Bagaimana jika istana yang seharusnya menjadi tempat bernaung justru menjadi tempat paling menakutkan bagi rakyatnya sendiri? Melalui Lusi Lindri, Y.B. Mangunwijaya mengajak pembaca memasuki Mataram di bawah kekuasaan Amangkurat I, ketika kemegahan keraton berjalan beriringan dengan ketakutan, intrik, dan penderitaan rakyat. Bagi saya, novel ini bukan sekadar penutup trilogi Rara Mendut, melainkan perjalanan melintasi wajah lain sejarah Jawa: ketika takhta yang seharusnya menjadi tempat mengabdi justru berubah menjadi alat untuk menundukkan manusia. Di tengah kekacauan itu, Lusi Lindri sempat menemukan jalannya sendiri untuk melawan arus kekuasaan yang absolut.
Lusi Lindri, putri Genduk Duku, sejak muda terseret ke pusat kekuasaan Mataram. Berkat kecantikan, keberanian, dan kemahirannya menunggang kuda, ia dibawa ke keraton dan ditempatkan sebagai bagian dari Trinisat Kenya, pasukan perempuan yang bertugas mengawal Amangkurat I. Dari posisi itu, Lusi melihat sendiri bagaimana kekuasaan bekerja dari jarak paling dekat: perintah raja tidak boleh dibantah, perempuan mudah diperlakukan sebagai milik penguasa, sementara rakyat harus menanggung beban ambisi istana.
Ia menyaksikan bagaimana sang raja begitu menggilai seks tanpa mengenal batas; jika Amangkurat I menginginkan seorang perempuan, bahkan istri orang lain pun akan disikat dan direbut paksa. Contoh paling nyata yang disaksikan dan dirasakan di lingkungan istana adalah kisah Ratu Mas Malang. Sebelum diambil oleh Amangkurat I, ia merupakan istri sah dari Ki Dalang Panjang Mas, seorang seniman dalang terkenal di lingkungan Mataram. Saat pertama kali terpikat oleh kecantikannya, Amangkurat I merebut paksa wanita ini meskipun ia tengah mengandung dua bulan dari suaminya. Karena rasa cinta yang sangat besar dan obsesif, Amangkurat I mengangkatnya sebagai selir kesayangan bergelar Ratu Mas Malang.
Di balik singgasananya yang megah, Lusi juga melihat perangai raja yang kekanak-kanakan, egois, dan mudah dikendalikan oleh rasa curiga. Ironisnya, di tengah tabiatnya yang sewenang-wenang itu, raja justru sangat suka mendekati dan beraliansi dengan VOC. Sebuah kontradiksi yang menyakitkan, mengingat ayah sang raja, Sultan Agung, adalah penguasa besar yang sangat memusuhi dan melawan VOC demi kedaulatan Mataram. Pengalaman dan pemandangan kontras di dalam istana tersebut justru membuat Lusi semakin sulit menerima kepatuhan yang membutakan hati nurani.
Hal yang paling mengusik dari novel ini bagi saya bukan sekadar kesewenang-wenangan Amangkurat I, melainkan bagaimana kekuasaan perlahan kehilangan batas ketika seorang raja tidak lagi mengenal rasa cukup. Paranoianya membuat siapa pun yang dianggap mengancam harus disingkirkan, sementara rakyat terpaksa menanggung pajak dan kerja berat demi kepentingan istana. Bahkan kehidupan pribadi perempuan pun tidak luput dari kuasa sang raja. Melalui berbagai peristiwa tersebut, Mangunwijaya seperti menunjukkan bahwa keruntuhan sebuah kerajaan tidak selalu bermula dari serangan musuh, tetapi bisa tumbuh dari dalam ketika penguasanya lebih sibuk mempertahankan takhta daripada menjaga rakyatnya.
Di tengah dunia keraton yang menempatkan perempuan sebagai bagian dari kepentingan laki-laki dan kekuasaan, perjalanan Lusi Lindri menjadi salah satu bagian yang paling menarik bagi saya. Sejak dibawa ke keraton dan menjadi bagian dari Trinisat Kenya, Lusi tidak hanya melihat kemewahan istana, tetapi juga menyaksikan bagaimana perempuan kehilangan hak atas dirinya sendiri. Perempuan dapat dipilih, dipindahkan, bahkan dihukum hanya berdasarkan kehendak penguasa. Lusi sendiri tidak sepenuhnya bebas dari keadaan tersebut. Ia berada di lingkungan yang menuntut kepatuhan mutlak kepada raja dan harus menjalankan perintah meskipun bertentangan dengan suara hati.
Namun, semakin lama berada di dalam keraton, semakin jelas pula baginya bahwa menjadi pengawal raja tidak berarti harus mengizinkan segala tindakan sang raja. Pengalaman melihat penderitaan perempuan lain, termasuk kisah Teja Rukmi dan Roro Oyi, membuat Lusi memahami bahwa kekuasaan tidak hanya merampas kebebasan rakyat, tetapi juga dapat merampas tubuh dan pilihan hidup perempuan. Akhirnya, Lusi Lindri memilih untuk meninggalkan keraton dan menjalani kehidupan sebagai rakyat biasa meskipun tahu hukumannya akan sangat berat. Keputusan tersebut menjadi bentuk kemenangan Lusi atas kembalinya kedaulatan tubuh dan nuraninya sendiri di hadapan kekuasaan yang absolut.
Kekuatan Lusi Lindri karya Y.B. Mangunwijaya terletak pada keberaniannya membongkar sejarah dari sisi yang tidak nyaman. Ia menolak mendmitisasi keraton sebagai simbol kemegahan mutlak, melainkan menampilkannya sebagai arena nafsu, ketakutan, dan ambisi kuasa. Melalui tokoh-tokoh yang abu-abu—baik di dalam lingkaran kekuasaan maupun kubu oposisi—Mangunwijaya secara jujur memotret kerapuhan, kontradiksi, dan kemanusiaan dalam wujudnya yang paling mentah.
Di bagian ini, saya baru teringat pada Animal Farm karya George Orwell. Bukan karena keduanya memiliki cerita yang sama, melainkan karena keduanya memperlihatkan bagaimana kekuasaan dapat berpindah tangan tanpa benar-benar mengubah nasib mereka yang berada di bawahnya. Dalam Lusi Lindri, kehancuran Amangkurat I memang menjadi akhir dari sebuah pemerintahan yang penuh kekejaman, tetapi Lusi dan Peparing menyadari bahwa pergantian penguasa tidak secara otomatis menghapus watak buruk dalam sebuah kekuasaan. Pemberontakan Trunojoyo pun tidak serta-merta mereka lihat sebagai jalan keluar.
Bagi mereka, persoalannya bukan hanya siapa yang menjadi raja, melainkan bagaimana kekuasaan itu dijalankan. Gagasan inilah yang membuat novel ini terasa lebih luas daripada sekadar kisah keruntuhan Mataram. Mangunwijaya seperti mengingatkan bahwa rakyat dapat kembali menjadi korban apabila penguasa baru hanya menggantikan wajah lama tanpa mengubah cara memperlakukan manusia. Takhta boleh berganti, tapi jika keserakahan dan nafsu berkuasa tetap dipertahankan, sejarah hanya akan terulang kembali dengan sendirinya.
Identitas Buku
Judul: Lusi Lindri
Penulis: Y.B. Mangunwijaya
Penerbit: Penerbit Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: Ketujuh, Februari 2025
ISBN: 978-602-06-3341-1
Baca Juga
-
Membaca Patiwangi: Merenungi Suara Perempuan Bali Lewat Goresan Puisi Oka Rusmini
-
Denyut Tradisi Bali dalam Bait-Bait 'Saiban' Karya Oka Rusmini
-
Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
-
Serdadu dari Neraka: Warga Sipil di Tengah Konflik Pemerintah dan GAM
-
Bayi Terapung yang Menjadi Wali: Menyelami Kisah Sunan Giri Lewat Saga dari Samudra
Artikel Terkait
-
Ulasan Jakarta Sebelum Pagi: Menelusuri Misteri di Balik Kiriman Bunga
-
Rembulan Tenggelam di Wajahmu: Perjalanan Menemukan Makna TakdirdanKehidupan
-
Ulasan Novel Olenka, Obsesi dan Kehampaan Jiwa yang Terasing
-
Mawar Merah Matahari: Aksi Seru si Gadis Pembunuh Bayaran Mencegah Perang
-
Keinginan Remaja vs Orang Tua dalam How Could You Do This to Me, Mum?
Ulasan
-
Spider-Man: Brand New Day dan Konsekuensi Sebuah Pilihan
-
Membaca Patiwangi: Merenungi Suara Perempuan Bali Lewat Goresan Puisi Oka Rusmini
-
The Traveling Cat Chronicles: Kisah Persahabatan Manusia dan Kucing yang Mengharukan
-
Stuck: Ketika Masalah Kecil Berubah Menjadi Kekacauan Besar
-
Review 1984: Murni Novel Fiksi atau Prediksi?
Terkini
-
Bebas tapi Cemas: Jebakan Hampa Usia 20-an setelah Lepas Almamater
-
Mengenang Keigo Higashino, 5 Film Adapatasi Ini Suguhkan Premis Unik
-
Laki-Laki Tidak Boleh Nangis? Siapa Sih yang Buat Aturan Aneh Itu?
-
Jurnal Jo: Sulitnya Jadi Remaja, Kebelet Dewasa tapi Daya Tak Mampu!
-
Membiayai Anak Bukan Lisensi untuk Menghapus Privasinya