M. Reza Sulaiman | e. kusuma .n
ilustrasi zero waste ala Gen Z (Gemini AI)
e. kusuma .n

Belakangan istilah zero waste semakin akrab di telinga generasi muda. Mulai dari membawa tumbler sendiri, tote bag untuk berbelanja, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, hingga memilih produk dengan kemasan ramah lingkungan menjadi bagian dari tren sosial.

Di satu sisi, fenomena ini tentu patut diapresiasi. Kesadaran lingkungan yang tumbuh di kalangan Gen Z menunjukkan kalau isu lingkungan tidak lagi dilihat sebagai sesuatu yang jauh dari kehidupan sehari-hari.

Namun di sisi lain, muncul pertanyaan yang cukup menarik: apakah gaya hidup zero waste benar-benar lahir dari kesadaran lingkungan, atau justru ada tekanan sosial untuk terlihat lebih “green” di hadapan orang lain?

Gen Z dan Kepedulian terhadap Lingkungan

Tidak bisa dimungkiri kalau Gen Z adalah salah satu generasi yang tumbuh di tengah berbagai isu lingkungan global. Mereka lebih sering mendengar perubahan iklim, polusi plastik, hingga ancaman krisis lingkungan dibanding generasi sebelumnya.

Informasi yang mudah diakses melalui internet membuat banyak anak muda memahami jika kebiasaan sehari-hari memiliki dampak terhadap lingkungan. Inilah alasan mengapa banyak Gen Z mulai tertarik menerapkan prinsip zero waste.

Mereka ingin menjadi bagian dari solusi, meski dimulai dari langkah-langkah kecil seperti membawa wadah makan sendiri atau mengurangi penggunaan kantong plastik. Kesadaran seperti ini tentu merupakan perkembangan yang positif.

Ketika Zero Waste Menjadi Bagian dari Identitas

Namun, seiring meningkatnya popularitas gaya hidup ramah lingkungan, zero waste juga mulai menjadi bagian dari identitas sosial. Di media sosial, kita sering melihat konten “green” yang seolah jadi tuntunan sekaligus tuntutan

Tanpa disadari, gaya hidup zero waste mulai dipandang sebagai citra diri. Masalah muncul ketika seseorang mulai merasa harus terlihat peduli lingkungan agar diterima orang lain. Pada titik itu, fokus bisa bergeser dari menjaga lingkungan menjadi menjaga citra.

Tekanan untuk Selalu Terlihat “Green”

Media sosial sering kali menghadirkan standar yang tampak sempurna. Seseorang yang ingin hidup ramah lingkungan bisa merasa perlu memiliki tumbler, tote bag, atau produk eco-friendly tertentu agar dianggap benar-benar menjalani gaya hidup berkelanjutan.

Akibatnya, muncul tekanan yang sebenarnya tidak perlu. Pada akhirnya, banyak orang lupa kalau inti dari zero waste bukan membeli produk ramah lingkungan sebanyak mungkin, melainkan mengurangi konsumsi yang tidak diperlukan.

Ironisnya, demi terlihat lebih “green”, sebagian orang justru membeli banyak barang baru yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan. Fenomena mendorong budaya konsumtif tumbuh lebih masif lewat label ramah lingkungan.

Antara Edukasi dan Pencitraan

Media sosial sebenarnya memiliki peran yang cukup unik dalam tren zero waste. Di satu sisi, platform digital membantu menyebarkan edukasi lingkungan kepada lebih banyak orang. Namun di sisi lain, juga dapat mendorong budaya pencitraan.

Menurut saya, tidak semua orang yang membagikan gaya hidup ramah lingkungan melakukannya untuk pencitraan. Banyak yang memang ingin berbagi cerita agar banyak orang ikut terinspirasi.

Namun, kita juga perlu menyadari kalau apa yang terlihat di internet sering kali hanya sebagian kecil dari kenyataan. Karena itu, tidak perlu membandingkan perjalanan kita dengan orang lain yang terlihat lebih “hijau” di media sosial.

Kesadaran yang Tulus Lebih Penting daripada Penampilan

Zero waste seharusnya bukan tentang siapa yang memiliki produk ramah lingkungan paling banyak atau siapa yang terlihat paling peduli lingkungan di media sosial. Tujuan utamanya tetap mengurangi dampak buruk pada bumi melalui kebiasaan sehari-hari yang lebih sadar dan bertanggung jawab.

Jika seseorang mulai membawa tumbler karena ingin mengurangi sampah plastik, itu sudah merupakan langkah yang baik. Tidak perlu menunggu memiliki gaya hidup yang sempurna atau terlihat estetik terlebih dahulu.

Karena menjaga lingkungan bukanlah kompetisi. Yang terpenting bukan seberapa “green” kita terlihat, melainkan seberapa konsisten dan tulus kita berusaha melakukan perubahan, sekecil apa pun itu.