Gimana rasanya ketika berada di situasi perut keroncongan tapi dikejar deadline? Bikin ingin nangis bahkan ngamuk sejadi-jadinya nggak sih?
Lapar tuh ternyata bukan hal sepele kalau diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari lho. It’s okay kalau kasusnya adalah sedang menjalani diet intermittent atau dalam ibadah puasa ya, tetapi di luar kegiatan tersebut, situasi lapar bisa memunculkan kondisi hangry yang bikin kita cosplay villain tersadis!
Hangry sendiri berasal dari kata hungry dan angry, di mana kondisi lapar mampu membuat seseorang marah dan ngamuk. Penelitian menunjukkan bahwa hal ini ada kaitannya dengan kadar gula yang menurun dalam jangka waktu cukup lama, sehingga merangsang produksi hormon adrenalin yang bertanggung jawab atas perubahan emosi menjadi lebih sensitif, kehilangan kontrol diri, dan marah sebagaimana mengutip Alodokter.
Dunia Kerja Menuntut Profesionalitas Tanpa Pandang Bulu
Ketika terjebak hangry, percayalah bahwa rasanya nggak enak. Mau maksa makan atau mengonsumsi camilan, ada saja kondisi yang nggak memungkinkan. Entah sedang melayani customer lah, sedang meeting, atau melakukan pekerjaan lain. Terlebih bila pekerjaan sampai menyita waktu istirahat, di mana seharusnya kita bisa mengisi asupan perut.
Namun sayangnya, dunia kerja adalah dunia yang menuntut keprofesionalitas yang mumpuni. Tanpa peduli apakah situasimu sedang lapar, bad mood, galau, atau habis putus. Intinya, tanggung jawab penuh.
Di situlah kadang hangry adalah ‘kutukan’ yang mengerikan. Ketika emosi naik berbarengan dengan rasa lapar, alhasil jadi uring-uringan. Saya sendiri beberapa kali harus menenangkan ego hangry lantaran pekerjaan menumpuk, dan nyambi melayani customer. Makanannya sudah tersaji, tapi kalah dengan tanggung jawab pekerjaan dan mengalah beberapa menit lagi.
Tips Mengatasi Hangry
Kala masih banyak pekerjaan yang belum kelar, saya pribadi tetap menyempatkan diri untuk mengisi perut. Tidak usah muluk-muluk nasi padang atau mie ayam ceker lah, minimal pesan roti atau snack ringan via Shopee Food dulu. Toh disambi bekerja juga, jadi produktivitas tetap lanjut.
Namun, ketika masuk jam istirahat, usahakan segera mencari makan supaya demonstrasi perut mereda. Kita tetaplah manusia yang butuh makan demi berduel dengan dunia. Jangan lupa asupan air minum yang cukup, dan sebisa mungkin hindari minuman kemasan yang memiliki perisa. Bukannya apa-apa, tetapi kandungan gula dan pengawetnya itu kurang baik kalau dikonsumsi terlalu sering.
Kalau memang sedang melakukan diet karbohidrat, tapi butuh asupan snack demi memutus kutukan ‘hangry’, kawan-kawan juga bisa mengonsumsi buah-buahan. Intinya, perut nggak kosong-kosong amat sehingga emosi yang seharusnya berkobar masih bisa ditahan.
Pada dasarnya, hangry merupakan kondisi umum yang bisa dialami oleh siapapun. Gabungan dari rasa lapar dan pergumulan emosi akibat suatu aktivitas, mampu membuat seseorang mengamuk karena hormon adrenalin yang dipompa pesat. Agaknya, benarlah keadaan lapar mampu mengubah kepribadian seseorang. Mereka yang biasanya tenang, ceria, dan kalem bisa ujug-ujug menjelma villain tanpa pandang bulu.
Lapar yang berujung hangry mampu membuat seseorang menggebrak meja, uring-uringan, mengomel sepanjang jalan Anyer-Panarukan, atau justru menangis tidak karuan. Namun percayalah, bahwa setelah mereka menuntaskan hajar perut yang meronta, mereka akan kembali menjadi pribadi yang tenang nan ceria.
Sebab, saya sendiri pernah uring-uringan tidak karuan, badan terasa lemas bak beban, dan segala sesuatu yang saya lakukan terasa tidak benar. Menaruh barang di tempatnya terasa salah, mengomeli tas yang jatuh karena salah peletakan, sampai berteriak macam orang kena gangguan. Tetapi setelah menyantap seporsi bakso lengkap dengan topping keripik pangsit dan es teh manis, seketika emosi padam. Kalau mengingat keabsurdan waktu itu, rasanya ingin kabur ke lubang semut deh.
So, pernahkah kawan-kawan berada di kondisi hangry sampai bikin malu kalau diingat-ingat sekarang?
Baca Juga
-
Fakta Unik Daun Salam: Bumbu Masakan Rumahan yang Jadi Simbol Berbagi di Pedesaan
-
Penyelamat Tanggal Tua! Ini Alasan Bayam Jadi Sayuran Wajib Buat 'Survive in This Economy'
-
Seni Mengenang dan Mengikhlaskan dalam Drama The Rainbow in Our Memory
-
Review Fatal Proximity to Him: Poster Bikin Kepincut, Eksekusi Agak Kecut
-
Don't Disturb Me Farming: Love-Hate yang Dibalut Pertanian dan Peternakan
Artikel Terkait
-
Jebakan Konsumerisme Digital: Di Balik Perilaku Cemas dan Lapar Mata Gen Z
-
Sering Ngidam Chicken Nugget tapi Lagi Sibuk? Ini Rahasia Mengatasinya Tanpa Ribet
-
Tempe Tak Hanya Jadi Lauk, Kini Dikembangkan Menjadi Camilan Tinggi Protein
-
Kenapa Perut Bunyi Padahal Tidak Lapar? Ini 6 Alasannya Secara Medis
-
Teman Nonton Bukan Sekadar Popcorn, Ada Camilan Renyah dengan Tiga Bentuk Sekaligus!
Kolom
-
489 Hektare Hutan Malang Selatan Hilang, Kini 63 Hektare Kembali Terancam
-
Bye-Bye Lapar Mata! Saat Pajak E-Commerce Bikin Anak Muda Otomatis Jadi Minimalis
-
Dari Bjorka ke Penyadapan Presiden, Seburuk Itukah Keamanan Data Negara?
-
Ironi Maskulinitas: Cowok Nangis Dibully, tapi Pelaku Catcalling Malah Dimaklumi?
-
Mengenal Gerakan #CuekinBuzzer: Jurus Netizen Bungkam Akun Provokator
Terkini
-
Fakta Unik Daun Salam: Bumbu Masakan Rumahan yang Jadi Simbol Berbagi di Pedesaan
-
PIH dan Kusam Auto Hempas! 4 Pelembap Pencerah Kemasan Tube Lebih Higienis
-
A Separation: Ketika Urusan Rumah Tangga, Agama, dan Kemiskinan Berubah Jadi Teror yang Nyata
-
Sweet Child O' Mine Guns N' Roses: Cinta Axl Rose dan Kenangan Masa Remaja
-
Sinopsis Rock Paper Landmine, Drama Misteri Jepang Mori Nana di Prime Video