Belakangan ini, linimasa media sosial Korea Selatan ramai membahas sesuatu yang sebenarnya bukan fenomena baru.
Perdebatan berawal dari kemenangan Heo Nam Jun yang menerima Special Award dari SBS berkat perannya sebagai Cha Se Gye dalam My Royal Nemesis.
Banyak netizen yang bertanya-tanya mengapa Lim Ji Yeon tidak ikut mendapat penghargaan, padahal sejak awal drama tersebut dipromosikan sebagai proyek yang bertumpu pada sang aktris. Ia bahkan memerankan dua karakter sekaligus dan menjadi pusat cerita.
Diskusi itu kemudian melebar ke contoh-contoh lain yang dianggap memiliki pola serupa. Lantas, benarkah ada standar ganda dalam cara publik dan industri memperlakukan aktor dan aktris?
Standar Ganda terhadap Aktris di Industri Drama Korea
Kasus Heo Nam Jun di My Royal Nemesis bukan satu-satunya yang memicu perdebatan. Sebelumnya, fenomena serupa juga sempat ramai dibahas lewat Lovely Runner.
Banyak penonton mengakui bahwa Kim Hye Yoon tampil luar biasa dan menjadi salah satu alasan utama drama tersebut berhasil mencuri hati penonton.
Namun, setelah drama berakhir, justru Byeon Woo Seok yang mengalami lonjakan popularitas paling besar. Wajahnya menghiasi berbagai iklan, menggelar fan meeting di berbagai negara, hingga menjadi salah satu aktor Korea yang paling banyak dibicarakan.
Sementara itu, Kim Hye Yoon memang mendapat banyak pujian atas aktingnya, tetapi gaung popularitasnya tidak sebesar lawan mainnya.
Melihat berbagai contoh tersebut, saya jadi penasaran, apakah ini hanya kebetulan, atau memang ada standar yang berbeda dalam cara industri hiburan dan publik memperlakukan aktor dan aktris?
Kasus My Royal Nemesis menjadi contoh yang cukup menarik. Kritik yang muncul bukan ditujukan kepada Heo Nam Jun. Justru banyak penggemar mengakui bahwa ia tampil baik dan layak mendapat apresiasi.
Netizen justru mempertanyakan mengapa Lim Ji Yeon seolah diabaikan, padahal sejak awal My Royal Nemesis dipromosikan sebagai proyek yang bertumpu pada karakternya. Alur cerita hingga konsep dramanya pun banyak berpusat pada sosok yang ia perankan.
Yang membuat perdebatan semakin besar adalah riwayat SBS sendiri. Dalam beberapa tahun terakhir, penghargaan Special Award hampir selalu diberikan kepada aktor atau aktris yang benar-benar menjadi wajah utama drama mereka.
Oleh karena itu, ketika Heo Nam Jun menerima penghargaan seorang diri, banyak penonton merasa keputusan tersebut tidak konsisten dengan pola sebelumnya.
Saat Drama Bermasalah, Aktris Lebih Mudah Disalahkan
Fenomena ini terasa semakin mencolok ketika melihat bagaimana publik bereaksi terhadap kesuksesan dan kegagalan sebuah drama. Saat dramanya berhasil, nama aktor lebih cepat melambung. Sebaliknya, ketika muncul kontroversi, aktris kerap menjadi sasaran kritik yang paling keras.
Contohnya terlihat pada kontroversi yang menimpa drama Perfect Crown. Ketika drama tersebut dikritik karena dianggap mendistorsi sejarah, IU menjadi salah satu sosok yang menerima gelombang kritik paling besar.
Padahal, sebuah drama merupakan hasil kerja yang melibatkan penulis naskah, sutradara, rumah produksi, hingga tim kreatif lainnya. Agak janggal jika membebankan seluruh kesalahan kepada satu orang, apalagi hanya karena ia merupakan pemeran utama perempuan.
Fenomena serupa juga sering terlihat di dunia idol K-pop. Idol perempuan kerap mendapat hujatan berkepanjangan karena kesalahan kecil.
Sebaliknya, tidak sedikit idol atau aktor pria yang mampu memulihkan citranya lebih cepat setelah tersandung kontroversi. Tentu tidak semua kasus bisa digeneralisasi, tetapi pola ini cukup sering muncul sehingga wajar jika banyak orang mulai mempertanyakannya.
Popularitas Ternyata Tidak Selalu Ditentukan oleh Akting
Saya rasa, masalah utamanya bukan terletak pada kemampuan akting. Kim Hye Yoon, Lim Ji Yeon, maupun banyak aktris Korea lainnya berkali-kali membuktikan kualitas mereka.
Namun, ketika bicara soal popularitas, industri hiburan tampaknya memiliki rumus yang berbeda. Pemeran pria lebih mudah diposisikan sebagai wajah utama yang selalu muncul di mana-mana.
Mungkin ada yang berpendapat bahwa ini murni soal pasar. Bahwa permintaan terhadap aktor pria memang lebih tinggi sehingga brand dan agensi mengikuti apa yang diinginkan publik.
Pendapat itu tentu ada benarnya. Namun, pasar juga dibentuk oleh kebiasaan industri, media, dan cara kita sebagai penonton memberikan perhatian.
Jika seorang aktris mampu menjadi tulang punggung sebuah drama, menghidupkan karakter, dan membawa cerita hingga sukses, bukankah ia juga layak menikmati sorotan yang sama besar?
Pertanyaan itu mungkin belum memiliki jawaban pasti, tetapi perdebatan yang kembali ramai di kalangan Knetz menunjukkan bahwa semakin banyak orang mulai menyadari adanya standar ganda di balik popularitas drama Korea.
Baca Juga
-
Delightfully Deceitful: Thriller Penuh Tipuan dengan Plot Twist Memuaskan
-
Politik Selebritas: Ketika Pejabat Dipuja Layaknya Artis Idola
-
Ulasan Cold Blooded Intern: Dilema Perempuan antara Karier dan Keluarga
-
Lagu 'Lalaki Langit' Bupati Purwakarta, Potret Seksisme yang Dinormalisasi
-
Fitur Username WhatsApp: Inovasi atau Sekadar Gimmick?
Artikel Terkait
Kolom
-
Pendidikan Tinggi Sedang Sekarat, Kenapa Negara Malah Sibuk Urus Makan Gratis?
-
Realita Validasi Digital: Mengapa Gen Z Semakin Sulit Lepas dari Layar?
-
Kenapa Salah Kita Terasa Masuk Akal, Tapi Salah Orang Sulit Dimaafkan?
-
Lelaki Adalah Anak-anak Berbadan Besar: Mengapa Layangan Jadi Alibi Utama Bapak-Bapak?
-
Fenomena Lucky Charm Saat Nonton Piala Dunia, Mitos atau Efek Psikologis?
Terkini
-
Bikin Bangga! 5 Film Horor Indonesia Ini Siap Guncang Panggung Internasional di BIFAN 2026
-
Bukan Lagi Fiksi Ilmiah, Taksi Tanpa Sopir Asal China Kini Siap Kuasai Jalanan
-
Dihentikan Prancis di 16 Besar, Paraguay Gagal Ulang Sejarah Tahun 2010
-
Harga Samsung Galaxy S Turun Harga! Ini 5 Flagship yang Wajib Dibeli
-
Masuk Nominasi Manga Terbaik, 'Soara and the House of Monsters' Resmi Dapatkan Adaptasi Anime