Membaca sering kali dianggap sebagai aktivitas yang menunjukkan kecerdasan. Karena itu, pilihan buku pun tidak jarang ikut dinilai. Ada buku yang dianggap berbobot dan layak dibaca, sementara bacaan ringan seperti novel populer, romance, atau cerita hiburan kerap dianggap kurang bergengsi dan kurang mencerdaskan.
Padahal, tidak semua orang membaca dengan tujuan yang sama. Ada yang mencari pengetahuan, ada yang ingin memahami perspektif baru, dan ada pula yang sekadar ingin menikmati cerita setelah menjalani hari yang melelahkan. Perbedaan tujuan tersebut membuat selera bacaan setiap orang tentu tidak bisa diseragamkan.
Namun, penilaian terhadap kualitas buku sering bergeser menjadi penilaian terhadap pembacanya. Dari sinilah muncul hierarki dalam selera bacaan. Lantas, mengapa bacaan yang dianggap ringan kerap ditempatkan lebih rendah daripada buku yang dianggap berbobot?
Kualitas Bukan Satu-satunya Ukuran
Ada anggapan bahwa buku yang baik harus meninggalkan sesuatu setelah selesai dibaca, misalnya pengetahuan baru atau sudut pandang yang berubah. Meski standar seperti ini tidak salah, kebutuhan pembaca tidak hanya tertuju pada hal-hal tersebut.
Ada pembaca yang memang membutuhkan bacaan ringan karena kepalanya sudah penuh dengan pekerjaan atau masalah hidup. Membaca cerita sederhana yang membuat kita tertawa atau ikut larut dalam kisah percintaan bisa menjadi bentuk healing yang sama bergunanya dengan membaca buku yang katanya "berbobot" itu.
Menurut saya, kita sering keliru melihat nilai sebuah buku. Kita terlalu fokus pada manfaat yang bisa kita tunjukkan setelah selesai membaca, seperti bertambahnya pengetahuan atau wawasan.
Padahal, buku juga bisa memberi hal sederhana yang tidak kalah berarti, seperti membuat kita rileks, menemani di tengah masa sulit, atau sekadar mengisi waktu luang dengan sesuatu yang menyenangkan. Sama seperti film atau musik, ada karya yang dibuat untuk membuat kita berpikir, tetapi ada juga yang memang ditujukan untuk menghibur.
Dari Selera Menjadi Simbol Kecerdasan
Membaca sering dikaitkan dengan kecerdasan. Orang yang banyak membaca kerap dianggap lebih berpengetahuan. Anggapan ini memang tidak sepenuhnya salah, tetapi bisa keliru jika pilihan buku kemudian dipakai untuk menilai seseorang.
Akhirnya, muncul keinginan untuk menunjukkan bahwa kita membaca buku yang “serius”. Membaca karya sastra klasik, filsafat, atau buku self improvement bisa membuat seseorang terlihat lebih intelek. Sebaliknya, mengaku sedang membaca novel romantis atau buku humor kadang terasa dianggap memiliki selera bacaan yang rendah.
Selera bacaan sebenarnya terbentuk dari banyak hal, mulai dari pengalaman, lingkungan, sampai fase hidup seseorang. Buku yang terasa menarik bagi satu orang belum tentu memberikan pengalaman yang sama bagi orang lain. Oleh karena itu, sulit rasanya menjadikan satu standar bacaan sebagai patokan untuk menentukan mana selera yang lebih baik.
Membaca Tak Perlu Punya Kasta
Fenomena kasta dalam bacaan ini juga terasa semakin janggal jika dikaitkan dengan upaya meningkatkan minat baca. Akibatnya, kegiatan membaca yang seharusnya menyenangkan malah bisa terasa seperti aktivitas yang penuh tekanan. Orang jadi takut dihakimi hanya gara-gara membaca buku yang dianggap "buku jelek".
Setiap orang punya perjalanan membaca yang berbeda. Oleh karena itu, tidak ada alasan untuk mengharapkan semua orang memulai dari buku yang sama atau memiliki selera yang seragam.
Bahkan, buku yang disebut sebagai "buku jelek" bisa menjadi langkah awal yang membuat seseorang mulai menikmati membaca. Dari satu cerita, ia mungkin tertarik mencoba genre lain, mengenal penulis baru, hingga perlahan menemukan seleranya sendiri.
Saya rasa kita tidak perlu terlalu serius menentukan bacaan mana yang paling layak. Kritik terhadap buku tetap penting, tetapi selera orang lain bukan sesuatu yang harus kita benahi. Biarkan orang menikmati bukunya masing-masing, selama tidak merugikan orang lain.
Baca Juga
-
Ibu Baru dan Insecurity: Celah Marketing di Tengah Kecemasan Parenting
-
Istana Berpesta, Rakyat Berduka: Ironi Kemerdekaan di Tengah Bencana
-
Ulasan Drama Mother and Mom: Kritik terhadap Obsesi Menjadi Ibu Ideal
-
Ironi di Negeri Tropis: Buah Melimpah, Harga Tak Ramah
-
The Dream Life of Mr. Kim: Sisi Rentan Pekerja Senior di Dunia Korporat
Artikel Terkait
Kolom
-
Menimbang Operasional Koperasi: Cukup dengan Modal vs Model Bisnis Matang
-
Dari Tiang Bambu hingga Merah Putih, Kisah Kecil di Balik Momen Kemerdekaan
-
Dua Pria di Satu Atap: Mengurai Jarak dan Gengsi Antara Anak dan Ayah
-
Saat Jaket Hijau Hormat Bendera: Keringat Ojol dan Isu Kesejahteraan
-
Apa Arti Merdeka bagi Kita yang Masih Takut Memilih?
Terkini
-
Masjid Agung An-Nur Pare, Bangunan Modern yang Kental dengan Arsitektur Jawa
-
Pulang dan Kisah Eksil yang Tak Pernah Benar-Benar Selesai
-
Review Coin Locker Babies: Dari Pengabaian Masa Kecil hingga Teror Kehancuran
-
Satu Tumbler, Satu Pilihan untuk Mengurangi Sampah
-
5 Pilihan Hair Mist Bikin Rambut Segar dan Bebas Bau Matahari