Kabar membanggakan baru saja datang dari Beijing. Seperti yang dilaporkan oleh ANTARA News, dua atlet cilik asal Indonesia, Adena Thariza Ardhani yang berusia sepuluh tahun dan Inara Thariza Sarasvati yang berusia tujuh tahun, sukses menyabet Juara 1 dalam ajang The 2026 Ice Skating Institute Asia World Ice Arena Beijing Figure Skating Championship. Di media sosial, warganet riuh bertepuk tangan. Narasi heroisme anak bangsa yang menaklukkan olahraga musim dingin di negara tropis kembali digemakan.
Namun, di balik gemerlap medali emas dan anggunnya kostum bertema Wonderful Indonesia yang mereka kenakan, ada realitas kontras yang luput dari sorotan kamera. Di manakah para juara kita ini mengasah bakatnya setiap hari? Jawabannya bukan di pelatnas megah milik pemerintah, melainkan di ice rink komersial di dalam pusat perbelanjaan.
Ketika Atlet Harus Berbagi Ruang dengan Pencari Hiburan
Pernahkah Anda membayangkan seorang atlet pelatnas bulu tangkis harus berlatih di lapangan yang sama dengan anak-anak yang sedang bermain kejar-kejaran? Tentu tidak masuk akal. Namun, itulah makanan sehari-hari bagi atlet figure skating kita.
Mereka harus mematangkan teknik lompatan yang presisi dan koreografi yang rumit di tengah kepungan pengunjung mal yang sedang belajar meluncur. Risiko tabrakan, keterbatasan jam latihan karena mengikuti jam operasional mal, hingga distraksi musik pop dari pengeras suara pusat perbelanjaan adalah tantangan nyata di lapangan.
Arena seluncur es di Indonesia saat ini masih dipandang murni sebagai komoditas hiburan gaya hidup, bukan fasilitas olahraga prestasi. Konsekuensinya, aspek keselamatan dan standar teknis untuk atlet profesional sering kali harus mengalah pada kepentingan bisnis pengelola tempat hiburan tersebut.
Parental Investment: Kemenangan Keluarga, Bukan Negara
Mari kita bicara jujur mengenai angka. Menghasilkan seorang juara dunia di cabang olahraga es membutuhkan ongkos yang tidak murah. Sewa pelatih privat profesional, pembelian sepatu luncur standar kompetisi, pembuatan kostum eksklusif, hingga biaya akomodasi ke Beijing, semuanya keluar dari satu sumber, yakni dompet orang tua.
Fenomena ini dikenal sebagai parental investment. Keberhasilan Adena dan Inara di Beijing sejatinya adalah kemenangan mutlak dari sebuah komitmen keluarga yang luar biasa, baik secara mental maupun finansial.
Sangat tidak adil jika negara langsung mengklaim momentum ini sebagai keberhasilan pembinaan nasional saat mereka pulang membawa medali. Selama ini, negara cenderung absen dalam fase berdarah-darah saat atlet merintis karier, dan baru hadir saat podium juara sudah diraih untuk sekadar sesi foto bersama.
Membawa Ice Skating Keluar dari Pusat Perbelanjaan
Jika Indonesia serius ingin melihat bendera Merah Putih berkibar di ajang Olimpiade Musim Dingin, paradigma kita harus dirombak total. Kementerian Pemuda dan Olahraga beserta pihak swasta tidak bisa lagi memperlakukan figure skating sekadar sebagai hobi mahal anak kota.
Pemerintah bisa mulai memberikan insentif pajak bagi pengelola mal yang bersedia mengalokasikan waktu-waktu khusus secara gratis atau dengan biaya terjangkau untuk latihan atlet nasional. Sebagai langkah jangka panjang, sudah saatnya Indonesia menginisiasi pembangunan indoor winter sports center pertama milik negara yang mandiri dan berstandar internasional.
Kita tidak boleh membiarkan bakat emas seperti Adena dan Inara layu sebelum berkembang ke level yang lebih tinggi hanya karena komitmen negara kalah cepat dengan masa kedaluwarsa dompet orang tua mereka.
Melihat potensi yang begitu besar di tengah keterbatasan ini, sebuah pertanyaan reflektif patut kita renungkan bersama. Sampai kapan prestasi olahraga kita harus terus-menerus disubsidi oleh keringat dan air mata finansial keluarga atlet itu sendiri?
Baca Juga
-
PHK Massal Buruh Pabrik: Benarkah Up-skilling Hanya Ilusi?
-
Saat Negara Kehilangan 'Koordinat', Warga Kehilangan Ruang Hidup
-
Bukan Sekadar Konten: Mengapa Polisi Harus "Sungkem" ke Lansia demi Keamanan Negara?
-
Diplomasi Tenun di Vatikan: Tamparan buat Fast Fashion?
-
Diplomasi Manis RI-AS: Menagih Realisasi Investasi Hijau Paman Sam
Artikel Terkait
-
Tak Melulu Olahraga Ekstrem! Red Bull Cari Atlet Muda Indonesia untuk Dapat Mentoring Eksklusif
-
Di Balik Gemerlap Podium, Nasib Atlet Indonesia Masih Terkatung-katung
-
Kevin Sanjaya Tak Ingin Anaknya Jadi Atlet Pro: Juara Itu Cuma Satu dari Jutaan Orang!
-
Cerita An Se-young Akrab dengan Megawati Hangestri, Persahabatan Lintas Cabor
-
Cetak Sejarah! Dhea Natasya Jadi Atlet Perempuan Indonesia Pertama di World Longboard Tour 2026
Kolom
-
Gen Z dan Quiet Luxury: Antara Gaya Hidup Baru atau Malah Tekanan Sosial?
-
Darurat Moral dan Runtuhnya Integritas di Balik Algoritma Novel Online
-
Paradoks Stockdale: Cara Jaga Kewarasan di Negara yang Penuh Kejutan
-
Membedah Logika Perbedaan Panas Eropa vs Indonesia Lewat Kacamata Geografi
-
Efisiensi atau Diskriminasi? Membaca Ulang Preferensi Rekrutmen Perusahaan
Terkini
-
Dikalahkan Belgia 2-3, Senegal Tak Mampu Ulang Memori Piala Dunia 2002
-
Publik Kecewa, Sutradara Tolak Mentay-Mentah Ide Garap Sekuel Ratatouille
-
The East Palace Rilis Trailer Resmi, Nam Joo Hyuk Hadapi Kutukan Istana
-
Sinopsis Madness Next Door, Drama Horor Jepang Dibintangi Rino Katase
-
Trakindo Gelar Misi Hijau Bersama Trash Ranger Indonesia, Edukasi Lingkungan Lewat Aksi Nyata