Sekar Anindyah Lamase | Dini Sukmaningtyas
Ilustrasi pekerja kantoran (magnific)
Dini Sukmaningtyas

Kerja full time sering dianggap sebagai standar minimal untuk bisa hidup layak. Tapi di Indonesia, standar itu tidak selalu sejalan dengan realita.

Banyak pekerja yang sudah bekerja penuh waktu, namun masih harus berjuang untuk memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari.

Kalau dilihat lebih jauh, kondisi ini tidak bisa hanya disalahkan pada cara seseorang mengatur uang atau gaya hidupnya.

Ada tekanan ekonomi yang membuat banyak pekerja berada dalam situasi serba terbatas. Gaji yang didapat biasanya hanya cukup untuk kebutuhan utama, tanpa banyak sisa untuk hal lain.

Lantas, di mana sebenarnya letak masalah ketika kerja penuh waktu tidak lagi menjamin kebutuhan dasar terpenuhi?

Gaji yang Hanya Cukup untuk Bertahan Hidup

Salah satu hal yang paling nyata dari kondisi kelas pekerja saat ini gaji yang sering kali hanya cukup untuk bertahan hidup.

Sebagian besar pendapatan habis untuk makan, kos, transportasi, listrik, dan kebutuhan dasar lain. Setelah itu, tidak banyak yang tersisa, bahkan sekadar untuk menabung pun tidak ada sama sekali.

Dalam situasi seperti ini, hidup tidak lagi punya ruang untuk berkembang. Tidak ada dana darurat, tidak ada tabungan jangka panjang, bahkan hal-hal kecil seperti memperbaiki barang rusak bisa menjadi beban besar.

Semua harus dihitung dengan sangat ketat, dan sedikit saja ada pengeluaran tak terduga, seluruh kondisi keuangan bisa langsung goyah.

Pekerja Underpaid dan Hilangnya Ruang untuk Memilih

Kenyataannya, banyak orang tidak punya banyak pilihan selain menerima pekerjaan dengan upah rendah. Ada satu kalimat yang sering saya dengar dari beberapa orang yang rela digaji rendah. Mereka terpaksa menjalani pekerjaan tersebut karena “daripada nganggur.”

Dalam kondisi lapangan kerja yang terbatas, orang tidak benar-benar berada dalam posisi untuk menawar. Ketika kebutuhan hidup sudah mendesak, pilihan menjadi sangat sempit.

Ironisnya, kondisi ini sering dianggap sebagai akibat dari kurangnya kemampuan mengatur uang atau kurangnya usaha. Padahal, masalah utamanya ada pada sistem yang membuat pendapatan tidak seimbang dengan biaya hidup yang terus meningkat.

Normalisasi Upah Rendah yang Tidak Disadari

Hal yang paling mengkhawatirkan menurut saya bukan hanya upah rendah itu sendiri, tetapi bagaimana para pemberi kerja maupun pekerja mulai menganggapnya normal.

Gaji Rp2 juta, bahkan di beberapa daerah lebih rendah dari itu, sering kali masih dianggap wajar selama masih bisa makan dan bertahan hidup.

Lama-kelamaan, standar hidup kita bergeser tanpa sadar. Kita berhenti mempertanyakan apakah ini cukup, karena terlalu sering dipaksa untuk bersyukur atas apa yang ada.

Posisi Tawar Pekerja yang Semakin Lemah

Saya juga melihat bagaimana posisi tawar pekerja semakin lemah. Banyaknya pencari kerja dibandingkan dengan lapangan kerja yang tersedia membuat orang sulit untuk menolak tawaran, bahkan ketika upahnya tidak ideal.

Kondisi ini membuat negosiasi upah menjadi sesuatu yang sangat terbatas. Pekerja berada dalam posisi yang tertekan dan menerima pekerjaan apa pun menjadi strategi bertahan, meskipun tidak banyak mengubah kondisi hidup.

Menurut saya, inilah potret kelas pekerja Indonesia sampai hari ini. Banyak orang yang sudah bekerja penuh waktu, tapi tetap hidup dalam mode survival.

Kita hidup di zaman di mana kerja keras tidak lagi menjamin hidup enak, tapi tetap diminta bersyukur. Padahal, kalau kerja penuh waktu saja masih tidak cukup untuk hidup, yang harus dievaluasi bukan pekerjanya. Tapi entah kenapa, evaluasi itu jarang sampai ke sana.