar 69 persen.
Angka tersebut bukan alasan untuk menyalahkan generasi yang tumbuh bersama media sosial. Sebaliknya, data itu menunjukkan bahwa kemampuan membaca perlu terus dilatih. PISA mengukur kemampuan menggunakan pengetahuan untuk menghadapi persoalan, bukan sekadar menghafal isi buku.
Artinya, masyarakat membutuhkan pembaca yang mampu memahami informasi, menemukan makna, menilai gagasan, dan menghubungkannya dengan kehidupan.
Membaca buku yang disukai bisa membantu kecerdasan? Memilih buku yang disukai sering dianggap kurang serius. Padahal, penelitian tentang reading for pleasure menunjukkan bahwa kesenangan dan keterlibatan dalam membaca berhubungan dengan kemampuan membaca yang lebih baik.
Tinjauan terhadap 22 penelitian yang terbit pada 2014–2022 menemukan pentingnya personalisasi dalam membaca untuk kesenangan serta hubungan aktivitas tersebut dengan lingkungan digital, pendidikan, dan perkembangan pembaca.
Penelitian Stuart Ritchie, Timothy Bates, dan Robert Plomin pada 2015 juga menarik. Jurnal ilmiah Child Development dengan judul asli "Does Learning to Read Improve Intelligence? A Longitudinal Multivariate Analysis in Identical Twins From Age 7 to 16". Studi longitudinal terhadap pasangan kembar identik usia 7 sampai 16 tahun menemukan bukti bahwa kemampuan membaca sebelumnya berkaitan dengan perkembangan kecerdasan berikutnya.
Namun, penelitian lanjutan dan perdebatan metodologis menunjukkan bahwa hubungan tersebut tidak boleh disederhanakan menjadi kesimpulan bahwa membaca pasti menyebabkan seseorang menjadi lebih pintar.
Buku yang disukai justru dapat menjadi pintu masuk. Seseorang boleh memulai dari novel, biografi atlet, sejarah, teknologi, agama, komik, atau buku lingkungan. Ketika rasa ingin tahu tumbuh, durasi dan kedalaman membaca dapat mengikuti.
Di sinilah filsafat Empirisme John Locke membantu menjelaskan mengapa membaca memiliki nilai penting. Dalam buku An Essay Concerning Human Understanding, Locke membahas asal-usul dan batas pengetahuan manusia. Dalam kerangka empirisme, pengalaman menjadi dasar penting bagi pembentukan gagasan; pikiran menerima pengalaman, lalu mengolah gagasan sederhana menjadi gagasan yang lebih kompleks.
Buku bukan pengalaman langsung seperti melihat hujan atau menyentuh tanah basah. Namun, membaca memperluas pengalaman intelektual. Ketika seseorang membaca sejarah, ia berjumpa dengan pengalaman manusia masa lalu. Saat membaca tentang kemiskinan, lingkungan, atau perang, ia mendapatkan bahan untuk memahami realitas yang mungkin belum pernah dialaminya.
David Hume sebagai filsuf, sejarawan, ekonom, dan penulis esai asal Skotlandia yang menjadi salah satu tokoh paling penting dalam era Pencerahan Skotlandia dan sejarah filsafat Barat memberi lapisan kritis pada cara membaca. Dalam karyanya An Enquiry Concerning Human Understanding, Hume membedakan persepsi menjadi impressions dan ideas.
Pengalaman indrawi menjadi bagian penting dari cara manusia membentuk gagasan. Bagi pembaca, pemikiran ini mengingatkan bahwa informasi dalam buku tidak seharusnya diterima mentah-mentah. Membaca berarti bertanya untuk mengetahui apakah gagasan ini masuk akal? Apakah sesuai dengan pengalaman? Apa buktinya? Bagaimana jika ada sudut pandang lain? Dari pertanyaan tersebut, membaca berubah menjadi latihan berpikir kritis.
Media sosial boleh ada, buku jangan hilang, memang masalahnya bukan semata-mata media sosial. Media sosial juga dapat menjadi pintu menemukan buku, penulis, komunitas membaca, dan pengetahuan baru. Masalah muncul ketika kebiasaan berpindah dari satu konten pendek ke konten lain membuat seseorang kehilangan kesabaran untuk membaca sesuatu yang panjang.
Manfaat habit membaca buku tidak harus melawan teknologi. Keduanya dapat berjalan bersama. Seseorang bisa menemukan rekomendasi buku melalui media sosial, membaca ulasannya, lalu menutup layar dan membuka bukunya.
Pada akhirnya, membaca bukan perlombaan menghabiskan sebanyak mungkin halaman. Membaca adalah kesempatan untuk memperpanjang perhatian, memperkaya pengalaman, dan menguji gagasan. Locke mengingatkan pentingnya pengalaman dalam membentuk pengetahuan, sedangkan Hume mengajarkan kehati-hatian dalam memahami persepsi dan gagasan.
Di tengah dunia yang semakin cepat, kemampuan untuk berhenti sejenak dan membaca bisa menjadi bentuk kecerdasan yang semakin berharga. Buku tidak perlu menang melawan media sosial. Yang perlu dijaga adalah manusia agar tidak kehilangan kebiasaan berpikir mendalam.
Baca Juga
-
Mengenal Koridor Gajah: Jalur Vital Ekosistem Hutan yang Terancam Fragmentasi
-
Kupu-Kupu Jarang Terlihat, Apa yang Terjadi pada Lingkungan?
-
Dampak Bahaya Tone Deaf, saat Ucapan Merusak Empati dan Pertemanan
-
Nasib Hutan Papua jika Burung Cenderawasih Kehilangan Habitat dan Pohon Pakan
-
Gen Z Stres Memikirkan Biaya Hidup dan Bencana Jadi Beban Baru?
Artikel Terkait
-
Saya Kira Saya Malas, Ternyata Otak Saya Disetel Ulang untuk Gagal Fokus
-
Wacana Blokir Medsos Anak: Solusi Aman atau Bikin Anak Makin Penasaran?
-
Parah Jadi Para, Gaji Jadi Gajih: Ketika Satu Huruf Mengubah Makna Bahasa
-
Di Rumah atau Dirumah? Kesalahan Sepele yang Terus Berulang di Media Sosial
-
Bahasa Indonesia Kreatif Gen Z: Merebut Kembali Kendali Ekspresi di Medsos
Kolom
-
Tantangan Finansial Gen Z: Gaji Buat Hidup, Tagihan, Healing, dan Tabungan
-
Anggaran MBG Membengkak, Apakah Semua Anak Benar-Benar Membutuhkannya?
-
Bukan Tak Peduli, Ketika Masyarakat Adat Takut Membela Tanahnya Sendiri
-
Kota Pelajar untuk Perantau, 32 Ribu Anak Malang Justru Tidak Sekolah
-
Mitos Self-Reward Liburan: Healing Tidak Selalu Menyelesaikan Masalah Hidup
Terkini
-
Review Film All of You: Ketika Sains Ikut Campur dalam Urusan Cinta
-
Review Serial Lupin Part 3: Sebuah Aksi Menawan Assane Diop yang Penuh Trik
-
Review The Best Thing: Kisah Romantis Dokter TCM dan Manajer Hotel
-
SMK Nusantara Pertahankan Gelar, MAN 1 Kabupaten Sukabumi Raih Juara Putri AXIS Nation Cup 2026
-
Gagal Dapatkan Dean Zandbergen, PSSI Incar Striker Keturunan Islandia!