Selama kami membiayai anak itu, ya tidak ada privasi. Kalimat seperti ini mungkin terdengar sebagai gurauan khas orang tua yang merasa bertanggung jawab penuh atas kehidupan anak. Namun, seolah-olah karena orang tua menanggung kebutuhan finansial anak, maka mereka otomatis memperoleh hak tanpa batas untuk mengawasi seluruh kehidupan anak.
Ketergantungan finansial tidak membatalkan hak anak atas privasi.
Anak memang belum sepenuhnya mandiri. Mereka membutuhkan orang tua untuk memenuhi kebutuhan dasar, memperoleh pendidikan, mendapatkan perlindungan, dan berkembang secara sehat. Karena itu, orang tua memiliki kewenangan sekaligus tanggung jawab untuk memberikan pengawasan yang sesuai dengan usia dan kondisi anak.
Namun, kewenangan tersebut bukanlah kepemilikan.
Anak bukan properti orang tua.
Prinsip ini bukan sekadar gagasan modern tentang parenting. Pasal 16 United Nations Convention on the Rights of the Child atau Konvensi Hak Anak menegaskan bahwa tidak seorang anak pun boleh menjadi sasaran campur tangan yang sewenang-wenang atau tidak sah terhadap kehidupan pribadinya, keluarga, rumah, maupun surat-menyuratnya. Anak juga berhak mendapatkan perlindungan dari serangan yang tidak sah terhadap kehormatan dan nama baiknya.
Dengan kata lain, sejak menjadi anak sekalipun, seseorang tetap merupakan manusia yang memiliki hak atas ruang pribadi.
Tentu saja, hak atas privasi bukan berarti anak dapat melakukan apa pun tanpa pengawasan. Seorang anak yang masih kecil membutuhkan pengawasan lebih intensif. Remaja yang menghadapi risiko tertentu juga mungkin membutuhkan intervensi orang tua. Ketika terdapat indikasi kekerasan, eksploitasi, penyalahgunaan narkoba, ancaman keselamatan, atau bahaya serius lainnya, orang tua justru memiliki kewajiban untuk bertindak.
Tetapi di situlah pentingnya membedakan pengawasan dengan kontrol total.
Memastikan anak pulang dengan selamat adalah pengawasan. Mengakses percakapan pribadinya setiap saat tanpa alasan yang proporsional adalah persoalan lain.
Mengetahui dengan siapa anak bergaul dapat menjadi bagian dari pengasuhan. Menganggap setiap teman, percakapan, dan aktivitas pribadi sebagai sesuatu yang otomatis boleh diperiksa karena “saya yang membiayai kamu” adalah bentuk perluasan kewenangan yang patut dipertanyakan.
Sebab uang tidak pernah menjadi mata uang untuk membeli hak seseorang.
Orang tua memang membayar sekolah. Membeli makanan. Menyediakan rumah. Membayar biaya kesehatan dan kebutuhan lainnya. Namun, semua itu merupakan bagian dari tanggung jawab pengasuhan, bukan transaksi yang harus dibayar anak dengan menyerahkan seluruh batas pribadinya.
Jika logika finansial tersebut diterapkan secara konsisten, maka anak yang sudah mandiri secara ekonomi seharusnya baru memiliki hak privasi. Padahal, hak asasi tidak muncul ketika seseorang menerima gaji pertamanya.
Hak tersebut melekat pada manusia.
Justru pada masa remaja, privasi memiliki fungsi penting dalam perkembangan psikologis dan sosial. Remaja sedang membangun identitas, belajar mengambil keputusan, memahami batas diri, dan mengembangkan rasa tanggung jawab. Mereka membutuhkan ruang untuk berpikir, mencoba, gagal, dan belajar tanpa merasa seluruh kehidupannya terus-menerus berada di bawah pengawasan.
Pengawasan yang terlalu invasif bahkan dapat menghasilkan paradoks.
Ketika anak merasa tidak dipercaya, ia bisa belajar menyembunyikan sesuatu.
Ketika setiap kesalahan dibalas dengan interogasi, ia bisa belajar berbohong.
Ketika setiap batas pribadi dianggap sebagai bentuk pembangkangan, ia akan mencari cara untuk membangun batas tersebut secara diam-diam.
Akhirnya, orang tua kehilangan sesuatu yang jauh lebih penting daripada akses terhadap ponsel atau percakapan anak: kepercayaan.
Karena itu, pertanyaan dalam pengasuhan seharusnya bukan “Apakah orang tua berhak mengetahui semuanya?”
Melainkan: “Apa yang perlu diketahui untuk memastikan anak aman, dan apa yang seharusnya tetap menjadi ruang pribadinya?”
Pertanyaan kedua jauh lebih sulit, tetapi justru lebih sehat.
Pengasuhan yang baik bukan tentang mengetahui setiap detail kehidupan anak. Pengasuhan yang baik adalah menciptakan hubungan ketika anak bersedia bercerita, bukan terpaksa membuka semuanya karena takut diperiksa.
Pada akhirnya, orang tua memang memiliki tanggung jawab besar terhadap anak. Mereka berhak menetapkan aturan, memberikan batas, dan melakukan pengawasan yang masuk akal. Namun, kewenangan tersebut harus dijalankan secara proporsional, sesuai usia, kebutuhan perlindungan, dan kepentingan terbaik anak.
Membiayai anak adalah tanggung jawab. Membesarkan anak adalah amanah. Keduanya bukan lisensi untuk menghapus hak anak atas privasi.
Anak mungkin tinggal di rumah kita, hidup dari uang kita, dan berada di bawah tanggung jawab kita. Tetapi anak tetaplah manusia. Bukan proyek yang kehilangan hak atas kehidupan pribadinya hanya karena belum mampu membayar tagihannya sendiri.
Baca Juga
-
We Free the Stars: Perjalanan Terakhir Mengembalikan Sihir ke Arawiya
-
Karena Aku Perempuan: Empat Wajah Cinta yang Tak Pernah Sederhana
-
Ombak Tak Bisa Dikendalikan, Tapi Keselamatan Bisa Dipersiapkan
-
Politik Nggak Ngaruh ke Hidup? Tunggu Sampai Bencana Datang ke Depan Rumah
-
Peringatan Gempa Bukan Ramalan: Stop Tunggu Bencana untuk Belajar Mitigasi
Artikel Terkait
Kolom
-
Korea Selatan Libatkan Warga Lawan Deepfake, Indonesia Bisa Belajar Apa?
-
Korps Kadet RI di Sekolah: Perlukah Bela Negara Jadi Ekstrakurikuler?
-
Katanya Lowongan Kerja Banyak, Kenapa Cari Kerja Tetap Susah?
-
Di Balik Emas Asian Games: Alarm Regenerasi Bulu Tangkis Kita
-
Walk Out di PBB: Protes Moral Perkasa, tapi Apakah Taktis?
Terkini
-
Sinopsis Irreplaceable, Dracin Terbaru Zhao Jin Mai dan Wei Da Xun di Youku
-
Good Talk GNFI di UAD: Pendidikan RI Dianggap Hanya Cetak Tenaga Kerja
-
Salma Rilis Lagu 'maha benar', Sindiran Keras Buat Netizen Julid dan Si Paling Paham Hidup Orang!
-
4 Masker Rambut Berbahan Mint yang Ampuh Usir Rambut Lepek dan Ketombe
-
The Storm Tayang 15 Oktober di Netflix, Komedi Gelap Josephine Bornebusch