Konon pada jaman dulu, beberapa masyarakat di daerah pedesaan tidak memiliki jam dinding sehingga memanfaatkan jam matahari. Yakni dengan mendirikan lidi atau ranting kecil untuk mengetahui arah cahaya. Namun, ketika ada beberapa tetangga yang memiliki radio, mereka mulai mengira-ngira waktu lewat siaran radio, maupun acara di saluran tertentu.
Radio menurut KBBI adalah siaran bunyi atau suara di udara. Perangkat ini tadinya dijadikan sebagai pengirim sinyal, pesan, dan informasi sebelum berubah menjadi aspek hiburan masyarakat dengan beragam saluran dan acara. Di wilayah saya, terdapat radio legendaris berjuluk Radio Wijangsongko yang telah mengudara sejak 1968, dan resmi tutup permanen pada 1 April 2026.
Sebagai gen Z penghuni wilayah kabupaten Kediri, saya sendiri telah akrab dengan Radio Wijangsongko. Acara yang paling seru adalah Warung Campursari dengan opening pantun khas, yang menyetel langgam-langgam Jawa. Juga acara guyonan sebagaimana interaksi penyiar Lek Dul dan Menik yang bak duel lintas generasi haha. Saya sendiri pun pernah mengirim salam lewat radio terhadap kawan. Jadi nostalgia.
Kemajuan Zaman Turut Mengikis Esensi Radio
Namun, perkembangan zaman dan teknologi yang masif perlahan mengikis esensi radio. Masyarakat tidak perlu lagi menyetel radio atau sekadar menjemur batrei supaya bisa digunakan lagi. Kemajuan hiburan dan sumber informasi sudah bisa diakses lewat ponsel dan internet. Alhasil, radio mulai ditinggalkan, kecuali beberapa generasi sepuh yang masih setia.
Hendak memasang iklan pun kini sudah lebih mudah dengan jangkauan luas. Masyarakat bisa melakukan endorse lewat media digital, dengan bantuan influencer-influencer. Kendati demikian, masih ada kok beberapa iklan produk yang disiarkan lewat radio.
Radio Harus Turut Menjamah Ranah Media Sosial
Dewasa ini, peran radio sebagai sumber informasi memang surut dihantam perkembangan teknologi dan internet masif. Alhasil, beberapa radio mulai melebarkan sayapnya dengan membangun akun media sosialnya sendiri, menciptakan website berita, sampai menjadi wadah aspirasi masyarakat yang sangat membantu.
Karena berdomisili di kabupaten Kediri, saya lebih sering memantau berita dan kejadian di sekitar lewat postingan media sosial Radio Andika. Sampai sekarang memang masih mengudara, tetapi jaringannya merambah ke lini media sosial, bahkan menerima aduan masyarakat lho.
Ada banyak postingan barang hilang yang dilaporkan atau diantarkan ke Radio Andika, sebelum dipost di media sosial sehingga pemilik dapat mengambilnya. Bagi saya, hal tersebut sangat membantu sekali mengingat hampir semua orang mengakses media sosial.
Radio Versi Media Sosial Menjadi Jujugan Masyarakat
Kekuatan media sosial memang masif dan cepat, sehingga segala bentuk informasi tersampaikan dengan mudah. Kendati demikian, ada banyak hal yang harus diverfikasi kebenarannya dulu, sebelum diposting.
Radio Andika sendiri menerima segala bentuk informasi dari masyarakat, dan rutin memberikan update beritanya. Seperti kasus barang hilang maupun orang hilang, maka akan diberikan update berkala bila sudah diketemukan. Masyarakat jadi terbantu sekali dengan penyampaian informasi seperti ini.
Radio Sebagai Lembaga yang Turut Meriahkan Peringatan HUT RI
Lewat postingan di media sosialnya, Radio Andika rupanya turut memeriahkan peringatan kemerdekaan RI dengan kearifan lokalnya sendiri. Lembaga ini menyajikan nuansa nasionalisme dengan menggandeng para tukang becak guna mengikuti upacara bertajuk KAMI JUGA UPACARA yang bakal digelar di Andika Media Center.
Kalau menengok akun media sosialnya, saya tahu bahwa ada ratusan kuota yang telah terpenuhi atau bahkan ada kemungkinan ditambah lagi. Esensinya menjadi bukan lagi sebagai media penyampai informasi maupun sarana hiburan semata, tetapi menjelma lembaga berdaya yang hadir di tengah masyarakat dengan akurat.
Kalau boleh jujur, saya sangat merindukan era kejayaan radio. Selain karena acara-acaranya yang khas, terdapat juga suara penyiar-penyiar yang kadung melekat di telinga. Tentu yang paling hangat ya momentum mendengarkan radio dan tertawa bareng-bareng.
So, apakah kawan-kawan sekalian pernah merasakan kehangatan era radio dahulu? Kalau iya, saluran apa favorit kalian?
Baca Juga
-
Menimba Memori dan Pemanfaatan Air yang Krusial lewat Fasad Sumur Timba
-
Review 'Python Island': Ambisi Manusia, Kutukan Dewi Ular, dan CGI Kasar yang Bikin Tepok Jidat
-
Pengalaman Horor Kang Pentol, Bertemu Dua Perempuan Misterius dekat Makam
-
Drama Perkara Busi: Jangan Suruh Orang Beli Suku Cadang Tanpa Catatan Spesifik!
-
Pesona Male Lead Tengil di Drama Undercover Affair, Sukses Bikin Penonton Salah Tingkah!
Artikel Terkait
Kolom
-
MBG dan Hak Publik untuk Mengawasi Setiap Rupiah Uang Negara
-
Ribuan Manajer KDMP Mundur, Efektivitas Pelatihan Rp1 Triliun Jadi Sorotan
-
Menimba Memori dan Pemanfaatan Air yang Krusial lewat Fasad Sumur Timba
-
Heboh Wajah Anak Artis Bocor di Medsos: Salah Netizen atau Orang Tua yang Over-Sharenting?
-
Rocky Gerung Masuk Istana: Pengkritik Kekuasaan yang Kini Menjadi Penasihat Presiden
Terkini
-
HONOR X9e Pro Resmi Rilis, Baterai 11.000 mAh Bikin HP Ini Serasa Membawa Powerbank
-
Di Balik Hiatus One Piece: Menyelamatkan Animator dari Sindrom Kejar Tayang
-
The Assassin(s) Batalkan Seluruh Agenda BIFF 2026 di Tengah Kontroversi
-
Bukan Film Horor Biasa! Conjurig Tawarkan Sisi Lain Cosplayer Jalanan yang Penuh Air Mata
-
5 HP Rp3 Jutaan dengan Baterai Jumbo dan Performa Ngebut