Menjadi laki-laki di negeri ini kadang terasa seperti mengikuti lomba yang aturan mainnya tidak pernah ditulis, tetapi semua orang mendadak menjadi juri.
Sejak kecil, anak laki-laki sudah dijejali berbagai petuah sakral yang diwariskan turun-temurun. Kalau jatuh lalu menangis, langsung ada yang berkata, "Jangan nangis, kamu kan laki-laki." Kalau takut masuk ruangan gelap, dibilang cemen. Kalau terlalu sering membantu ibu di dapur, dianggap calon "suami takut istri". Pokoknya, ada daftar panjang hal-hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh laki-laki. Masalahnya, daftar itu sering kali tidak masuk akal.
Saya kadang membayangkan, siapa sebenarnya orang pertama yang memutuskan bahwa mencuci piring bisa mengurangi kadar testosteron? Atau siapa yang menemukan teori bahwa laki-laki yang memasak otomatis kehilangan status kejantanan? Kalau dipikir-pikir, logikanya lebih membingungkan daripada soal matematika yang jawabannya disuruh dicari sendiri oleh guru. Anehnya, banyak orang masih percaya.
Kita hidup di masyarakat yang kadang menganggap laki-laki yang bisa memasak itu kurang maskulin, tetapi tidak masalah jika laki-laki dewasa tidak bisa menggoreng telur tanpa membuat dapur seperti lokasi kebakaran kecil-kecilan. Standar ini jelas perlu dipertanyakan.
Fenomena semacam ini dikenal sebagai toxic masculinity, yaitu cara pandang yang memaksa laki-laki memenuhi standar kejantanan yang sempit dan sering kali tidak realistis. Laki-laki harus kuat, harus berani, harus dominan, harus tahan banting, dan yang paling penting: tidak boleh terlihat lemah. Masalahnya, manusia memang diciptakan dengan perasaan. Termasuk laki-laki.
Sayangnya, banyak laki-laki tumbuh dengan keyakinan bahwa kesedihan adalah emosi yang haram dipertontonkan. Menangis dianggap aib. Curhat dianggap tanda kelemahan. Mengaku sedang tidak baik-baik saja terasa seperti mengajukan surat pengunduran diri dari status "laki-laki sejati".
Akhirnya banyak laki-laki memilih memendam semuanya sendirian. Mereka terlihat baik-baik saja di luar, tetapi sebenarnya sedang berperang dengan pikirannya sendiri.
Lucunya, masyarakat yang melarang laki-laki menangis justru memberi karpet merah untuk kemarahan. Laki-laki marah? Wajar. Laki-laki membentak? Masih dimaklumi. Laki-laki berkelahi? Kadang malah dianggap pemberani.
Padahal kemarahan juga bagian dari emosi. Bahkan sering kali kemarahan hanyalah kesedihan yang tidak diberi kesempatan untuk berbicara.
Akibatnya, banyak laki-laki yang tidak pernah belajar mengelola perasaannya dengan sehat. Mereka diajari cara menekan emosi, bukan memahami emosi. Ketika tekanan hidup datang bertubi-tubi, yang keluar bukan dialog, melainkan ledakan.
Belum lagi soal kebiasaan-kebiasaan yang anehnya dilekatkan pada simbol kejantanan. Misalnya merokok.
Entah sejak kapan asap rokok dianggap sebagai bukti kedewasaan. Seorang remaja yang belum pernah menyentuh rokok sering dianggap kurang gaul. Sementara yang sudah bisa menghabiskan beberapa batang sehari malah terlihat lebih "laki".
Kalau dipikir-pikir, ini seperti menganggap seseorang jago berenang karena berani tenggelam lebih dulu. Begitu pula dengan budaya tawuran atau perkelahian. Ada anggapan bahwa laki-laki harus berani menghadapi tantangan apa pun. Bahkan jika tantangan itu sebenarnya tidak ada manfaatnya selain menambah jumlah memar di tubuh dan biaya berobat. Yang menolak berkelahi disebut penakut. Yang memilih menghindari konflik disebut cemen.
Padahal bisa jadi orang yang memilih pulang dan tidur justru jauh lebih bijak daripada mereka yang sibuk membuktikan keberanian di jalanan.
Di era sekarang, standar maskulinitas semacam ini sebenarnya mulai kehilangan relevansinya. Dunia sudah berubah. Kebutuhan hidup juga berubah. Kemampuan bekerja sama, mengelola emosi, menghormati orang lain, dan bertanggung jawab jauh lebih penting daripada sekadar terlihat garang.
Laki-laki tidak harus selalu menjadi manusia super yang kebal terhadap rasa sakit. Mereka boleh sedih, boleh gagal, boleh takut, bahkan boleh menangis. Tidak ada yang berkurang dari harga diri seseorang hanya karena ia menunjukkan bahwa dirinya manusia.
Mungkin sudah waktunya kita pensiun dari definisi lama tentang kejantanan. Sebab menjadi laki-laki bukan soal seberapa keras suara saat marah, seberapa banyak rokok yang dihabiskan, atau seberapa sering berhasil menyembunyikan kesedihan.
Menjadi laki-laki yang sehat justru dimulai ketika seseorang tidak lagi sibuk membuktikan dirinya laki-laki kepada orang lain. Karena orang yang benar-benar kuat biasanya tidak perlu terus-menerus meyakinkan dunia bahwa dirinya kuat.
Baca Juga
-
Sampah dan Dosa Kecil yang Dianggap Biasa
-
Dompet Tak Berbunyi, Saldo Diam-Diam Mati: Dilema Hidup Serba Digital
-
Niat Jahat yang Tidak Sampai: Ketika Hukum Tidak Selalu Perlu Ikut Panik
-
Uang Tidak Bisa Membeli Kebahagiaan Adalah Kebohongan Terbesar yang Kita Percaya
-
Menonton Sirkus Kemiskinan: Sisi Gelap Konten Sedekah di Media Sosial
Artikel Terkait
-
Cegah Kanker Serviks, Kemenkes Beri Vaksin HPV untuk Anak Laki-Laki Mulai Agustus
-
Gunung Lewotobi Laki-laki Erupsi Lagi! Radius 5 KM Wajib Steril
-
Bungkam Keraguan, Debut Sutradara Muda Ferly Halim 'Takkan Kubiarkan Kau Menangis' Banjir Air Mata
-
Sinopsis Film Takkan Kubiarkan Kau Menangis, Saat Ari Irham Merasa Tak Pernah Cukup di Mata sang Ibu
-
Review Film Takkan Kubiarkan Kau Menangis: Hangat, Realistis, dan Bermakna
Kolom
-
Membiayai Anak Bukan Lisensi untuk Menghapus Privasinya
-
GIIAS Ramai, Mobil Laris: Ekonomi Baik-baik Saja atau Kita Makin Timpang?
-
Pasar Modal Serok Rp125 Triliun: Pesta Raksasa yang Lupa Mengundang UMKM
-
Pemerintah Bakal Rombak Buku Pelajaran: Seberapa Mendesak bagi Pendidikan?
-
Harmoni Garam Palungan dan Laut Tejakula: Merekam Jejak Kejayaan Desa Les
Terkini
-
Jurnal Jo: Sulitnya Jadi Remaja, Kebelet Dewasa tapi Daya Tak Mampu!
-
Ulasan Broken Strings: Ketika Cinta Berubah Menjadi Kendali
-
4 Padu Padan Outfit Stripe ala Jisoo BLACKPINK, Buat yang Suka Gaya Preppy!
-
Ulasan Doctor Slump: Memaknai Kegagalan di Tengah Tuntutan Kesuksesan
-
Ulasan Film Toko Perlengkapan Mayat: Kisah Tragis Keluarga Tumbal Penglaris